Modest Style

PBB Memperingatkan Tentang Masalah Kehamilan Remaja

,
Seorang siswi hamil tanpa nama berpose pada 20 Juli 2013 di Pretoria Hospital School, Afrika Selatan, yang khusus menangani kasus kehamilan remaja. AFP PHOTO / STEPHANE DE SAKUTIN
Seorang siswi hamil tanpa nama berpose pada 20 Juli 2013 di Pretoria Hospital School, Afrika Selatan, yang khusus menangani kasus kehamilan remaja. AFP PHOTO / STEPHANE DE SAKUTIN

LONDON, 30 Oktober 2013 (AFP) oleh Alice RITCHIE – Di negara-negara berkembang, sekitar 7,3 juta gadis di bawah umur 18 tahun telah melahirkan. Mereka menanggung risiko kematian dan penderitaan yang hanya dapat ditangani dengan mengubah perilaku sosial. Demikian dilaporkan PBB, Rabu lalu.

Sebagian besar perempuan ini berada di sub-Sahara Afrika dan Asia Selatan. Satu dari 10 gadis di Bangladesh, Chad, Guinea, Mali, Mozambik dan Nigeria dilaporkan telah melahirkan seorang anak sebelum berusia 15 tahun. Demikian laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Dana Kependudukan (UNFPA).

Menurut Laporan Kependudukan Dunia tahunan UNFPA, sekitar 70.000 gadis berumur 10-19 tahun meninggal karena komplikasi selama masa kehamilan dan persalinan

Lebih banyak lagi yang kesulitan mengontrol buang air dan kesakitan akibat melahirkan sebelum tubuh mereka siap. Sementara itu, mereka juga menghadapi masa depan yang berat jika terpaksa putus sekolah.

UNFPA memperingatkan bahwa hal ini merupakan “masalah global besar” yang menuntut perhatian—tetapi mendesak pemerintah dan kelompok-kelompok sipil untuk menyadari bahwa para gadis itu bukan satu-satunya pihak yang bertanggung jawab.

Persoalan kemiskinan, tidak adanya pendidikan, kurangnya saran kontrasepsi dan praktik pernikahan anak-anak—sembilan dari  10 kelahiran remaja terjadi di dalam lembaga pernikahan—turut memegang peranan, demikian juga dengan kekerasan seksual.

“Yang sering terjadi, masyarakat hanya menyalahkan si gadis karena hamil,” ungkap direktur eksekutif UNFPA, Babatunde Osotimehin, sebelum peluncuran laporan berjudul “Motherhood in Childhood” di London.

“Pada kenyataannya, kehamilan remaja lebih sering terjadi bukan karena pilihan yang disengaja, melainkan justru karena tidak adanya pilihan serta situasi yang berada di luar kendali si gadis.”

Survei kesehatan mengindikasikan 10% dari perempuan berusia 20-24 tahun di negara-negara berkembang telah melahirkan anak pertama sebelum mencapai usia 18 tahun, setara dengan 36,4 juta perempuan berdasarkan angka populasi pada laporan 2010.

Dikatakan UNFPA, dari angka tersebut, sekitar 17,4 juta berada di Asia Selatan, 10,1 juta di Afrika sub-Sahara, serta 4,5 juta di Amerika Latin dan Karibia.

Dari angka-angka di atas, UNFPA mengalkulasi bahwa 7,3 juta gadis setiap tahun menjadi ibu saat mereka sendiri masih dapat dikategorikan sebagai anak-anak—dua juta di antaranya masih berumur 14 tahun ke bawah.

Sekitar 2,9 juta gadis di Asia Selatan dilaporkan telah melahirkan anak pertama sebelum berusia  15 tahun, 1,8 juta berada di Afrika sub-Sahara serta 0,5 juta di Amerika Latin dan Karibia.

Menurut laporan tersebut, gadis-gadis ini memiliki risiko yang lebih tinggi terhadap kematian ibu atau fistula obstetri, kondisi medis parah akibat persalinan yang lama dan terhambat.

Di sebagian besar kasus, bayi yang dilahirkan meninggal dan, tanpa melalui operasi, si ibu menjadi kesulitan menahan dorongan untuk buang air.

Ada juga akibat ekonomi dari melahirkan anak terlalu dini, di mana estimasi pendapatan tahunan yang hilang sepanjang hidup seorang gadis berkisar mulai dari satu persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) di Cina sampai dengan 30 persen di Uganda.

Menurut laporan UNFPA ini, terdapat sedikit penurunan persentase dari angka perempuan yang dilaporkan melahirkan saat remaja di seluruh negara berkembang, kecuali di Afrika sub-Sahara.

Perbandingan ibu berusia anak-anak tertinggi berada di Nigeria (51 persen), disusul Chad (48 persen), Mali (46 persen), Guinea (42 persen) dan Mozambik (40 persen).

Kehamilan remaja juga terjadi di negara-negara maju tetapi ini hanya mewakili lima persen dari total—sekitar 680.000, yang hampir separuhnya berada di Amerika Serikat.

Di seluruh dunia, gadis-gadis yang miskin, kurang berpendidikan dan tinggal di daerah terpencil memiliki kemungkinan lebih besar untuk hamil, dan faktor-faktor inilah kunci untuk menolong mereka.

UNFPA mendesak diadakannya berbagai usaha untuk tetap menyekolahkan gadis-gadis ini, mengajari mereka perihal kesehatan seksual, menghentikan pernikahan anak-anak, mengubah perilaku terhadap peran dan kesetaraan gender serta memperbaiki pelayanan terhadap ibu-ibu belia.

“Kita harus merefleksikan dan mendesak diadakannya perubahan terhadap kebijakan serta norma keluarga dan pemerintah yang sering membuat gadis-gadis tidak punya pilihan selain hamil di usia belia,” kata Osotimehin.

Leave a Reply
<Modest Style