Modest Style

Oxfam: Afghanistan Membutuhkan Lebih Banyak Polwan

,
Satuan Polisi Nasional Afghanistan berbaris sepanjang upacara kelulusan pada pusat pendidikan polisi di Herat. Foto AFP / Aref Karimi
Satuan Polisi Nasional Afghanistan berbaris sepanjang upacara kelulusan pada pusat pendidikan polisi di Herat. Foto AFP / Aref Karimi

KABUL, 10 September 2013 (AFP) – Jumlah kaum perempuan dalam pasukan polisi Afghanistan hanya mencapai satu persen dan sebagai akibatnya kaum perempuan enggan untuk memperjuangkan keadilan atas bertambahnya tingkat kekerasan, demikian agen bantuan internasional, Oxfam, menyampaikan pada hari Selasa.

Terdapat rata-rata satu petugas polwan untuk 10.000 perempuan di Afghanistan, di mana laporan tindak kekerasan terhadap perempuan terus meningkat hingga 25 persen di tahun 2011-2012, jelas Oxfam dalam laporannya.

Perempuan yang tergabung dalam kepolisian harus menghadapi tantangan yang berat, baik dari dalam maupun dari luar kesatuan, seperti adanya kekerasan, pelecehan seksual dan kurangnya kesetaraan perlakuan dibanding terhadap kolega laki-laki, demikian dijelaskan.

‘Polisi wanita seringkali tidak dilengkapi perlengkapan dasar, seperti seragam, yang diterima kolega laki-laki mereka. Banyak yang terpaksa melakukan tugas-tugas kasar (seperti membuat teh),’ dikatakan dalam laporan.

Banyak yang menerima pelatihan seadanya atau bahkan tidak sama sekali  dan jarang bisa menjalankan fungsi inti kepolisian seperti melakukan investigasi kejahatan atau penangkapan, tambahnya.

‘Kami tidak diperlakukan setara dengan laki-laki. Bahkan meski kami berada dalam pangkat yang sama dengan para lelaki, kamilah (para perempuan) yang diutus komandan untuk membuat teh atau melakukan tugas mengetik,’ demikian ujaran seorang perwira perempuan.

Juru bicara kementerian dalam negeri Sediq Sediqqi mengakui bahwa ada permasalahan yang melibatkan perempuan dalam kesatuan, namun ia mengatakan bahwa pemerintah telah memastikan untuk memeranginya dan akan merekrut lebih banyak perwira perempuan.

‘Banyak kaum perempuan yang tidak tertarik karena ini adalah tugas yang sulit. Kami terus-menerus terlibat dalam pemberantasan terorisme setiap hari,’ Sediqqi menyampaikan kepada AFP.

‘Terdapat beberapa hambatan sosial juga. Publik masih belum siap untuk menerima kenyataan bahwa perempuan bisa bergabung dengan kepolisian,’ ujarnya.

Ia mengatakan sekitar 2.200 perempuan bertugas di kesatuan polisi nasional Afghanistan, namun pemerintah berencana untuk menggandakan jumlahnya di tahun 2014, sebelum pelaksanaan pemilihan presiden di bulan April.

Pasukan Afghanistan secara resmi bertanggung jawab terhadap keamanaan di seluruh negeri, menandai tonggak peristiwa besar di mana pasukan tempur pimpinan AS bersiap ditarik mundur setelah 12 tahun menumpas Taliban.

Pasukan keamanan Afghanistan yang beranggotakan 350.000 perwira, termasuk di dalamnya 157.000 polisi, mengalami lonjakan serangan seiring penarikan diri pasukan NATO, dengan jumlah korban polisi dan tentara yang meningkat 15-20 persen sejak 2011.

Leave a Reply
<Modest Style