Modest Style

Muslimah Belanda Beri Kesan Positif di Masyarakat

,

Sebuah organisasi dari Belanda yang dikenal berkat sejumlah aksinya yang cerdas dan jenaka semakin memperkuat relasinya dengan keluarga kerajaan serta meninggalkan ‘kesan’ positif di masyarakat. Sya Taha menuturkan.

[Not a valid template]

Pada 30 April lalu, Ratu Beatrix (yang kini bergelar Putri Beatrix) dari Belanda secara resmi mengumumkan pengunduran dirinya dari tahta kerajaan sekaligus menobatkan putranya, Willem-Alexander IV, sebagai raja yang baru (sekaligus raja pertama sejak 1890!).

Diperingati sebagai Koninginnedag, atau Queen’s Day (Hari Ulang Tahun Ratu), tanggal 30 April menjadi hari libur yang sangat digemari orang Belanda. Pasalnya, dalam satu hari itu, semua orang mengenakan baju atau atribut oranye, menggelar pasar-pasar loak, mengadakan berbagai pertunjukan jalanan, dan bersuka ria.

Beberapa perusahaan di Belanda merayakan peringatan Queen’s Day terakhir tahun ini dengan memberikan penawaran khusus dan diskon bagi produk-produk mereka. Al Nisa, perkumpulan bagi muslimah Belanda, melihat ini sebagai kesempatan untuk mempromosikan organisasi mereka serta menyampaikan penghormatan dan terima kasih kepada keluarga kerajaan. Kedekatan hubungan Al Nisa dan pihak kerajaan terwujud dalam bentuk undangan makan malam serta pertemuan Tahun Baru dengan agenda mengenali dan mengakui esensi gerakan tersebut.

Tetapi, ada satu kejadian khusus yang telah meninggalkan kesan mendalam bagi kelompok Al Nisa. Pada 2012, Ratu Beatrix sempat mendatangi sejumlah masjid saat mengadakan kunjungan diplomatik ke Uni Emirat Arab dan Oman. Untuk menghormati tempat ibadah umat Islam tersebut, ia memasang sehelai kerudung merah dan biru terang di atas topi bertepi lebar yang menjadi ciri khasnya.

Sekembalinya dari kedua negara itu, dalam perdebatan di parlemen Belanda, politisi sayap kanan Geert Wilders menyatakan ratu telah ‘melegitimasi penindasan terhadap perempuan’ dengan memakai kerudung. Ucapan itu kabarnya membuat Ratu Beatrix sangat jengkel dan dalam cara yang paling tidak diplomatis, menanggapi komentar Wilders sebagai ‘omong-kosong’—respons luar biasa yang sangat dihargai Al Nisa. Perdana Menteri Belanda, Mark Ruette, pun ternyata mendukung tindakan ratu sebagai tanda penghormatannya kepada rumah ibadah.

Sejumlah kampanye yang dilancarkan Al Nisa secara historis bertujuan untuk menanggapi dengan cepat berbagai komentar para politisi di wilayah publik demi menghindari iklim negatif pada bidang politik. Caranya adalah dengan meluruskan segala miskonsepsi dalam usaha yang informatif dan unik. Beberapa aksi sebelumnya berfokus pada perdebatan mengenai larangan pemakaian burka (‘Get Real’), serta kecurigaan dan salah kaprah terhadap perempuan muslim (‘Real Dutch‘ dan ‘Do You Know Me?‘)

Al Nisa berharap, raja baru Belanda, Willem-Alexander, beserta istrinya, Ratu Maxima, akan melestarikan pemikiran terbuka ibunya. Jadi mereka memutuskan untuk mengirimkan pesan kepada pihak kerajaan agar menyatukan masyarakat dengan sebuah kampanye baru.

Perubahan peraturan dalam kerajaan biasanya ditandai dengan menerbitkan uang logam atau perangko model baru. Penobatan Raja Willem-Alexander pun telah dirayakan dengan perangko versinya sendiri. Bagaimana jadinya apabila muncul desain perangko bergambar perempuan muslim yang tampak anggun dan memancarkan visi?

Al Nisa lalu membuat desain perangko bergambar muslimah dalam balutan gaun khas Maroko yang disebut kaftan, dengan detail keperakan di kancing dan ikat pinggangnya. Untuk warnanya, mereka memilih oranye—warna kebangsaan kerajaan Belanda. Sebagai sentuhan terakhir, modelnya mengenakan kerudung oranye terang lengkap dengan tiara. Ia memandang ke kejauhan, kedua lengannya bertolak pinggang serta memancarkan keyakinan dan ketenangan diri.

Perangko bergambar muslimah
Perangko bergambar muslimah

Koleksi perangko itu diluncurkan pada 30 April 2013 untuk merayakan pengunduran diri Ratu Beatrix dari tahta sekaligus penobatan Raja Willem-Alexander, yang diperingati di seluruh penjuru negeri. Al Nisa juga mengirimkan satu set perangko yang sama kepada keluarga kerajaan sebagai tanda penghormatan.

Dalam beberapa hari pertama, kampanye tersebut telah dihujani beragam komentar positif melalui media sosial. Gerakan ini pun diliput oleh sejumlah surat kabar dan radio setempat, serta menarik perhatian media Austria dan Perancis.

Sejauh ini sudah sekitar 1.250 perangko berhasil terjual dan pemesanan masih terus dilayani hingga kini. Seorang suporter bahkan berencana menggunakan perangko tersebut untuk undangan pernikahannya!

Hanya dalam beberapa minggu perencanaan dan melaksanakan kampanye mereka yang dilakukan secara pro bono (tanpa bayaran), organisasi Al Nisa telah menginspirasi kita untuk melihat betapa banyak yang dapat diraih sejumlah perempuan Muslim yang berbekal kreativitas, gairah dan komitmen.

Apabila Anda ingin mendukung kampanye ini dengan cara membeli perangko, silakan mengirimkan e-mail ke info@alnisa.nl

Untuk mengetahui lebih  banyak tentang kampanye ‘Real Dutch’ Al Nisa dan informasi lainnya, baca juga Kampanye Islami Sebarkan Kedamaian dan Cinta.

Leave a Reply
<Modest Style