Modest Style

Perkosaan Perempuan Sebagai Senjata dalam Perang Suriah

,
Para pengungsi perempuan Suriah-Kurdi duduk di dalam tenda yang disediakan oleh United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) di kamp pengungsian Quru Gusik (Kawergosk), 20 kilometer arah timur dari Arbil, ibukota wilayah otonomi Kurdi dari sebelah utara Irak, pada 10 Oktober 2013. AFP PHOTO / SAFIN HAMED
Para pengungsi perempuan Suriah-Kurdi duduk di dalam tenda yang disediakan oleh United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR) di kamp pengungsian Quru Gusik (Kawergosk), 20 kilometer arah timur dari Arbil, ibukota wilayah otonomi Kurdi dari sebelah utara Irak, pada 10 Oktober 2013. AFP PHOTO / SAFIN HAMED

BEIRUT, 25 November 2013 (AFP) – Para perempuan di Suriah mengalami perkosaan dalam tahanan, digunakan sebagai tameng-manusia dalam masa operasi militer dan penculikan untuk menekan dan mempermalukan anggota keluarga, sebuah laporan terbaru disampaikan pada hari Senin.

“Perlakuan kejam terhadap perempuan (telah dimanfaatkan sebagai) taktik yang direncanakan untuk mengalahkan pihak lawan dari perspektif simbolis dan psikologis, menjadikan perempuan sebagai target empuk semasa konflik berkecamuk,” ungkap sebuah laporan yang dipublikasikan oleh Euro-Mediterranean Human Rights Network.

Diterbitkan pada International Day to End Violence Against Women, laporan itu menyebutkan peperangan brutal di Suriah “menciptakan sebuah kondisi yang tepat untuk melakukan kekerasan terhadap perempuan, termasuk kekerasan seksual.”

Laporan tersebut mengatakan pemerkosaan terdokumentasi dalam tujuh provinsi, termasuk Damaskus, kebanyakan “sepanjang penggerebekan oleh pasukan pemerintah, di pos-pos pemeriksaan dan dalam fasilitas penjara.”

Tersebut di dalamnya yaitu seorang perempuan yang diidentifikasi sebagai Aida, usia 19 tahun dari Tartus di pesisir Suriah, dengan keluarga yang dekat dengan kelompok anti-rezim Persaudaraan Muslim (Al-Ikhwan Al-Muslimun).

Ia menjalani hukuman antara Oktober 2012 – Januari 2013 dan sepanjang periode itu telah mengalami pemerkosaan dalam dua kejadian yang berbeda, termasuk oleh tiga tentara sehari sebelum sidang-dengar.

“Penginterogasi meninggalkan saya dalam ruangan dan kembali bersama tiga orang petugas yang bergantian memperkosa saya. Saya melawan dengan sengit aksi yang pertama namun saat yang kedua dimulai, saya menjadi sangat ketakutan dan tak mampu melawan,” dikutip dari pernyataannya.

“Saat aksi ketiga dimulai, saya tak sadarkan diri. Saya mengalami pendarahan sepanjang kejadian. Setelah aksi terakhir selesai, saya jatuh terhempas ke lantai. Sepuluh menit kemudian, dokter penjara datang dan membawa saya ke kamar mandi di mana ia memberikan saya injeksi yang membuat saya kuat hadir di hadapan hakim,” paparnya.

Laporan tersebut menyampaikan bahwa pemerkosaan seringkali digunakan oleh kekuatan rezim sebagai senjata dalam operasi-operasi militer. Laporan ini mengutip sebuah kasus yang terjadi di provinsi Hom, di mana gadis kecil berusia sembilan tahun diperkosa di depan keluarganya oleh pasukan pemerintah di distrik Baba Amr pada bulan Maret 2012.

Laporan tersebut menyatakan adanya kesulitan dalam mendokumentasikan tindak pemerkosaan dikarenakan stigma yang menempel pada kekerasan seksual.

“Banyak korban dari kekerasan seksual – jika bukan kebanyakan dari mereka – memilih atau dipaksa untuk meninggalkan kampung halaman mereka, membawa jejak fisik dan (psikologis) ke negara tujuan suaka mereka,” demikian disebutkan.

Para pengamat juga mendokumentasikan pemanfaatan para perempuan sebagai perisai-manusia, dan “fenomena yang berkembang” tentang penculikan perempuan baik oleh pihak rezim dan pasukan oposisi.

Disebutkan bahwa perempuan seringkali diculik untuk dimanfaatkan dalam pertukaran tawanan atau “untuk menekan kerabat laki-lakinya untuk menyerah,” kelompok pengamat itu menyampaikan.

Dalam laporan dikutip pernyataan Syrian Network for Human Rights yang menyebutkan bahwa antara Desember dan Mei 2012, didokumentasikan terdapat kasus sebanyak 125 perempuan dan dua kanak-kanak yang disandera dengan cara serupa.

Perang Suriah telah menewaskan lebih dari 120.000 jiwa dan memaksa jutaan lainnya untuk melarikan diri.

Dari mereka yang menjadi pengungsi, tiga perempatnya adalah perempuan dan anak-anak, demikian diulas oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Leave a Reply
<Modest Style