Modest Style

Pengungsi Rohingya di Indonesia: Lepas dari Laut Namun Masih Terombang-Ambing

,

Tuduhan pemerkosaan atas seorang perempuan Rohingya di kota Medan, Indonesia telah memicu bentrok kekerasan antar-pengungsi Myanmar yang mengakibatkan delapan orang meninggal. Jo Arrem berbincang dengan Siti*, yang mengaku sebagai korban, untuk mendapat kejelasan atas situasi mengerikan yang menimpa para pengungsi asal Rohingya ini.

ina WP-Rohingya-in-Indonesia
Arsip foto hanya untuk tujuan ilustrasi: Foto ini diambil pada tanggal 2 Maret 2013, memperlihatkan seorang pengungsi Rohingya di antara 184 penumpang dua kapal pencari suaka dari Myanmar yang diselamatkan oleh nelayan Indonesia pada akhir Februari. Indonesia diperkirakan akan kedatangan banyak pengungsi Rohingya sebab otoritas Thailand menolak keras para pengungsi memasuki negara mereka. PBB menganggap Rohingya, kelompok etnis Muslim tanpa negara ini, sebagai salah satu kelompok minoritas paling teraniaya di dunia, sementara Myanmar menolak kewarganegaraan mereka karena menganggap sekitar 800.000 orang Rohingya itu sebagai imigran ilegal dari Bangladesh. Pertikaian antar-umat Buddha-Muslim di negara bagian Rakhine wilayah barat Myanmar telah mengakibatkan paling sedikit 180 orang meninggal dunia dan lebih dari 110.000 orang terusir sejak Juni 2012. Foto AFP / Chaideer Mahyuddin

‘Pada kali ketiga ada tiga orang laki-laki. Dua laki-laki, bersenjata pisau dan obeng, mengancam saya, sementara laki-laki ketiga memperkosa saya,’ jelas Siti yang berusia 23 tahun, suaranya datar, air mata kesedihan menggenang di matanya, ‘Beberapa perempuan lain melihat kejadian itu, namun tak berbuat apa-apa. Mereka hanya melihat.’

Aadil*, 36, menceritakan kepada saya bahwa saat pagi buta polisi imigrasi telah mengumpulkan orang-orang yang bertanggung jawab atas pemerkosaan Siti kali pertama dan kedua, lalu ‘menampar mereka dua kali,’ dan menganggap hukuman itu cukup. Dan Siti bukan satu-satunya korban, menurut Aadil, yang mengatakan bahwa mereka memperkosa perempuan lain dan menganiaya korban ketiga. Dia menyatakan bahwa para pengungsi lain dari Myanmar memperkosa Siti yang ketiga kali untuk membalas dendam karena pengungsi etnis Rohingya telah melaporkan mereka kepada polisi. ‘Setelah mereka memperkosanya para lelaki itu berjalan berkeliling sembari berteriak, “Mengapa kalian melaporkan kami kepada imigrasi? Mengapa kalian tidak berkelahi saja dengan kami?” Pengungsi penganut Buddha menghina kami sebagai binatang, meludah di lantai dan memaki kami,’ papar Aadil.

Pada tanggal 5 April ketegangan memuncak di rumah tahanan di Medan, ketika sekelompok pengungsi Rohingya dalam jumlah lebih besar menyerang 11 orang penganut Buddha yang mereka anggap bertanggung jawab atas pemerkosaan, dan membunuh delapan di antaranya. Polisi menahan 21 tersangka, termasuk di antaranya adalah saudara laki-laki dari perempuan yang menjadi korban, dan seorang suami dari korban yang lain. ‘Tolong bantu kami membebaskan suami dan saudara kami dari tahanan polisi,’ ujar Siti, ‘Kami datang dari Myanmar untuk membebaskan diri dari permasalahan, namun kami terjebak permasalahan juga di sini!’

