Modest Style

Patah Hati tapi Berani di Mesir

,

Di tengah bentrokan kekerasan di Mesir, suami Asmaa Hussein ditembak mati saat liburan mereka. Sahar Deshmukh menceritakan kisah inspiratif tentang seorang wanita Kanada yang menunjukkan keberanian luar biasa dalam saat yang paling mengerikan dalam hidupnya.

3001-WP-heartbroken-sm

Setiap kali peristiwa tragis terjadi di luar negeri, jarang sekali kita benar-benar merasakan kepiluan orang-orang yang terjebak dalam situasi itu. Tapi bentrokan terakhir di Mesir dan kematian penduduk Kanada Amr Kassem telah membuat sebagian warga Kanada, seperti saya, terkejut karena tragedi itu terasa menghantam begitu pelak.

Asmaa Hussein –  teman dari teman keluarga saya –  sedang berlibur mengunjungi keluarganya di Alexandria, Mesir, bersama suaminya, Amr, dan putri mereka yang berusia enam bulan, Ruqaya. Pada hari Jumat 16 Agustus suami Asmaa sedang dalam perjalanan kembali dari pemakaman ketika ia bergabung dengan sebuah protes terhadap pembunuhan ratusan warga sipil dalam tindakan keras militer di Kairo. Tak lama setelah itu, ia ditembak mati oleh penembak jitu.

Asmaa meyakini bahwa suaminya menjadi sasaran pasukan keamanan karena janggut panjang Amr membuatnya terlihat ‘religius’ saat ia berada di jalanan memprotes pembunuhan demonstran lainnya. Dia mengatakan, mereka mungkin mengira suaminya adalah anggota partai mantan Presiden Mohamed Morsi, Ikhwanul Muslimin.

Kita bahkan tidak bisa membayangkan rasanya kehilangan suami setelah baru dua tahun menikah, dengan begitu banyak yang menunggu untuk dinikmati dalam hidup bersama putri mereka.

Dalam sebuah wawancara dengan Toronto Star, Asmaa menggambarkan suaminya sebagai ‘cinta dalam hidupnya’. Dia berkata, ‘Dia orang yang sangat baik, begitu murah hati. Ia adalah suami terbaik, yang paling mendukung.’ [i]

Asmaa menuturkan, dalam percakapan terakhir mereka Amr menenangkannya dengan berkata (itu adalah) protes yang damai dan ia akan segera pulang. Asmaa mengatakan Amr menuntut keadilan, karena Amr tidak tahan melihat kemungkaran yang sedang berlangsung.

Di luar semua kengerian ini, layak dikagumi bagaimana Asmaa menangani situasi sulit ini. Banyak orang di posisinya mungkin akan mengutuk seseorang, menyalahkan diri mereka sendiri atas situasi yang terjadi dan bahkan mungkin menyesali perjalanan itu. Asmaa mengandalkan imannya kepada Allah. Dia mengatakan suaminya ingin mati karena Allah. Dan dia pasti kembali kepada Allah seperti yang ia inginkan, kata Asmaa.

‘Saya tak mau merendahkan dia atau diri saya dengan bertanya kepada Tuhan “mengapa” Dia mengambilnya atau berpikir “kalau saja dia tidak ikut protes pada hari Jumat, ia masih hidup.” Tidak, sudah waktunya Amr kembali kepada Allah, saya meyakini ini tanpa ragu. Dan meskipun saya berharap saya punya lebih banyak waktu dengan dia di dunia, saya dengan tulus berharap untuk bersatu kembali dengan dia dan menjadi istrinya, jika Tuhan mengizinkan saya, di surga,’ tulis Asmaa dalam sebuah artikel curahan hatinya saat ia berduka atas kematian suaminya. [ii]

Dia terutama sangat lega Amr mampu membaca syahadat sebelum tewas. Teman seorang kerabat menunggui Amr di saat-saat terakhirnya. Dia mengatakan kepada Asmaa bahwa Amr tersenyum lebar saat ia berpisah dari dunia ini – senyum yang mirip dengan yang ia sunggingkan pada hari pernikahan mereka.

Asmaa menulis lebih lanjut, ‘Ketika saya mendengar hal ini, saya langsung menangis karena Allah (swt) telah memberi saya kehormatan dengan mempertemukan saya dengan pria menakjubkan ini dan memungkinkan saya untuk memiliki anaknya.’

Dia memasang wajah berani meskipun kehilangannya amat luar biasa. Selama pemakaman suaminya, beberapa preman menyerang orang-orang yang hadir di sana hingga mereka bubar berlarian. Dalam kekacauan ini, Asmaa bahkan tidak bisa melihat di mana suaminya dikubur di pemakaman itu. [iii] Dia dilempari batu, tapi berhasil melarikan diri.

Tapi ada lebih banyak tantangan menunggu untuk Asmaa dan putrinya. Meskipun telah kembali dengan aman ke Kanada, sekarang yang mungkin menjadi tantangan besar bagi Asmaa adalah menghilangkan prasangka beberapa media yang menuduh Amr ekstremis berdasarkan postingannya di Facebook dan kegiatannya di forum Islam online. [iv]

Apa pun yang dikatakan orang lain tentang Amr, Asmaa mengetahui pasti soal karakter suaminya dan niatnya. Dia ingin kematian suaminya bermakna dan membuat orang berpikir. Dia juga ingin putrinya tahu bahwa ayahnya seorang pemberani.

‘Meskipun suami saya tidak bisa mendampinginya saat dia tumbuh dewasa, warisannya akan tetap bersamanya,’ katanya di Toronto Star. ‘Meskipun sulit bagi saya dan untuk dia, ini adalah warisan yang cukup menakjubkan untuk ditinggalkan bagi seorang anak. Bagi anak Anda untuk mengetahui bahwa Anda orang yang berani.’

Tapi keberanian nyata ditunjukkan oleh Asmaa yang telah menerima kematian suaminya dengan ketabahan yang luar biasa dan masih memiliki keberanian untuk melanjutkan hidup karena menyadari semua ini adalah kehendak Allah.

——————-

[i] ‘Pria asal Toronto tewas oleh penembak jitu saat bentrokan Mesir’, Toronto Star, bisa dibaca di sini.

[ii] ‘Kehilangan jantung hati di Mesir’, Muslim Matters, bisa dibaca di sini.

[iii] ‘Warga Toronto tewas saat protes Mesir’, CBC News, bisa dibaca di sini.

[iv] ‘Pria Kanada yang tewas di Mesir ungkapkan pandangan ekstremis di Facebook’, Toronto Sun, bisa dibaca di sini.

Leave a Reply
<Modest Style