Modest Style

O’Balihara: Memelihara Harapan Bagi Nusantara

,

Festival film dokumenter bertema ekologi, South to South Film Festival, menawarkan perspektif baru dalam upaya pelestarian lingkungan. Najwa Abdullah melaporkan.

[Not a valid template]

Satu-satunya festival film lingkungan di Indonesia, South to South Film Festival (STOS), secara sukses digelar pada tanggal 14-18 Maret 2014 lalu. Acara dua tahunan ini berlangsung di dua tempat di Jakarta, yaitu Goethe-Institut dan Kineforum/ TIM.

STOS pertama kali diadakan pada tahun 2006 atas inisiatif konsorsium lembaga swadaya, perkumpulan dan komunitas yang bergerak atas nama pelestarian lingkungan di Indonesia. Fokus program STOS adalah menjadi sebuah wadah masyarakat untuk membangun solidaritas antar warga desa dan kota. STOS diharapkan dapat berfungsi sebagai media yang menggugah kesadaran serta daya kritis publik atas isu atau kasus lingkungan serta relasinya dengan sosial dan politik.

Pada penyelenggaraan yang kelima di tahun ini, STOS mengangkat tema “O’Balihara: Memelihara Harapan Bagi Nusantara”. “O’Balihara” adalah sebuah kata dari bahasa suku Kei di Maluku Utara yang bermakna “pelihara”. Pemilihan tema ini didasari oleh sebuah realita yang ironis, bahwa di balik semua kemajuan bangsa dalam bidang sosial, politik, dan ekonomi, kondisi alam Indonesia semakin kritis dan cenderung diabaikan.

STOS 2014 berhasil memukau para penikmat film dan menjadi ajang kreativitas bagi para sineas muda untuk menunjukkan hasil karya mereka. Selain kompetisi film pendek bertema sosial dan lingkungan, ada pameran produk-produk Nusantara serta foto-foto bertema alam yang menyambut penonton di area lobi, pertunjukan Stand-Up Comedy, pertunjukan seni teatrikal dan penampilan dari seniman PM Toh.

Acara dibuka dengan penayangan film peraih nominasi Oscar produksi Spanyol Even The Rain karya sutradara Iciar Bollain. Film ini berlatar belakang perang air di Bolivia pada April 2000.

Ditemui di acara tersebut, direktur festival Voni Novita mengatakan bahwa penyusunan konsep acara memiliki tantangan tersendiri karena selama ini, STOS selalu berusaha untuk menghilangkan citra “seram” yang kerap kali dikaitkan dengan isu lingkungan.

Kita terbiasa mengkonsumsi, menghabiskan barang-barang begitu saja tanpa berpikir bahwa ada perjuangan yang sangat keras di balik nasi yang kita makan

“Oleh karena itu kami selalu menawarkan sesuatu yang baru. Kali ini dengan menghadirkan Stand-Up Comedy yang mengemas isu lingkungan dalam sebuah satire. Penonton dapat terhibur dan pesan yang tersirat pun tersampaikan,” ujar Voni.

Antusiasme masyarakat yang semakin meningkat dari tahun ke tahun tercermin oleh banyaknya jumlah film yang masuk untuk kompetisi film pendek, yakni sebanyak 63; 19 judul film fiksi dan 44 judul film dokumenter. Direktur program, Dimas Jayasrana, mengaku cukup kesulitan dalam menyeleksi film-film yang layak menang karena secara keseluruhan, semuanya berkualitas bagus dan mengangkat isu-isu yang menarik.

“Tahun ini kami lebih menitikberatkan pada kualitas isi film dalam proses penjurian, walaupun kami juga mempertimbangkan segi artistiknya,” jelas Dimas.

