Modest Style

Palestina Rayakan Kemenangan Mohammed Assaf di Arab Idol

,
Warga Palestina di kota Ramallah wilayah Tepi Barat, bersorak-sorai saat menyaksikan penampilan Mohammed Assaf di TV, Jumat (21/6). Assaf adalah finalis asal Palestina pada ajang pencarian bakat Arab Idol. Sejak Maret lalu, keindahan suara warga Jalur Gaza berumur 22 tahun itu telah mengantarkannya ke babak final kompetisi di Beirut yang diawali dengan 27 kontestan itu. AFP PHOTO / ABBAS MOMANI
Warga Palestina di kota Ramallah wilayah Tepi Barat, bersorak-sorai saat menyaksikan penampilan Mohammed Assaf di TV, Jumat (21/6). Assaf adalah finalis asal Palestina pada ajang pencarian bakat Arab Idol. Sejak Maret lalu, keindahan suara warga Jalur Gaza berumur 22 tahun itu telah mengantarkannya ke babak final kompetisi di Beirut yang diawali dengan 27 kontestan itu. AFP PHOTO / ABBAS MOMANI

GAZA, 23 Juni 2013 (AFP)—Ribuan warga Palestina turun ke jalan sambil bersorak-sorai, Minggu (21/6) pagi, setelah Mohammed Assaf memenangi kontes menyanyi pan Arab yang telah ditonton jutaan pemirsa TV sejak Maret silam.

Kemenangan Assaf yang ditayangkan di TV, Sabtu (20/6), menjadi prestasi pertama bagi penyanyi asal Palestina itu, sekaligus memicu reaksi yang belum pernah terjadi di wilayah jajahan Israel tersebut.

Assaf, pemenang kontes Arab Idol yang digelar di Beirut, mendedikasikan kemenangannya bagi ‘rakyat Palestina, yang telah menderita selama lebih dari 60 tahun akibat penjajahan (Israel)’.

‘Mohammed Assaf adalah Idola Arab!’ seru presenter acara yang diadopsi dari kontes Pop Idol (Inggris) itu, ketika confetti berwarna-warni menghujani para penonton yang bersorak-sorai.

Tak lama setelah kemenangannya, Assaf terpilih menjadi duta pemuda UNRWA, badan PBB yang bertugas menangani para pengungsi Palestina. Ia juga dinobatkan sebagai duta persahabatan oleh Presiden Palestina, Mahmud Abbas.

Mengenakan tuksedo, Assaf (23) yang berwajah ganteng itu dinyatakan menang setelah penantian selama berminggu-minggu dari jutaan pendukungnya, yang telah menyaksikan penampilannya dari TV layar besar di kafe dan restoran di seantero Gaza dan daerah jajahan Tepi Barat. Mereka mendengarkan dengan setia saat kedahsyatan suara Assaf mengantarkannya melewati kompetisi setiap minggu.

Dalam balutan gaun tradisional Palestina berhias sulaman, ibu Assaf terlihat menangis sewaktu menyampirkan bendera Palestina berwarna hitam, hijau, putih dan merah di bahunya.

Perayaan pun seketika muncul di wilayah Gaza, kampung halaman Assaf, juga di Tepi Barat, di mana  puluhan ribu orang turun ke jalan-jalan.

Dengan berbagai poster raksasa bergambar wajahnya menghiasi jalanan, dalam beberapa bulan terakhir ini, penyanyi asal Gaza itu telah menjadi sumber kebanggaan warga Palestina di mana-mana.

Setiap episode dari acara dwimingguan yang disiarkan saluran televisi pan-Arab, MBC, dari Beirut itu telah diikuti dengan antusiasme tinggi. Para penggiat media sosial pun mengerahkan akun masing-masing untuk menambah jumlah suara terhadap kandidat kesayangan mereka.

Di Ramallah, kota di wilayah Tepi Barat, perayaan setelah hasil akhir diumumkan menyebar sampai ke makam mantan pemimpin Palestina, Yasser Arafat.

‘Suasananya sulit dijelaskan. Semua orang merayakannya. Terima kasih, Mohammed Assaf, karena telah membawa kebahagiaan di hati kami. Kami sudah lama sekali tidak merasa sebahagia ini,’ ungkap seorang warga Gaza, Mohammad Dahman, kepada kantor berita AFP via Internet.

Di Yerusalem Timur yang diduduki Israel, keriaan berganti kericuhan saat sejumlah pemuda Palestina terlibat bentrok dengan polisi Israel. Beberapa di antaranya ditahan.

Di Lebanon utara, para pengungsi Palestina di kamp Baddawi menembakkan senapan ke udara dan turun ke jalan-jalan, membunyikan klakson mobil mereka untuk merayakan kemenangan Assaf.

Menurut wartawan AFP, perayaan juga terjadi di bagian selatan kota Sidon.

Dilahirkan di Misrata, Libya, Assaf dibesarkan di kamp pengungsian Khan Yunis yang penuh sesak di Jalur Gaza, salah satu daerah paling miskin dan padat penduduk di dunia, di mana ruang gerak warganya, distribusi barang serta bantuan finansial sangat dibatasi oleh Israel.

Gerakan Perlawanan Islam Hamas, yang telah menguasai Gaza sejak 2007, tidak menyetujui acara-acara yang mereka anggap tidak islami, seperti Arab Idol, tetapi tidak secara resmi menghalangi dukungan untuk Assaf maupun acara tersebut.

Menurut laporan kantor berita resmi Palestina, Wafa, presiden Mahmud Abbas sempat menelepon Assaf selama kontes berlangsung untuk memberikan dukungannya.

Di episode Arab Idol sebelumnya, penyanyi terkenal Lebanon dan anggota juri, Ragheb Alama, telah menggambarkan Assaf sebagai ‘roket terbaik’ yang pernah diluncurkan dari Gaza, dan sebagai ‘roket perdamaian, bukan perang’.

Ketika mengumumkan pencalonan Assaf sebagai duta pemuda wilayah Palestina beberapa menit setelah kemenangannya, ketua UNRWA, Filippo Grandi, mengatakan, ‘Semua rakyat Palestina ikut gembira atas kemenangannya. Musik Mohammed adalah bahasa universal dengan pesan yang ditujukan kepada kita semua. Betapa hebatnya seorang pengungsi Palestina dari Gaza bisa menyatukan kita seperti ini.”

Dari pihak Israel, penyanyi muda asal Palestina itu mendapat ucapan selamat dari juru bicara militer Avichai Adraee melalui sebuah twit dalam bahasa Arab.

Pada 2006, Israel memberlakukan blokade darat, laut dan udara di Gaza setelah milisi Palestina di sana berhasil menangkap seorang tentara Israel.

Pertengahan 2007, aksi blokade tersebut lebih diperketat ketika Gaza diambil alih Gerakan Perlawanan Islam Hamas, untuk kemudian agak dilonggarkan menyusul kecaman internasional pascaserangan Israel terhadap armada kapal kemanusiaan yang menuju wilayah tersebut.

Leave a Reply
<Modest Style