Modest Style

Pergi ke Masjid… Atau Tidak?

,

Mengapa perempuan diberi ruang di beberapa masjid, sementara di masjid lain benar-benar dilarang masuk? Sahar Deshmukh mengamati alasannya lebih dekat.

[Not a valid template]

Saya lahir di Jeddah, Arab Saudi, hanya beberapa jam jaraknya dari dua kota suci Mekkah dan Madinah. Setelah tinggal di sana selama beberapa waktu selama masa kanak-kanak, saya terbiasa dengan konsep perempuan shalat di masjid. Pada saat saya berusia antara lima dan delapan tahun, keluarga saya pindah ke Mumbai, India – sebuah kota di mana perempuan shalat di rumah sementara hanya pria yang pergi ke masjid. Kemudian pada usia 11 tahun, keluarga saya pindah ke Kanada. Sepanjang 14 tahun saya bermukim di Kanada, kami telah mengunjungi masjid setempat untuk shalat Jumat dan shalat Ied, dan shalat tarawih di bulan Ramadhan.

Selama dua tahun terakhir, saya tinggal di Inggris dengan suami saya dan jauh dari keluarga saya. Meskipun tidak memiliki teman atau anggota keluarga untuk menemani saya ke masjid, saya bisa ikut suami saya kapan saja saya sempat. Entah itu Idul Fitri atau hari libur pada hari Jumat, saya menyempatkan diri untuk shalat bersebelahan dengan para perempuan lain yang menikmati pengalaman ini seperti halnya yang saya lakukan.

Ada sesuatu terkait shalat di masjid yang sangat memuaskan bagi saya. Di rumah, saya mudah terganggu oleh miliaran hal yang harus saya lakukan. Di masjid, ada ketenangan –  di luar obrolan atau teriakan anak-anak – yang tidak ada di rumah. Saya menemukan diri saya lebih khusyuk dan lebih dekat kepada Allah ketika saya di masjid.

Di beberapa tempat di dunia, perempuan diimbau untuk shalat di rumah. Beberapa menyatakan bahwa ini untuk kebaikan si perempuan sendiri sehingga mereka tidak merasa wajib pergi ke masjid di luar tanggung jawab rumah tangga mereka, atau bahwa ini mencegah terjadinya hal yang tidak Islami seperti percampuran laki-laki dan perempuan.

Menurut Islamic Research Foundation, tidak ada ayat dalam Al Qur’an atau satu pun hadits sahih yang melarang perempuan shalat berjamaah di masjid. [i] Bahkan, Nabi Muhammad (saw) diriwayatkan berkata, ‘Jangan mencegah perempuan hamba Allah pergi ke masjid Allah. ‘[ii] Suami seharusnya tidak menghalangi keinginan istri mereka untuk pergi ke masjid. Bahkan selama masa Nabi (saw), pria, perempuan, dan anak-anak semua berkumpul di masjid.

Namun di negara-negara seperti India, banyak perempuan tidak memiliki akses ke masjid. Masjid dekat rumah kakek-nenek saya di Mumbai tidak memiliki ruang shalat untuk perempuan. Sebelum pernikahan saya di India, saya ingat mengusulkan untuk melaksanakan akad nikah di masjid. Betapa kecewa saya ketika diberi tahu hal itu tidak mungkin karena ‘di sini perempuan tidak boleh pergi ke masjid’.

Pelarangan ini berasal dari pemahaman bahwa perempuan lebih baik shalat di rumah. Pemahaman ini didasarkan pada sebuah ayat dalam Al-Qur’an yang memerintahkan istri-istri Nabi (saw) untuk shalat di rumah mereka (33:33), di samping beberapa hadits. Dalam konteks itu, khalifah kedua Umar bin al-Khattab merasa bahwa wanita di masanya tidak lagi menjalankan aturan seperti menutupi tubuh mereka dan tidak berbaur dengan lawan jenis dibandingkan dengan zaman Nabi (saw), jadi dia khawatir hal tersebut akan menyebabkan fitnah, atau kekacauan seksual. Dia kemudian memutuskan untuk mencegah perempuan shalat di masjid mengingat bahwa Nabi (saw) telah diriwayatkan menyatakan lebih baik bagi perempuan untuk shalat di rumah.

Pemikiran yang menyatakan kehadiran perempuan dalam masjid menyebabkan fitnah adalah pemikiran yang tidak bisa dicerna sebagian perempuan. Sebagai contoh, bloger Kanada terkenal Wood Turtle menulis bahwa penafsiran seperti itu membuat perempuan dalam posisi sulit.

