Modest Style

Muslim Rohingya Terancam Terlunta-lunta di Indonesia

,
Pengungsi Rohingya, bagian dari rombongan pengungsi sebanyak 121 orang, termasuk enam perempuan dan dua anak-anak, tiba di penampungan di Punteuet, Lhokseumawe, Provinsi Aceh, tanggal 27 Februari 2013 setelah ditemukan para nelayan dalam kondisi terapung-apung sekitar 25 km ujung utara kepulauan Sumatera. Nelayan telah menyelamatkan lebih dari 100 orang etnis Rohingya pencari-suaka dari Myanmar yang ditemukan mengapung dengan perahu kayu di perairan barat Indonesia, demikian penjelasan seorang petugas. Foto AFP / Reza Juanda
Pengungsi Rohingya, bagian dari rombongan pengungsi sebanyak 121 orang, termasuk enam perempuan dan dua anak-anak, tiba di penampungan di Punteuet, Lhokseumawe, Provinsi Aceh, tanggal 27 Februari 2013 setelah ditemukan para nelayan dalam kondisi terapung-apung sekitar 25 km ujung utara kepulauan Sumatera. Nelayan telah menyelamatkan lebih dari 100 orang etnis Rohingya pencari-suaka dari Myanmar yang ditemukan mengapung dengan perahu kayu di perairan barat Indonesia, demikian penjelasan seorang petugas. Foto AFP / Reza Juanda

LHOKSEUMAWE, 5 Juli 2013. Oleh Angela Dewan (AFP) – Sekelompok pencari-suaka Rohingya dari Myanmar beribadah dengan khusyuk bersama-sama warga Indonesia di sebuah masjid di Sumatera, sebuah bukti solidaritas yang mereka temukan di negara dengan penduduk mayoritas-muslim terbesar dunia, setelah aksi melarikan diri dari pembantaian etnis.

Para awak kaum minoritas muslim yang teraniaya ini masih terguncang setelah 25 hari perjalanan yang melelahkan di laut lepas – namun sangat bersyukur tiba di sebuah negara yang mereka rasakan cukup nyaman seperti di rumah sendiri, meski tak ada kesempatan bagi mereka untuk hidup normal di sini.

‘Indonesia, negara muslim, bagus,’ ujar Muhammad Yunus, 25 tahun, dalam bahasa Inggris yang terbata-bata, setelah beribadah shalat di pusat tahanan imigrasi di kota Lhokseumawe.

Namun meski masyarakat luas menerima pengungsi Rohingya yang makin banyak terdampar di Indonesia, pihak pemerintah tampaknya tidak menyambut baik keberadaan mereka.

Walaupun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah membuat pernyataan publik akan membantu warga minoritas tak-bernegara itu, pengungsi Rohingya yang terdampar di Indonesia bisa berujung pada ketidakpastian hukum selama bertahun-tahun.

Negara Myanmar dengan penduduk mayoritas-Buddha menganggap penduduknya yang terdiri dari sekitar 800.000 orang etnis Rohingya sebagai imigran ilegal Bangladesh, dan dengan semakin meruncingnya pertikaian etnis membuat mereka melarikan diri dalam jumlah yang terus bertambah.

Di saat negara-negara lain di Asia tidak mau menerima mereka, arus kedatangan pengungsi Rohingya ke Indonesia semakin bertambah.

Setelah beberapa insiden di mana Thailand dituduh mengusir mereka kembali ke laut, 2.000 pengungsi Rohingya mendarat awal tahun ini dan telah ditahan di kamp pengungsi. Bangkok telah menyatakan tidak mampu menampung lebih banyak lagi, sementara Malaysia menyampaikan bahwa jumlah mereka sudah mencapai kapasitasnya.

Kebanyakan warga Rohingya mulanya tidak melihat Indonesia sebagai tujuan akhir mereka dan berharap memanfaatkannya sebagai titik transit dalam rute perjalanan menuju Australia, di mana lebih dari 220 orang telah tiba dengan perahu pencari suaka beberapa tahun lalu.

Begitu tiba di Indonesia, banyak warga Rohingya ditempatkan di pusat tahanan serupa-bui untuk waktu yang lama sementara kasus mereka diproses.

