Modest Style

Pentingkah Warna Kulit dalam Pernikahan?

,

Islam tidak serta merta bebas dari rasisme dan diskriminasi. Fatimah Jackson-Best menantang kita untuk mengkonfrontasi kepercayaan dan prasangka kita.

Gambar: Dreamstime
Gambar: Dreamstime

Mengingat sejarahnya yang berasal dari gurun Arabia lebih dari 1400 tahun lalu, penyebaran Islam tergolong mengagumkan. Kekuatan pesan yang dibawanya merupakan hal yang mempersatukan orang-orang dari berbagai latar belakang di bawah naungannya. Kita tinggal menghadiri salat Ied untuk menyaksikan beragam budaya, ras, dan etnis yang membentuk komunitas Muslim dunia. Kesempatan semacam itu selalu menyadarkan saya akan perbedaan besar yang dipersatukan oleh hanya sebuah agama.

Jangkauannya ke penjuru dunia di awal masa merupakan bukti sejarah panjang perjumpaan dan pergaulan Islam dengan beragam orang dan golongan. Hal ini tercermin pada sejumlah teman non-Arab Nabi Muhammad SAW yang turut menjadi tokoh utama dalam berbagai kisah teladan. Dari Bilal bin Rabah, seorang budak Ethiopia yang menjadi muadzin masjid Nabi, hingga Salman Al-Farisi, dengan nama yang menunjukkan akar Persianya serta diketahui sebagai teman setia Nabi, seluruh sosok ini memperlihatkan pada kita bahwa Islam adalah agama bagi setiap manusia dan selalu menjadi saksi percampuran antar manusia dan budaya.

Di balik semua itu, masih terdapat kesenjangan di antara kita. Meski beberapa Muslim tidak keberatan menerima orang dari budaya dan ras berbeda di tempat-tempat umum seperti sekolah dan masjid, beberapa menolak kehadiran orang-orang ini ke dalam lingkaran terdalam kita: keluarga.

Beberapa pekan lalu, sebuah tagar pembicaraan yang dibuat oleh Muslim Anti-Racism Collaborative (Muslim ARC) menyelami pengalaman menjadi orang kulit hitam yang Muslim. Sebuah pesan berulang yang saya baca adalah dari para lelaki dan perempuan Muslim kulit hitam yang tidak diperkenankan menikah karena warna kulit mereka meski memiliki keyakinan sama.

Muslim jelas-jelas tidak bebas dari masalah ras. Diskriminasi warna kulit, yang memiliki kecenderungan pada orang berkulit cerah dibandingkan yang lebih gelap, hanyalah salah satu contohnya. Hal tersebut merupakan lapisan pertama masalah sangat rumit yang harus dihadapi oleh semua orang dan kalangan masyarakat di sekeliling dunia.

Sebagai Muslim, kita tahu bahwa rasisme dan diskriminasi itu salah. Qur’an menekankan pengetahuan tersebut. Allah telah menyatakan bahwa Ia “menciptakan kamu dari seorang lelaki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang paling takwa di antara kamu.” (QS Al Hujuraat: 13)

Ceramah terakhir Nabi Muhammad merupakan contoh lain yang menunjukkan konfrontasi langsung terhadap rasisme. Ia menyampaikan: “Orang Arab tidak lebih utama dari orang non-Arab dan orang non-Arab tidak lebih utama dari orang Arab, dan orang kulit merah tidak lebih utama dari orang kulit hitam dan orang kulit hitam tidak lebih utama dari orang kulit merah, kecuali karena takwanya.”

Yang menyedihkan adalah ayat Qur’an dan ajaran Rasulullah SAW yang kita ketahui dengan baik di atas tidak kita pahami. Saat kita dihadapi dengan situasi rasis, tindakan kita mencerminkan seberapa kuat kita meyakini kata-kata ini. Sayangnya, pengetahuan kita tentang hal yang benar tidak selalu kita perlihatkan melalui tindakan dan keputusan yang kita buat dalam kehidupan pribadi dan berkeluarga. Kadang kala kita membiarkan pendapat pihak lain mempengaruhi penilaian kita, yang hanya memperkuat kebusukan rasisme, diskriminasi, dan ketakutan.

Sangat menyedihkan bila rasisme dan diskriminasi mempengaruhi lamaran pernikahan karena penampilan maupun kesamaan asal pasangan dengan orangtua tidak seharusnya menjadi kriteria terpenting. Seiring waktu, hal-hal di atas tidak menjadi faktor yang membantu terbangunnya ikatan kuat antara Anda dan pasangan.

Memiliki seseorang yang menyayangi Anda dan menantang Anda untuk menjadi Muslim yang lebih taat merupakan dasar terbaik yang dapat dimiliki sebuah hubungan, dan inilah mengapa Allah memberi penekanan pada takwa dan tidak pada budaya maupun ras. Dengan ketakwaan, dua individu dari latar belakang sangat berbeda dapat bekerja sama dan melalui situasi sulit sambil tetap saling mencintai dan menghargai satu sama lain. Ketakwaan memungkinkan orang untuk menjadi rapuh di hadapan satu sama lain. Di sinilah cinta tumbuh.

Rasisme dalam Islam bukan hal baru, namun cara kita menghadapinya harus mencerminkan cara pikir dan pendekatan baru untuk mematahkan cara lama. Melalui media sosial dan teknologi, kita memiliki kemampuan untuk lebih terhubung dengan satu sama lain, dan pertukaran budaya terjadi terus-menerus dalam situasi ini. Cara kita menafsirkan keterhubungan ini ke dunia nyata adalah ujian sebenarnya, namun saya yakin kita siap menghadapi tantangan ini.

Leave a Reply
<Modest Style