Modest Style

Pasangan Beda Agama, Cermin Keberagaman Bosnia

,
Muslim Bosnia Rusmir Zaimovic (33) dan istrinya, katolik Bosnia Sandra (32), sedang membolak-balik album foto keluarga di apartemen mereka di Sarajevo pada tanggal 12 Januari 2013. Pasangan beda etnis seperti keluarga Zaimovic menjadi langka di tahun-tahun setelah perang Bosnia 1992-1995 yang membagi negara sesuai batasan etnis, namun saat ini pasangan seperti mereka seiring waktu muncul kembali, mencerminkan keberagaman yang berkembang di negara itu.
Muslim Bosnia Rusmir Zaimovic (33) dan istrinya, katolik Bosnia Sandra (32), sedang membolak-balik album foto keluarga di apartemen mereka di Sarajevo pada tanggal 12 Januari 2013. Pasangan beda etnis seperti keluarga Zaimovic menjadi langka di tahun-tahun setelah perang Bosnia 1992-1995 yang membagi negara sesuai batasan etnis, namun saat ini pasangan seperti mereka seiring waktu muncul kembali, mencerminkan keberagaman yang berkembang di negara itu.

SARAJEVO, 8 April 2013. Oleh Rusmir SMAJILHODVIC (AFP) – Sandra Zaimovic, seorang katolik Kroasia Bosnia dan suaminya Rusmir, seorang muslim Bosnia, sedang menantikan saat merayakan Idul Fitri dan Natal bersama calon bayi mereka tahun ini.

Pasangan beda etnis seperti keluarga Zaimovic menjadi langka di tahun-tahun setelah perang Bosnia 1992-1995 yang membagi negara sesuai batasan etnis, namun saat ini pasangan seperti mereka seiring waktu muncul kembali, mencerminkan keberagaman yang berkembang di negara itu.

’Merupakan keuntungan bagi anak-anak dapat bertumbuh dalam dua budaya dan saya sangat bahagia bahwa, meski saya seorang katolik, nama belakang saya adalah nama muslim,’ ujar Sandra, seorang pekerja sosial berusia 32 tahun.

Rusmir dan Sandra, yang juga anak dari pasangan pernikahan campur antara ibu asal Kroasia Bosnia dan ayah asal Serbia, bertemu di tahun 2003 di sebuah pesta seorang teman.

Mereka kemudian menikah dua tahun berselang, salah satu dari pernikahan campuran etnis yang jarang terjadi di Bosnia sejak adanya perang.

‘Pernikahan kami atas nama cinta – kami tidak pernah mempertanyakan soal etnis atau keyakinan masing-masing,’ jelas Rusmir, insinyur komputer berusia 33 tahun.

Keluarga mereka tidak berkeberatan, tapi banyak orang lain yang mempertanyakan hubungan mereka.

‘Saya sering bertemu orang-orang yang menanyakan bagaimana reaksi ibu saya, bagaimana kami berdua mengatasi semuanya. Komentar-komentar seperti itu mengingatkan saya di mana kami tinggal,’ tambah Sandra.

Meski demikian, setelah beberapa tahun berlalu, Sandra dan Rusmir memiliki kelompok pertemanan yang karib, banyak dari mereka yang juga pasangan campuran etnis, atau mereka yang tidak mempermasalahkan pilihan hidup mereka.

Bekas republik Yugoslavia ini dulu pernah menjadi sebuah contoh nyata dari keberagaman, tapi masyarakat Bosnia terpecah belah sepanjang perang membuat tiga komunitas etnis utamanya – Serbia, Kroasia dan Muslim – menjadi saling bermusuhan satu sama lain.

Banyak pasangan campuran yang tidak sanggup menahan tekanan waktu sehingga mereka berpisah atau meninggalkan negaranya.

Kebanyakan dari mereka tidak pernah kembali.

Sekarang negara ini memiliki populasi hanya 3,8 juta, 40 persen di antaranya Muslim, 31 persen Serbia (utamanya Kristen Ortodoks) dan 10 persen Kroasia Bosnia.

Lebih dari dua juta orang dipaksa meninggalkan rumah mereka selama masa perang, 100.000 di antaranya tewas.

