Modest Style

Paus: Waspada pembiasaan krisis Suriah

,
Paus Francis meminta kelompok bantuan memberikan pertolongan pada korban perang terlepas dari apa agama mereka. AFP Photo / Vincenzo Pinto
Paus Francis meminta kelompok bantuan memberikan pertolongan pada korban perang terlepas dari apa agama mereka. AFP Photo / Vincenzo Pinto

KOTA VATIKAN, 30 Mei 2014 (AFP) – Paus Francis kemarin memperingatkan bahwa jutaan orang yang terkena dampak krisis Suriah berisiko terlupakan karena adanya “globalisasi ketidakpedulian” terhadap konflik yang terjadi.

Masyarakat internasional berisiko “melupakan korban sehari-hari, penderitaan luar biasa, ribuan pengungsi, termasuk lansia dan anak-anak yang menderita dan terkadang meninggal kelaparan atau karena penyakit yang disebabkan oleh perang,” ujarnya.

“Kita berisiko menjadi terbiasa dengan adanya krisis Suriah. Globalisasi ketidakpedulian… Ketidakpedulian ini menyakiti kita!” ujar Paus pada pertemuan dengan 25 kelompok bantuan yang disokong Gereja dari wilayah tersebut.

Pria berusia 77 tahun tersebut meminta adanya “gencatan senjata dan komitmen untuk bernegosiasi, yang mengutamakan kepentingan Suriah dan warganya” juga mereka yang “terpaksa mengungsi ke tempat lain dan memiliki hak untuk secepatnya kembali ke negara mereka”.

Konflik yang terjadi berawal dengan gerakan damai yang terinspirasi dari musim semi Arab yang menuntut perubahan politik. Namun akhirnya gerakan ini berujung pada perang sipil setelah Assad memberikan reaksi brutal.

Francis meminta kelompok bantuan untuk “menolong gereja-gereja setempat dan seluruh korban perang, tanpa memandang perbedaan etnis, agama, atau sosial.”

Hari Kamis, Kardinal Robert Sarah, kepala departemen Cor Unum Vatikan yang menggerakkan badan-badan amal Katolik Roma, meminta Amerika Serikat, Rusia, dan Timur Tengah untuk “memberanikan diri melakukan tindakan bersama” untuk Suriah.

Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh kelompok bantuan, konflik di Suriah telah menghasilkan dua juta pengungsi, lebih dari setengahnya berusia di bawah umur, ujarnya.

“Ada lebih dari sembilan juta orang membutuhkan perawatan kesehatan, 60 persen rumah sakit telah dihancurkan atau tidak dapat digunakan.”

Leave a Reply
<Modest Style