Modest Style

Pemimpin Katolik dan Muslim Desak PBB Kirim Pasukan Perdamaian

,
Uskup Agung Bangui Dieudonne Nzapalainga (belakang, tengah, kiri) dan presiden dari komunitas Muslim Afrika Tengah, Imam Omar Rabine Layama (belakang, tengah, kanan), berpose dengan anggota komunitas Kristen dan Muslim setelah pertemuan konsiliasi mengakhiri seminggu ketegangan, pada 8 Oktober 2013 di Bangassou. AFP PHOTO/ISSOUF SANOGO
Uskup Agung Bangui Dieudonne Nzapalainga (belakang, tengah, kiri) dan presiden dari komunitas Muslim Afrika Tengah, Imam Omar Rabine Layama (belakang, tengah, kanan), berpose dengan anggota komunitas Kristen dan Muslim setelah pertemuan konsiliasi mengakhiri seminggu ketegangan, pada 8 Oktober 2013 di Bangassou. AFP PHOTO/ISSOUF SANOGO

PARIS, 26 Desember 2013 – Pemimpin Katolik dan Islam dari Republik Afrika Tengah pada hari Kamis meminta PBB untuk segera menyebarkan pasukan penjaga perdamaian untuk menghentikan lingkaran kekerasan yang telah mengadu umat Islam dan Kristen.

Dalam sebuah kolom opini di surat kabar Le Monde Perancis, Uskup Agung Bangui, Dieudonne Nzapalainga, dan Imam Omar Kobine Layama mengatakan pasukan penjaga perdamaian Perancis dan Afrika membutuhkan bantuan untuk mengatasi kekerasan.

“PBB harus segera mengirimkan kekuatan semacam itu ke lapangan,” kata mereka.

Perancis telah mengirimkan 1.600 tentara ke bekas koloninya untuk mendukung pasukan penjaga perdamaian Uni Afrika yang berjumlah sekitar 4.000 tentara. Tapi mereka kesulitan untuk memulihkan ketertiban di negara yang didera oleh puluhan tahun salah urus, kudeta, dan diktator itu.

Masalah makin rumit karena sebagian besar kontingen Chad dari pasukan Uni Afrika  dituduh berpihak kepada mantan kelompok pemberontak yang sebagian besar muslim di negara mayoritas Kristen yang tengah dikoyak perselisihan ini.

“Meskipun pasukan Perancis dan Afrika telah memberi negara kami kesempatan untuk membuat awal yang baru, kemajuannya rapuh dan pasukan itu tidak dapat menanggung beban sendirian,” kata mereka.

Mereka mengatakan kedatangan pasukan helm biru PBB “akan menghilangkan sentimen ketakutan dan menggantinya dengan harapan.”

Negara kaya sumber daya tapi miskin ini telah dilanda aksi kekerasan yang terus meningkat sejak kudeta Maret oleh pemberontak Seleka yang sebagian besar Muslim yang mengangkat Michel Djotodia sebagai presiden muslim pertama di negara itu.

Meskipun Djotodia membubarkan pemberontak, beberapa dari mereka membangkang, yang menyebabkan pembunuhan, perkosaan, serta penjarahan selama berbulan-bulan dan mendorong umat Kristen untuk membentuk kelompok main hakim sendiri sebagai balasannya.

Nzapalainga dan Layama mengatakan ada “ancaman nyata bahwa umat Islam akan menghadapi pembalasan yang mengerikan” menyusul perkosaan, penjarahan, dan eksekusi yang meluas oleh mantan pemberontak.

“Kami takut jika masyarakat internasional tidak merespons lebih aktif, negara kami akan dikutuk kegelapan,” kata mereka, sembari menambahkan bahwa dua juta orang – atau sekitar setengah jumlah penduduk negara itu – sangat membutuhkan bantuan.

cr/ach/jz

©1994-2013 Agence France-Presse

Leave a Reply
<Modest Style