Setiap film dalam STOS menggulirkan cerita yang tidak biasa yang mungkin tidak pernah terpikirkan oleh masyarakat mapan perkotaan (masyarakat hilir). Contohnya, tentang bagaimana kebutuhan hidup sehari-hari masyarakat urban dihasilkan oleh kerja keras masyarakat desa yang terpinggirkan (masyarakat hulu).

“Kita terbiasa mengkonsumsi, menghabiskan barang-barang begitu saja tanpa berpikir bahwa ada perjuangan yang sangat keras di balik nasi yang kita makan, baju yang kita pakai, dan lain sebagainya”, jelas Voni.

Film “Setiap Hari” karya Jenny Lumalessil merangkum fenomena ini dalam sebuah pertanyaan, “Banyak hal yang kita butuhkan setiap hari. Tetapi siapkah kita menyediakan kebutuhan-kebutuhan itu?”

“Perspektif masyarakat Indonesia dalam melestarikan lingkungan pun cenderung normatif, sekedar ‘jangan buang sampah sembarangan’, atau ‘nanti akan banjir’ dan saya rasa yang seperti ini tidak efektif,” ucap Dimas. Menurutnya, masyarakat – terutama anak-anak –perlu diedukasi secara lebih mendalam dengan menanamkan kebiasaan-kebiasaan seperti menggunakan kertas secukupnya, menggunakan air secara bijaksana, mengurangi membeli barang baru dan beralih ke produk-produk ramah lingkungan.

Pertimbangan inilah yang menjadi alasan mengapa dari tahun ke tahun STOS selalu menyediakan kategori film anak, karena di tangan anak-anaklah masa depan ekologi Indonesia dan dunia berada.

Menariknya lagi, STOS 2014 juga menghadirkan diskusi tentang perempuan dengan langsung mendatangkan para pejuang pangan perempuan dari berbagai daerah sebagai pembicara di hari ketiga penyelenggaraan. Selama hampir dua jam, tujuh perempuan perkasa ini memaparkan kisah perjuangan pangan mereka yang bertujuan memberikan penghidupan bagi keluarga mereka namun juga merupakan upaya yang selaras dengan alam, komunitas dan lingkungannya. Lewat pengkreasian sampah, penggagasan perdagangan antar-pulau, pengaktifan lahan yang terbengkalai, penanaman pohon bakau dan lain sebagainya, tujuh perempuan ini mengangkat harkat dan martabat pangan lokal agar dapat menjadi tuan di negeri sendiri.

Selain film-film yang mengangkat isu lokal, STOS 2014 juga menghadirkan sekumpulan film pendek dari berbagai negara di Asia Tenggara. Film-film tersebut memberikan berbagai panorama kawasan Asia Tenggara yang memiliki banyak sekali kemiripan dengan persoalan yang dihadapi di negara kita.

“Acara ini pun diberi nama South to South karena kami ingin mengumpulkan isu-isu negara-negara selatan yang didominasi oleh negara berkembang, seperti Indonesia. Secara global, masyarakat selatan sendiri adalah hulu, sementara masyarakat utara, negara-negara maju, adalah hilir.”

“Kita di selatan kaya sumber daya alam, tapi miskin karena terus dieksploitasi oleh mereka yang memiliki sumber daya manusia yang lebih maju. Dampak perubahan iklim pun paling terasa di selatan, karena kitalah yang berinteraksi langsung dengan alam dalam kehidupan sehari-hari yang semakin tidak bersahabat”, jelas Voni.

Pada akhirnya, acara ini diharapkan akan mengawali sebuah perubahan serta memberikan pencerahan bagi masyarakat Indonesia dan dunia. Isu-isu lingkungan sangat penting bagi keberlangsungan hidup kita di muka bumi, namun sayangnya seringkali terabaikan.

“Mungkin lewat kekuatan film, kita bisa menjembatani kesenjangan antara hilir dan hulu. Kita hanya memiliki satu bumi, sudah sepatutnya dijaga oleh semua pihak”, tutup Voni di akhir acara.

Leave a Reply
<Modest Style