Modest Style

Penyewaan Rahim Komersial Meningkat di India

,

Pesatnya bisnis global berupa perempuan India yang menyewakan rahimnya kepada pasangan kaya menimbulkan pro dan kontra. Sahar Deshmukh menyelidikinya.

Berkas foto hanya untuk ilustrasi: Sepasang suami-istri Inggris, William (kiri) dan Alison Duffet (tengah), beserta putra mereka Oliver Robert (7 hari) yang dilahirkan dari ibu pengganti asal India, difoto bersama Dr Nayna Patel di Rumah Sakit Kaival di Anand, sekitar 90 km dari Ahmedabad, 11 Maret 2010. Penyewaan rahim komersial—dilegalkan di India pada 2002 dan terkenal di kalangan pasangan suami-istri luar negeri yang tidak bisa memiliki keturunan—telah menjadi sumber pendapatan besar bagi sejumlah perempuan India yang bertindak sebagai ibu pengganti, meskipun ada stigma masyarakat setempat dan perdebatan perihal etika. AFP Photo / Sam Panthaky
Berkas foto hanya untuk ilustrasi: Sepasang suami-istri Inggris, William (kiri) dan Alison Duffet (tengah), beserta putra mereka Oliver Robert (7 hari) yang dilahirkan dari ibu pengganti asal India, difoto bersama Dr Nayna Patel di Rumah Sakit Kaival di Anand, sekitar 90 km dari Ahmedabad, 11 Maret 2010. Penyewaan rahim komersial—dilegalkan di India pada 2002 dan terkenal di kalangan pasangan suami-istri luar negeri yang tidak bisa memiliki keturunan—telah menjadi sumber pendapatan besar bagi sejumlah perempuan India yang bertindak sebagai ibu pengganti, meskipun ada stigma masyarakat setempat dan perdebatan perihal etika. AFP Photo / Sam Panthaky

Biaya yang relatif murah, teknologi yang canggih dan kemudahan dalam mencapainya telah membuat India menjadi lokasi favorit untuk pariwisata medis. Setelah 2002, India sangat terkenal di kalangan pasangan luar negeri yang mengalami masalah ketidaksuburan saat negara tersebut melegalkan penyewaan rahim komersial.[i] Kurangnya pilihan atau meroketnya biaya layanan bayi tabung menyulitkan banyak pasangan untuk menjalani prosedur tersebut di negara mereka sendiri.

Dr Nayna Patel, Direktur Medis Klinik Infertilitas Akanksha di Gujarat, India adalah pelopor di bidang infertilitas yang biasa menangani persalinan bayi-bayi bagi pasangan yang tidak subur melalui proses sewa rahim. Akanksha merupakan klinik bereputasi internasional yang sejauh ini telah menjadi tempat lahirnya sekitar 600 bayi titipan, melalui ibu-ibu pengganti.

Klinik tersebut dilengkapi akomodasi terpisah untuk para ibu pengganti, tempat tinggal bagi sekitar 100 perempuan. Keberadaan ruang khusus ini adalah demi menjamin mereka tinggal dalam kondisi yang higienis dan menerima perawatan selama masa kehamilan. Para perempuan yang disewa sebagai ibu pengganti umumnya berasal dari keluarga miskin yang sangat ingin keluar dari lingkaran kemiskinan.

Meski pekerjaannya dikritik banyak pihak, Dr Nayna menegaskan tujuannya adalah untuk membuat banyak orang bahagia.

“Menurut orang banyak, saya ini kontroversial. Ada dugaan saya menjual bayi, membuat pabrik bayi,” ujar Dr Nayna dalam program dokumenter BBC. “Para ibu pengganti yang hamil dan melahirkan itu sudah sepakat dan mereka menerima bayaran untuk itu.”[ii]

“Para perempuan ini tahu tidak ada imbalan tanpa usaha. Sudah tentu saya memandang diri saya sebagai feminis. Penyewaan rahim merupakan cara seorang perempuan dalam membantu sesama perempuan,” lanjut Dr Nayna.

Para pasangan yang menaruh harapan mengirimkan sperma atau embrio mereka ke klinik tersebut—yang kemudian ditanamkan ke ibu pengganti—serta datang ke India pada waktu mengambil anak mereka. Tes DNA yang dilakukan setelah persalinan akan membuktikan adanya hubungan genetis dengan si bayi, sehingga mereka tidak akan menghadapi masalah apa pun saat mengurus pembuatan paspor luar negeri untuk anggota baru keluarga mereka tersebut.[iii]

Harapan Tak Seindah Kenyataan

Survei yang didanai pemerintah terhadap 100 ibu pengganti di Mumbai dan New Delhi mengungkapkan sejumlah fakta pahit terhadap bisnis ini. Kurangnya regulasi dan motivasi untuk memberikan pendidikan bagi anak-anak mereka sendiri telah menyebabkan banyak perempuan miskin—yang kadang terpaksa bekerja karena perintah suami—tergiur oleh uang. Kurangnya pendidikan menyebabkan banyak dari perempuan ini menandatangani kontrak tanpa benar-benar memahaminya. Para agen yang licik menjadi faktor risiko tambahan. Kurangnya aturan tetap dan pedoman biaya juga menyebabkan hak-hak para perempuan ini tidak terjamin.

