Modest Style

Perempuan Sudan Terancam Dicambuk Jika Tak Kerudungi Rambut

,
Amira Osman Hamed dari Sudan berbicara dengan seorang wartawan AFP dalam sebuah wawancara di Khartoum pada 8 September 2013. AFP Photo/Ashraf Shazly
Amira Osman Hamed dari Sudan berbicara dengan seorang wartawan AFP dalam sebuah wawancara di Khartoum pada 8 September 2013. AFP Photo/Ashraf Shazly

KHARTOUM, 8 September 2013. Oleh Ian Timberlake (AFP) — Seorang wanita Sudan mengatakan siap dicambuk demi membela hak untuk membiarkan rambutnya terbuka untuk menentang apa yang dia sebut sebagai hukum mirip ‘Taliban’.

Amira Osman Hamed menghadapi risiko dicambuk jika terbukti bersalah di pengadilan yang kemungkinan digelar pada tanggal 19 September.

Menurut hukum Sudan, rambutnya — dan rambut semua perempuan — seharusnya ditutupi dengan kerudung. Tapi Hamed, 35, menolak memakainya.

Kasusnya telah menarik simpati aktivis hak-hak sipil dan menjadi kasus terbaru yang menyorot rangkaian undang-undang Sudan yang mengatur moralitas. Hukum ini berlaku setelah kudeta oleh Presiden Omar al-Bashir tahun 1989 yang didukung kelompok Islamis.

‘Mereka ingin kita menjadi seperti wanita Taliban,’ kata Hamed dalam sebuah wawancara dengan AFP, mengacu pada gerakan militan fundamentalis di Afghanistan.

Dia dijerat pasal 152 yang melarang pakaian ‘tidak senonoh’.

Aktivis mengatakan undang-undang dengan kata-kata yang samar ini menjadikan perempuan sebagai sasaran pelecehan polisi dan secara tidak proporsional mengincar kaum miskin dalam upaya untuk menjaga ‘ketertiban umum’.

‘Undang-undang ketertiban umum ini mengubah status wanita Sudan dari korban menjadi penjahat,’ kata Hamed, seorang insinyur komputer yang telah bercerai dan kini menjalankan perusahaannya sendiri.

‘Hukum ini membidik martabat orang Sudan.’

Hamed mengatakan ia sedang mengunjungi kantor pemerintah di Jebel Aulia, di luar wilayah Khartoum, pada 27 Agustus ketika seorang polisi dengan agresif menyuruhnya untuk menutupi kepalanya.

‘Dia (polisi itu) berkata, ‘Kau bukan orang Sudan. Agamamu apa?”

‘Saya orang Sudan. Saya muslim, dan saya tidak akan menutupi kepala saya,’ jawab Hamed.

Rambutnya yang hitam dengan semburat emas dikepang erat melekat di kulit kepalanya dengan seberkas ikal di bagian belakang.

Hamed mengatakan dia ditahan selama beberapa jam, didakwa, dan kemudian dilepas dengan uang jaminan.

Pada penampilan pertamanya di pengadilan pada 1 September, ketika kasus itu akhirnya ditunda hingga akhir bulan ini, sekitar 100 wanita dan beberapa pria berkumpul untuk mendukungnya.

Banyak dari perempuan yang berunjuk rasa tidak menutupi kepala mereka, seperti Hamed yang mengatakan dia ‘tidak akan pernah’ memakai kerudung.

‘Banyak wanita yang memakai kerudung karena mereka takut, bukan karena mereka ingin,’ kata Hamed, yang diwawancarai di rumah keluarganya dan mengenakan jins biru yang bisa membuatnya mendapat masalah jika dia memakainya di luar rumah.

Hamed didakwa pada tahun 2002 karena memakai celana panjang tetapi seorang pengacara membantunya bebas hanya dengan membayar denda, alih-alih hukuman cambuk.

Kebanyakan wanita tidak memiliki akses ke bantuan hukum dan terlalu malu untuk memberitahu keluarga mereka tentang penangkapan mereka di bawah undang-undang moralitas, sehingga mereka tergantung pada belas kasihan pengadilan dan rentan terhadap pelecehan seksual oleh polisi, katanya.

‘Setiap hari, wanita Sudan dicambuk di pengadilan di bawah undang-undang ini.’

Pada tahun 2009, kasus wartawan Lubna Ahmed al-Hussein menyebabkan kemarahan global dan hak-hak perempuan di Sudan pun tersorot.

Hussein didenda karena memakai celana panjang di depan umum tapi dia menolak untuk membayar denda. Dia menghabiskan satu hari di balik jeruji besi sampai Serikat Wartawan Sudan membayar denda untuk dirinya.

Para wanita lain yang ditangkap bersama dia di sebuah restoran dicambuk.

‘Kau pelacur. Kau ingin para pria menidurimu. Itulah mengapa kau berpakaian seperti ini,’ wanita lain, yang telah ditahan dua kali di Khartoum, mengingat kata-kata polisi kepadanya.

‘Ini sangat memalukan,’ kata wanita itu, seorang pekerja profesional yang meminta disebut sebagai Rania saja.

Dia mengatakan kepada AFP dia ditahan tapi tidak didenda, yang pertama karena tidak menutupi rambutnya dan kedua kalinya karena mengenakan celana panjang.

‘Mengapa wanita di Sudan tidak boleh memiliki hak untuk memutuskan apa yang ingin mereka pakai, apakah mereka ingin berkerudung atau tidak?’ tanya Rania .

Dia dan Hamed mengatakan penerapan hukum ini tidak merata, karena di restoran kelas atas perempuan dapat membiarkan rambut mereka terbuka tanpa risiko ditangkap.

Juru bicara kepolisian nasional Sudan tidak bisa dihubungi pada hari Minggu untuk dimintai komentar.

Ditanyai tentang protes para aktivis, Rabbie Abdelatti Ebaid, seorang pejabat senior dari Partai Kongres Nasional yang tengah berkuasa, mengatakan Presiden Bashir sedang meminta opini dari berbagai lapisan masyarakat mengenai rancangan konstitusi baru untuk Sudan.

Undang-undang dasar, yang menjadi sumber berbagai hukum, akan dirancang untuk mempertimbangkan kehendak, budaya, dan adat istiadat masyarakat sekaligus ‘menghormati manusia’, katanya.

Hamed berharap hukum akan berubah.

Sementara itu ia menunggu untuk diadili dan mengatakan siap untuk semua hukuman — termasuk cambuk.

‘Saya mengambil risiko untuk menyuarakan apa yang tengah terjadi di negara kami dan saya berharap ini akan menjadi yang terakhir kalinya seorang wanita Sudan ditangkap karena undang-undang ini.’

Leave a Reply
<Modest Style