Modest Style

Perempuan hamil ‘merepotkan’?

,

Miranti Cahyaningtyas bertanya, pantaskah menyepelekan kebutuhan perempuan hamil?

Gambar: Photl
Gambar: Photl

Berulang kali saya menyaksikan sikap acuh yang ditampilkan oleh generasi saya, masyarakat saya. Baik Anda seorang Muslim atau bukan, ada beberapa aturan tidak tertulis yang berlaku bagi dan diketahui oleh seluruh anggota masyarakat. Beberapa aturan ini begitu sederhana dan sepele hingga sebagian orang seakan-akan dengan sangat mudah melupakannya.

Salah satu contoh yang ingin saya bahas adalah aturan berikut: suka atau tidak, tertulis atau tidak, dan untuk alasan apapun, bangku-bangku di tempat umum disediakan untuk para lanjut usia, ibu hamil, dan orang-orang yang menggendong anak. Menyedihkan sekali melihat bahwa yang sering terjadi adalah bukannya generasi saya, orang-orang yang seumur dengan saya yang dengan suka rela memberikan bangku mereka untuk orang-orang yang termasuk dalam kategori di atas.

Berulang kali saya bertanya pada diri sendiri, “Mengapa?” Saya merasa malu. Saya merasa putus asa. Malu karena kita sering mengatakan bahwa generasi kita lebih baik, kita adalah warga masa depan namun kita juga sering berperilaku masa bodoh saat berurusan dengan hal-hal semacam ini. Putus asa karena membayangkan dunia macam apa yang akan kita wariskan untuk anak-anak kita jika semua orang bersikap masa bohoh.

Saya pernah harus menghadapi perjalanan yang sangat panjang setiap hari untuk bekerja. Perjalanan ini mengharuskan saya melakukan dua kali perjalanan panjang dengan angkot, satu kali perjalanan dengan Kopaja (yang juga panjang) dan berjalan kaki hanya untuk mencapai tempat kerja.  Begitu juga sebaliknya saat pulang. Dengan kondisi lalu lintas setiap harinya, dua jam untuk sekali perjalanan adalah waktu standar yang saya habiskan di jalan.

Saya menceritakan hal ini agar Anda dapat membayangkan bagaimana melelahkannya perjalanan yang saya lalui. Namun prinsip saya mengenai sopan santun di tempat publik seperti tertera di atas tidak pernah berubah. Suatu hari, karena teguh memegang prinsip ini, saya jadi kehilangan kesabaran dan berteriak di dalam Kopaja kepada orang-orang yang tidak saya kenal karena mereka tidak mau memberikan tempat duduk kepada seorang ibu yang sedang hamil besar – sangat besar hingga membuat saya bertanya-tanya mengapa ia tidak mengambil cuti hamilnya. Saya merasa sangat marah waktu itu. Saya tidak dapat memahami orang-orang itu, baik pada saat tersebut maupun sekarang.

Lalu kemarin, saya melihat posting seorang teman di media sosial yang diiringi dengan komentar, “Semoga mbak ini enggak harus merasakan doanya sendiri suatu saat nanti ya.”

Ternyata sebuah posting di Path sedang ramai diperbincangkan. Posting tersebut, yang dibuat oleh seorang perempuan, menyampaikan rasa bencinya terhadap seorang perempuan hamil yang meminta tempat duduk dari orang lain di sebuah sarana transportasi massa dan bukannya berangkat kerja lebih pagi atau berangkat dari stasiun yang lebih jauh di mana sarana transportasi tersebut belum terlalu padat. Posting tersebut juga menyertakan “saran” bahwa jika si ibu tidak ingin bersusah payah, seharusnya ia berdiam di rumah saja dan diakhiri dengan pernyataan pembuat posting agar ia tidak menjadi orang yang merepotkan.

Posting tersebut,  berikut komentar dukungan yang bermunculan, mengejutkan dan mengecewakan saya. Bisa-bisanya ada orang yang mengatakan hal semacam itu?

path

Bukan hanya itu. Kebanyakan pemberi komentar ini adalah perempuan. Mereka meyakini perempuan tersebut mengada-ada untuk mendapatkan perlakuan khusus “hanya” karena ia sedang hamil. Mereka menyebut si ibu egois. Salah seorang pemberi komentar bahkan memberi saran untuk buru-buru mengenakan earphone dan “pura-pura tidur” agar lain kali tidak tertipu oleh ibu hamil yang menginginkan bangkunya.

Mereka pikir mereka tahu segalanya.

Saya bertanya-tanya apakah orang-orang ini tiba-tiba muncul begitu saja suatu hari dalam sosok dewasa mereka sekarang hingga mungkin mereka tidak mengetahui adanya konsep orangtua atau kehamilan.

Perilaku seperti ini adalah salah satu hal yang membuat saya hanya menanggapi dengan senyum simpul saat mendengar pendapat yang mengatakan bahwa orang Indonesia sangat ramah, baik hati dan sebagainya. Saya tidak menyanggah maupun mengiyakan pendapat ini karena tidak ingin dianggap terlalu negatif atau kurang “nasionalis”.

Saya hanya berdoa dan berharap masih ada sedikit kebaikan yang terperlihara di dunia ini untuk anak-anak kita pada saat mereka hadir di dunia ini.

Leave a Reply
<Modest Style