Desakan untuk Keluar
Dia menjelaskan bagaimana rumahnya di Myanmar diserang ketika kerusuhan antar-etnis terjadi di bulan Juni 2012 negara bagian Rakhine. Rumahnya dibakar habis, demikian ujarnya, memaksa dia dan teman-temannya untuk melarikan diri; sampai akhirnya mereka ditempatkan dalam sebuah penampungan pengungsi di Myanmar. Dia menyatakan hanya menerima 50 persen dari jatah ransum, sementara sisanya diambil oleh mereka yang berwenang di penampungan itu. Dan mereka tak diizinkan untuk pergi, ataupun bekerja. Mereka hanya bisa menunggu, katanya, bahkan meski kekerasan di Myanmar tak jelas kapan berhenti. ‘Mereka mengatakan kepada kami bahwa kami bisa pulang ke rumah jika negara aman, tapi negara kami sudah hancur!’ tegas Aadil.

Akhirnya, melihat tak ada lagi jalan keluar, Siti dan teman-temannya melarikan diri – seperti yang lainnya – dengan perahu reyot, berharap bisa mencapai Australia. Setelah 25 hari terombang-ambing di lautan, mereka terdampar di Indonesia dan berada di sana sejak itu. Walau mereka bisa mendapatkan sedikit lebih banyak makanan atau uang, risiko untuk diserang dan diperkosa menunjukkan bahwa mereka merasa kondisinya tidak membaik.

Sepertinya mereka juga tidak akan bisa pergi dalam waktu dekat – pastinya tidak jika mengacu kepada cerita Aadil. Dia telah berada di kemah penampungan UNHCR selama tiga tahun hingga sekarang, menunggu untuk ditempatkan. Dia berkata kepada saya betapa mereka menantikan kabar apa pun, namun mereka sama sekali tidak mendapatkannya. Mereka dibiarkan terkatung-katung. Pada saat diwawancara, Aadil memberitahu saya bahwa perwakilan UNHCR tidak berhubungan dengan mereka selama berminggu-minggu.

‘Orang-orang dari negara lain, seperti Afganistan, Sri Lanka, Iran dan Irak, biasanya akan ditempatkan dalam jangka waktu dua tahun. Tapi tak satu pun dari kami sudah ditempatkan. Mengapa demikian?’ dia bertanya pada saya. ‘Mereka mengatakan, ”Karena warna kulit kalian berbeda maka kalian tak diperkenankan memasuki Australia atau Selandia Baru atau negara ketiga mana pun.” Tapi orang-orang Sri Lanka juga tidak berkulit putih, jadi mengapa mereka diupayakan sementara kami tidak? Mereka tidak menjawab.’

Terjadinya Pengungsian
Aadil menganggap ini semua karena Rohingya, tak seperti penduduk negara-negara lain, tak memiliki perwakilan dalam pemerintahan dan hanya sedikit organisasi yang bisa membela mereka – pernyataan yang masuk akal, karena butuh sebuah negara dan lembaga-lembaga untuk mendirikan perwakilan yang layak. Rohingya tidak memiliki negara. Mereka telah dianiaya, hak-hak mereka dibatasi, ditindas dan diabaikan sejak lama sepanjang ingatan mereka. Beberapa dari mereka menyalahkan adanya perbedaan agama, sementara yang lain secara keliru mengalamatkan kebencian pada zaman kolonial saat Inggris membawa orang muslim India dan memberikan mereka pekerjaan-pekerjaan terbaik.

Namun pastinya bukan dikarenakan etnis Rohingya tidak berhak atas wilayah tersebut. Mereka sudah lama menempati wilayah itu – antara empat hingga tujuh abad lamanya, lebih lama daripada keberadaan Myanmar dan Bangladesh. Sekarang, kedua negara itu menegaskan bahwa etnis Rohingya bukan bagian dari keduanya dan mereka saling melempar tanggung jawab atasnya. Berlepas tangan atas keadaan ini, pemerintah seolah tidak merasa perlu melindungi orang-orang ini, bahkan ketika warga mereka sendiri menyerang mereka. Di Myanmar, etnis Rohingya diserang, diusir dari rumah mereka, disita lahannya dan dibatasi hak-haknya, bahkan sedikit yang tersisa pun diabaikan. Kebanyakan dari mereka tidak punya kewarganegaraan – mereka tak punya negara.