‘Ketika wanita disingkirkan, kita dilupakan. Ketika kita dilupakan, maka wajar saja masjid menyediakan ruang shalat yang kecil untuk perempuan tanpa memprioritaskannya… Anak-anak dibesarkan tanpa kebiasaan mendatangi masjid. Perempuan percaya bahwa mereka tidak harus mendatangi masjid. Interpretasi pria mengukuhkan ini. Lebih banyak masjid yang dibangun tanpa ruang shalat bagi perempuan. Dan yang lebih buruk dari semuanya, pembenaran untuk menyingkirkan perempuan dikaitkan dengan tubuhnya dan kemampuan pria dalam mengelola pikiran seksual mereka sendiri. “[iii]

Masalah yang sedang berlangsung yang banyak dihadapi perempuan muslim dalam kaitannya dengan masjid adalah jenis ruang yang disediakan bagi mereka untuk shalat dan bagaimana hal ini mencerminkan posisi mereka dan kekuatan tawar-menawar mereka dalam lembaga tersebut.

Bagi Hadia Mubarak, seorang mahasiswa doktoral di Departemen Studi Islam Georgetown University, kehadiran perempuan di masjid dan keikutsertaannya sebagai pengurus takmir sangat penting. Ketika ia pindah ke Tallahassee, Florida dari Panama City, ia kecewa melihat kurangnya keterlibatan perempuan di masjid setempat dan buruknya pengaturan bagi perempuan untuk shalat. Ia mendorong para perempuan untuk merebut kembali hak-hak yang diberikan Islam kepada mereka untuk mengambil bagian dalam urusan masjid, yang pada gilirannya akan memungkinkan mereka untuk menikmati ruang yang memadai dan setara dengan laki-laki. Tanpa partisipasi tersebut, suara perempuan tidak akan didengar dan kebutuhan mereka tidak akan dihiraukan. [iv]

Sementara masalah ruang penting untuk sebagian perempuan, untuk sebagian yang lain masalahnya terletak pada pembatas yang memisahkan mereka dari kaum Adam dan membuat mereka merasa seperti warga negara kelas dua.

Adalah Asra Nomani, pengacara yang memperjuangkan ruang tunggal untuk laki-laki dan perempuan, yang juga mantan reporter Wall Street Journal dan penulis buku Standing Alone: An American Woman’s Struggle for the Soul of Islam. Asra menggugat pihak masjid di kota kelahirannya Morgantown, West Virginia terkait akses perempuan ke masjid. Dia menyuarakan opininya bagi perempuan supaya diizinkan di ruang shalat utama, atas hak mereka untuk memimpin shalat dan berdiri berdampingan dengan laki-laki saat shalat.

Dalam sebuah wawancara dengan Washington Post, Asra mengatakan, ‘Masjid dirancang seperti klub laki-laki… Saya hanya ingin mereka menganggap perempuan sebagai manusia. Jangan menyisihkan kami. Saya ingin dunia muslim untuk bergerak maju ke abad ke-21 dan tidak memisahkan kami dalam ghetto perempuan. ‘[v]

Ruang shalat yang lebih kecil dan fasilitas yang tidak memadai adalah kenyataan di banyak masjid, maka perempuan harus bersuara untuk perbaikan. Tetapi dalam catatan pribadi saya, saya tidak peduli apakah saya shalat di belakang sebuah partisi atau tidak. Selama saya bisa mendengar imam dan mengikutinya, saya tidak mempermasalahkan untuk shalat di belakang pembatas atau dinding.

Bukankah inti berada di masjid adalah untuk meraih kekhusyukan pada shalat? Mengapa harus shalat di ruang shalat utama masjid di hadapan laki-laki? Bukankah area perempuan juga merupakan bagian dari masjid?

Kita semua memiliki preferensi masing-masing, tapi mari kita tidak melupakan mengapa kita pergi ke masjid. Setiap orang harus memiliki akses ke sana tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau keyakinan. Pergilah ke masjid jika Anda menginginkannya, terutama selama Ramadhan. Kegiatan ini dapat mengisi Anda dengan rasa damai dan yang paling penting, inilah kesempatan Anda untuk berada di tengah sesama muslim yang memiliki iman yang sama seperti Anda.

Semua foto oleh Sya Taha

 

[ i ] Islamic Research Foundation, ‘Women in the Mosque’, dapat dibaca di sini

[ii] Diriwayatkan oleh Ibn Umar, dalam Sahih Muslim, dapat dibaca di sini

[iii] Wood Turtle, ‘Telling Women Where to Pray’, dapat dibaca di sini

[iv] Hadia Mubarak, ‘Real Indicators of Female Empowerment: Women’s Space and Status in American Mosques’, dapat dibaca di sini.

[v] Teresa Wiltz, ‘The Woman Who Went To the Front of the Mosque’, dapat dibaca di sini.

Leave a Reply
<Modest Style