Modest Style

Perkawinan Paksa Usia Belia Hantui Pengungsi Suriah di Yordania

,
Seorang pengungsi Suriah berdiri di pintu masuk rumahnya di kamp pengungsi Zaatari, Yordania utara pada 18 Mei 2013. AFP PHOTO/KHALIL MAZRAAWI
Seorang pengungsi Suriah berdiri di pintu masuk rumahnya di kamp pengungsi Zaatari, Yordania utara pada 18 Mei 2013. AFP PHOTO/KHALIL MAZRAAWI

KAMP PENGUNGSI ZAATARI, 12 Juni 2013. Oleh Kamal Taha (AFP) – Konflik di Suriah yang belum menunjukkan tanda-tanda akan berakhir membuat beberapa pengungsi di Yordania menawarkan anak-anak perempuan mereka untuk dikawini dini dengan harapan dapat melindungi mereka dari tekanan ekonomi yang semakin berat.

Pengungsi Suriah Abu Mohammad mengatakan ia terpaksa mengawinkan putrinya dengan seorang pria Saudi kaya berusia 40 tahun karena mengharapkan kehidupan anak perempuannya lebih baik serta meringankan kesulitan keuangan keluarga mereka.

‘Itu (menikahkan putrinya) adalah hal terakhir yang ingin saya lakukan,’ kata Abu Mohammad, 50, kepada AFP di luar tendanya di kamp pengungsi Zaatari yang menampung lebih dari 160 ribu warga Suriah – setara dengan penduduk kota terbesar kelima di Yordania.

‘Kami sekarang tinggal di penjara besar. Kondisinya tak tertahankan,’ kata Abu Mohammad.

Ayah enam anak ini mengatakan bahwa setelah menikah tiga bulan lalu pria Saudi yang menjadi suami anaknya itu ‘berjanji membantu kami sampai krisis berakhir dan kami kembali ke Suriah.’

‘Hanya Tuhan yang tahu kapan itu akan terjadi,’ katanya.

Dominique Hyde, perwakilan UNICEF di Yordania, mengatakan tidak jelas seberapa marak perkawinan dini itu berlangsung di kamp-kamp Zaatari, tapi ada tanda-tanda hal ini terjadi.

‘Dari informasi yang kami kumpulkan selama proses pemantauan mengungkapkan adanya insiden kawin paksa dan perkawinan dini,’ katanya.

‘Kawin paksa dan perkawinan dini adalah masalah hak asasi manusia dan kesehatan masyarakat.’

Menurut Menteri Dalam Negeri Hussein Majali, pihak berwenang telah mencatat 1.029 pernikahan antara pria Yordania dan wanita Suriah sejak pengungsi mulai berdatangan ke kerajaan ini pada tahun 2011.

‘Para pria non-Yordania telah menikahi 331 wanita Suriah. Angka-angka ini masih dalam batas normal,’ kata Majali.

Yordania menampung setidaknya 500 ribu warga Suriah. Lebih dari 70 persen pengungsi adalah perempuan dan anak-anak, menurut data PBB.

‘Orang Yordania dan Arab lainnya sering datang untuk menanyakan tentang pengungsi wanita Suriah untuk dikawini,’ kata Fares Hosha, mantan pegawai kantor pos berusia 42 tahun yang kini memiliki toko perabotan rumah tangga.

‘Dua orang dari luar Zaatari baru-baru ini mengajukan pertanyaan yang sama. Salah satu pelanggan saya mengatakan kepada mereka ia memiliki dua anak perempuan. Ketiganya meninggalkan toko bersama-sama dan saya tidak tahu apa yang terjadi kemudian.’

Menurut Hosha, pengungsi menerima kondisi ‘pernikahan mendesak tanpa syarat karena mereka mencemaskan masa depan dan ingin memastikan anak-anak perempuan mereka aman.’