Di tahun 1992, sebelum perang pecah, hampir 13 persen dari seluruh pasangan menikah di Bosnia adalah multi-etnis, namun saat ini jumlah mereka hanya empat persen.

Sekalipun tidak ada statistik yang bisa diandalkan pada tahun-tahun setelah perang, angka terbaru cenderung meningkat di akhir tahun 1990-an dan di awal 2000-an, ketika pembedaan etnis masih kuat mengakar.

Akibat perang: sikap saling curiga

Kampanye ‘pembersihan etnis’ yang dipimpin oleh Serbia Bosnia terhadap Muslim Bosnia, termasuk pembantaian Srebrenica atas 8.000 laki-laki dewasa dan anak-anak muslim di bulan Juli 1995 – ditetapkan sebagai pemusnahan etnis oleh dua mahkamah internasional – menghancurkan lapisan perekat perdamaian antarkomunitas.

Etnolog Ugo Vlaisavljevic menyatakan bahwa luka psikologis akibat perang memang cukup dalam. ‘Sebagai akibat dari perang dahsyat yang kami alami di tahun 1990-an, sebuah kesalingcurigaan yang mendalam muncul… dan tentunya memberi dampak yang cukup besar terhadap kehidupan personal orang-orang.’

Sambil menyoroti diskriminasi institusional yang melekat pada sistem politik yang diberlakukan oleh kesepakatan damai tahun 1995, Neda Perisic, seorang antropolog, menunjukkan bahwa pasangan seperti keluarga Zaimovics menghadapi lebih dari sekadar tekanan sosial.

‘Di Bosnia, tidak ada hak individu, yang ada hanya hak kolektif,’ katanya, menjelaskan bahwa hampir semua pekerjaan di administrasi publik atau perusahaan yang dikendalikan oleh negara dikhususkan bagi anggota dari tiga kelompok yang disebut sebagai unsur utama masyarakat.

Menurut konstitusi Bosnia, negara dibentuk dari tiga unsur utama masyarakat: Muslim, Serbia dan Kroasia – dan ‘kelompok lain-lain’, sebuah kategori yang mencakup seluruh kelompok etnis yang menetap di negara tersebut.

Neda Perisic mengingatkanyatakan, dalam sistem yang mengutamakan hak tiga kelompok etnis utama, mereka yang dianggap termasuk sebagai ‘lain-lain’ memiliki kesempatan yang terbatas. ‘Dalam sistem seperti ini, anak-anak dari hasil pernikahan campur akan termarjinalkan,’ ia menambahkan.

Karena anak-anak etnis campuran dikategorikan sebagai ‘lain-lain’, Perisic mengatakan bahwa sebagai orang dewasa nantinya mereka akan memiliki sedikit peluang mendapatkan pekerjaan di sektor publik, yang sejauh ini merupakan penyerap tenaga kerja terbesar di negara ini.

Mengingat Bosnia kini menghadapi tingkat pengangguran di atas 40 persen, ini menjadi rintangan yang cukup besar.

Hampir satu generasi berlalu sejak perang terjadi, namun prasangka masih ada, seperti yang ditunjukkan oleh tulisan aktor dan sutradara Serbia Bosnia yang terkenal, Nikola Pejakovic, baru-baru ini. Dalam kolom mingguannya di harian terbesar Serbia Bosnia, Pejakovic menggambarkan pernikahan campur sebagai sebuah ‘malapetaka’. Ia menulis, ‘Mereka adalah bagian dari rencana (bekas) rezim komunis Yugoslavia yang bermain-main dengan manusia dan genetika.’
Aktor multi-etnis Sanin Milavic, yang juga melakukan pernikahan campur, membalas tulisan itu: ‘Jangan ikut campur urusan kami!’ dalam sebuah unggahan di Facebook page yang menjadi terkenal.

‘Di sini, kita mendapat identitas sejak dilahirkan, seperti seekor sapi yang dicap dengan besi panas, seolah-olah identitas bukanlah sesuatu yang kami bangun sendiri,’ Milavic berujar.

Tentang problematika yang dihadapi anak-anak etnis campur, dia menyimpulkan: ‘Saya bukannya khawatir tentang diri sendiri, tapi buat anak saya yang, menurut konstitusi di negeri ini, tidak pernah ada.’

Leave a Reply
<Modest Style