Walaupun sebagian besar pasangan yang memilih opsi sewa rahim berasal dari luar India, gagasan ini disambut pula oleh para keluarga kaya di negara tersebut. Baru-baru ini, bintang papan atas Bollywood Shahrukh Khan menjadi berita saat dia dan sang istri, Gauri, memperoleh anak melalui ibu pengganti.

“India menjadi tujuan yang populer dalam mencari ibu pengganti, agensi-agensi menjamur, dan kini para bintang Bollywood pun memberikan stempel legitimasi sosial pada keseluruhan praktik ini. Akan tetapi, mengerikan mengingat semua ini terjadi dalam situasi ketiadaan hukum dan tanpa pengawasan sedikit pun,” ujar Ranjana Kumari, Direktur Pusat Penelitian Sosial yang bermarkas di New Delhi dalam wawancara dengan The Washington Post.[iv]

Di Amerika Serikat, layanan bayi tabung dapat mencapai biaya US$100.000 (Rp 1,2 miliar).[v] Di klinik Dr Nayna, pasangan hanya membayar US$28,000 (Rp 325 juta), di mana sebanyak US$8,000 (Rp 9,3 juta) akan diberikan kepada perempuan yang menjadi ibu pengganti. Kompensasi untuk hamil selama sembilan bulan hampir sama jumlahnya dengan upah selama 20 tahun yang akan mereka peroleh bila bekerja sebagai, katakanlah, pembantu rumah tangga.[vi]

Mamata Nanda dari The Huffington Post secara tegas menyampaikan pendapatnya mengenai eksploitasi ini. Kaum perempuan miskin dan tidak berpendidikan di India dieksploitasi dalam berbagai cara demi bertahan hidup karena pertumbuhan ekonomi India tidak dirasakan oleh mereka. Komersialisasi penyewaan rahim, biarpun kedengarannya mengerikan, menyediakan setetes harapan untuk masa depan mereka.

“Kita punya dua pilihan. Kita bisa duduk dengan nyaman di kursi empuk dan menyuruh para perempuan itu menolak opsi sewa rahim karena itu adalah eksploitasi. Atau kita bisa membantu mempersenjatai mereka dalam menghadapi bisnis yang mengeksploitasi mereka tanpa menawarkan keuntungan yang memadai dan memberdayakan mereka untuk menuntut hak-hak mereka. Dengan cara ini, kemungkinan anak-anak perempuan mereka tidak akan terpaksa memilih jalan yang sama untuk bertahan hidup,” tulis Mamata.[vii]

Barangkali Mamata benar. Industri penyewaan rahim menawarkan kesempatan kepada golongan perempuan miskin untuk memperluas wawasan ekonomi mereka. Mungkin Dr Nayna juga memberikan harapan baru bagi para perempuan itu sebagai imbalan atas jasa mereka menyewakan rahim karena hal tersebut membantu membiayai kebutuhan hidup mereka. Meski demikian, Ranjana ada benarnya juga. Mengejutkan ketika kita mengetahui beberapa perempuan berpotensi dimanfaatkan untuk menandatangani kontrak penyewaan rahim dan tidak menerima penghargaan atas hak-hak mereka karena kurangnya regulasi yang jelas. Peraturan yang tegas harus diadakan untuk menjamin tidak adanya pelanggaran yang dilakukan terhadap para perempuan itu dalam prosesnya.

Tetapi, apakah upaya tersebut masih membuat komersialisasi penyewaan rahim dan memanipulasi kondisi kehamilan pada manusia dapat diterima?

Barangkali inilah saatnya untuk memikirkan kembali hal-hal apa saja yang kita anggap pantas. Mungkin kita perlu membiarkan sejumlah kelompok perempuan memutuskan apa yang rela mereka korbankan untuk keluarga. Mungkin lebih penting untuk mendesak diadakannya undang-undang demi menjamin para perempuan yang memilih—atau yang terdesak secara ekonomi—untuk menjadi ibu pengganti mendapatkan penanganan yang profesional.

[i] Ashok Kumar, ‘Surrogacy on the rise in North India’, The Hindu, 3 Nov 2013, bisa dibaca di sini
[ii] Rob Roberts, ‘Canadian woman hired surrogate at controversial ‘baby factory’ in India: BBC documentary’, National Post, 1 Okt 2013, bisa dibaca di sini
[iii] Rama Lakshmi, ‘In India, a rise in surrogate births for West’, The Washington Post, 26 Juli 2013, bisa dibaca di sini
[iv] ‘In India, a rise in surrogate births for West’, bisa dibaca di sini
[v] Natacha Tatu, ‘Brave New World: Inside India’s First Bonafide Baby Factory’, Worldcrunch, 11 Nov 2013, bisa dibaca di sini
[vi] ‘Canadian woman hired surrogate at controversial ‘baby factory’ in India: BBC documentary’, bisa dibaca di sini
[vii] Mamata Nanda, ‘International Commercial Surrogacy in India: Exploitation, Poverty, Alternatives and Survival’, Huffington Post, 3 Okt 2013, bisa dibaca di sini

Leave a Reply
<Modest Style