Situasi memburuk dalam beberapa tahun terakhir saat Myanmar mulai membuka diri kepada dunia. Elemen dari mayoritas populasi penganut Buddha, yang sebelumnya tertindas oleh militer, kini memanfaatkan kebebasan barunya untuk membalas penganiayaan kepada etnis Rohingya. Para pendeta Buddha, yang pada tahun 2007 berupaya menggulingkan kediktatoran militer dalam peristiwa yang dikenal sebagai Saffron Revolution, kini membantu mengorganisasi dan memprovokasi tindakan protes dan pemberontakan yang ditujukan kepada kelompok etnis Rohingya. Ironisnya, saat ini pasukan bersenjata, yang sebelumnya bertanggung jawab atas penganiayaan etnis Rohingya, justru berjaga sebagai pelindung mereka. Ratusan kaum Rohingya telah terbunuh dalam beberapa tahun terakhir dan lebih dari seratusan ribu telah terusir.

Bagi mereka yang seperti Siti dan Aadil, hanya tersisa satu pilihan: meninggalkan Myanmar dan mengupayakan kehidupan baru di tempat lain. Keputusasaan telah mendorong mereka membayar mahal untuk sebuah perjalanan satu arah dengan perahu nelayan. Kadangkala perahu karam dan penumpangnya tenggelam; di waktu lain penumpang yang selamat kemudian terjebak dalam perdagangan manusia. Orang-orang yang saya wawancara di Medan cukup ‘beruntung’ hanya terusir dari wilayahnya ke negara lain. Kini mereka terdampar di sini, menunggu kesempatan untuk dimukimkan.

Menunggu Bukanlah Sebuah Permainan
Sementara di Indonesia mereka diharapkan untuk tidak membuat permasalahan. Mereka diharapkan menunggu dengan tenang kabar untuk penempatan, sementara hidup mereka perlahan berlalu. ‘Kami mendapat sedikit uang, beberapa pelajaran, namun tak diizinkan untuk bekerja dan diharapkan menunggu. Kami tak mendapat informasi dan kami tidak ditempatkan,’ keluh Aadil. ‘Kami merasa dibedakan dari pengungsi yang lain, kami mendapat lebih sedikit bantuan. Ketika pengungsi lain sakit, mereka dibawa ke klinik, tapi kami tidak diperbolehkan. Ketika kami butuh pengobatan, kami harus membayar sendiri. Dan kamar kami tidaklah sebagus yang lain – seorang keluarga dengan bayi dari negara lain mendapat dua kamar, sementara kami hanya mendapat satu, walaupun memiliki dua atau tiga bayi.’

Namun, mereka mencoba sebisa mungkin untuk tetap tenang. Ketika perempuan-perempuan dari kelompok mereka diperkosa, bagaimanapun, ceritanya berbeda – hasilnya adalah, menurut Aadil, 21 orang dari mereka kini menghadapi masa depan yang suram dengan 12 tahun di tahanan Indonesia akibat keterlibatan mereka dalam kekerasan. ‘Kami hanya ingin melanjutkan kehidupan kami dan memulai dari awal lagi,’ tukas Aadil. Bagi mereka yang dipenjara, bagaimanapun, mimpi itu seolah menjauh dari masa depan. Dan kalaupun mereka dimukimkan, bagi Siti dan teman-temannya awal yang baru itu bisa jadi selamanya tak tergapai.

* Nama-nama yang dicantumkan sudah diganti atas permintaan mereka yang diwawancarai

Leave a Reply
<Modest Style