‘Perbudakan Terselubung dan Perdagangan Seks’

Dua anak perempuan Said, berusia 15 dan 16 tahun, menikah sebulan yang lalu.

‘Saya penganggur, lumpuh, dan saya tidak bisa menafkahi keluarga saya,’ kata ayah 10 anak ini.

‘Apa yang bisa saya lakukan? Kamp ini tempat yang berbahaya dan saya mengkhawatirkan anak-anak saya. Saya merasa pernikahan adalah solusinya.’

Hukum Yordania memungkinkan perempuan di bawah usia 18 tahun untuk menikah dengan persetujuan pengadilan.

Jika pengadilan menganggap pernikahan itu demi kebaikan si gadis, ia boleh menikah di usia 15 tahun. UNICEF telah mengimbau pengadilan untuk menegakkan hukum batas usia untuk menikah minimal 18 tahun bagi laki-laki dan perempuan.

Zayed Hammad, kepala Lembaga Kitab dan Sunnah yang memberikan bantuan kepada puluhan ribu pengungsi mengatakan, badan amalnya menerima puluhan permintaan bantuan dari pria untuk menemukan calon istri di Zaatari.

‘Kami adalah organisasi penyalur bantuan dan kami ingin fokus pada pekerjaan kami. Kami tidak ingin terlibat dalam hal yang bisa menimbulkan masalah ini,’ katanya kepada AFP.

Di jalan utama Zaatari, Abu Ahmad membuka toko perlengkapan pengantin enam bulan lalu.

‘Ketika saya datang ke sini, saya merasa membuka toko ini sebagai ide cemerlang,’ kata pria berjanggut berumur 40 tahunan ini, selagi sepasang calon pengantin memilih-milih gaun pengantin.

Pasangan itu menolak diwawancarai AFP.

‘Setiap hari saya menyewakan setidaknya satu gaun pengantin dengan harga 20 dinar Yordania (Rp 280 ribu).’

Hyde menyebutkan rentannya kaum perempuan, terutama di tengah-tengah kondisi kamp pengungsi yang carut-marut. ‘Dalam semua keadaan darurat kita tahu bahwa risiko eksploitasi terhadap perempuan dan anak perempuan meningkat,’ katanya.

‘Menurut warga Suriah, meskipun perkawinan dini merupakan hal yang umum di Suriah sebelum krisis, tapi kini praktik ini berubah sejak mereka datang ke Yordania. Yang paling utama, dalam hal kesenjangan usia suami-istri yang sangat lebar.’

Sekelompok aktivis Suriah, yang menyebut diri mereka Gerakan Nasional Perlindungan Perempuan Suriah, berusaha memerangi praktik perkawinan macam ini. Mereka membuat sebuah halaman di Facebook yang memiliki lebih dari 20.000 pengikut.

‘Perempuan Suriah bukan budak. Kita tidak bisa tinggal diam atas perbudakan terselubung dan perdagangan seks,’ kata mereka pada halaman tersebut.

‘Permintaan perkawinan oleh orang-orang Arab dari Teluk dan daerah-daerah lainnya didorong oleh murni naluri seksual.’

Beberapa pengungsi Suriah membela perkawinan dini.

Mantan pejabat keamanan Said Hariri, 60, mengatakan perkawinan dini sebagai hal yang lazim.

‘Dalam tradisi kami, wajar jika seorang gadis menikah pada usia 16. Jika seorang gadis berumur 20 tahun dan masih lajang, dia disebut perawan tua,’ katanya.

‘Saya menikah ketika saya berumur 17. Anda harus paham mengapa sebagian orangtua memutuskan untuk menikahkan anak perempuan mereka pada usia muda, terutama dalam situasi kami saat ini.’

Tapi Hyde tidak setuju.

‘Apapun konteksnya, eksploitasi seperti ini memangsa kaum yang paling rentan dan tidak dapat diterima,’ katanya.

Leave a Reply
<Modest Style