Mereka yang diberi status pengungsi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa dianggap beruntung namun mereka hanya bisa menikmati hak yang terbatas dikarenakan Indonesia belum menandatangani konvensi PBB perihal pengungsi. Sehingga Indonesia tidak bisa menerima mereka sebagai warga negara permanen dan mereka tidak dapat berkerja atau bersekolah selama menunggu penempatan mereka.

‘Kami tidak bisa berbuat apa-apa di sini’

Di sebuah kompleks pemukiman pengungsi di Medan, Sumatera, Rohana Fetikileh terlihat ngeri saat membayangkan kekacauan yang telah mengguncang negara bagian Rakhine, dari mana ia melarikan diri di tahun 2010.

Rakhine adalah tempat pecahnya dua peristiwa pertikaian etnis berdarah antara Rohingya dan umat Buddha di Myanmar tahun lalu. Sejak saat itu, serangkaian peristiwa lanjutan kerusuhan komunal di seluruh Myanmar telah menyurutkan optimisme dunia internasional terhadap reformasi politik negara tersebut yang secara dramatis mengakhiri kekuasaan militer selama beberapa dekade.

‘Jika Indonesia menerima kami, maka kami akan menetap,’ demikian ujar Fetikileh kepada AFP, sambil menggendong bayi berusia 11 bulan dengan lengannya sementara anak-anak pengungsi lainnya bermain tak jauh darinya.

‘Selama kami bisa bekerja dan ada masa depan bagi anak-anak kami,’ tambah ibu dari empat anak yang berusia 28 tahun ini.

Mereka yang diberi status ‘Pengungsi’ menerima bantuan dari PBB berupa: hunian dasar, sekolah untuk anak-anak mereka dan 1,25 juta rupiah ($128) tunjangan bulanan setiap orang.

Namun kebanyakan pengungsi menghabiskan waktu mereka tinggal di hunian publik berfasilitas seadanya, tanpa bisa berbuat banyak.

‘Kami tidak bisa berbuat apa-apa di sini,’ ujar Zahid Husein, 26 tahun, yang telah menunggu untuk penempatan selama lebih dari 11 tahun, yang telah melewati Kamboja, Thailand dan Malaysia.

‘Kami tak bisa bersekolah, jika kami ingin berbelanja juga tidak bisa… dan tak harus mendekam dipenjara lagi,’ ujarnya.

Masa depan suram

Dengan hanya 1,0 persen pengungsi dunia yang berhasil ditempatkan, menurut data PBB, masa depan bagi para pengungsi Rohingya agaknya cukup suram. Australia telah menyatakan akan menerima sekitar 600 pengungsi yang kini bermukim di Indonesia dalam jangka waktu 12 bulan hingga Juni mendatang sebagai bagian dari kelanjutan program kemanusiaan untuk pengungsi, namun angka tersebut tidak termasuk mereka yang berasal dari Myanmar.

Banyak yang berhasil tiba di Australia dengan menumpang perahu kayu reyot dari Indonesia.

Para pengkritik menyatakan bahwa Indonesia gagal mengubah kebijakannya walaupun ada pidato dukungan dan makin tipisnya harapan di negara yang dituju pengungsi Rohingya.

Pihak pemerintah telah menyatakan secara terbuka akan mendukung Rohingya dalam banyak kesempatan – Jakarta menjanjikan $1 juta untuk membantu mereka yang terusir dalam kekerasan di Rakhine tahun lalu dan Presiden Yudhoyono mengangkat isu itu dalam kunjungannya ke Myanmar baru-baru ini.

Terlihat pula kemarahan publik yang semakin memuncak atas penderitaan Rohingya.

Pada bulan April, sebuah rencana untuk mengebom kedutaan Myanmar di Jakarta terendus pihak berwenang, dan pada hari yang sama kelompok Islam garis keras berdemo dalam misi imbauan ‘jihad di Myanmar’ sebagai aksi pembalasan atas kematian umat muslim.

Hingga tahun ini, Perserikatan Bangsa-Bangsa telah mencatat 360 kedatangan pengungsi Rohingya di Indonesia, meningkat dari hanya 30 selama tahun 2010.

Walaupun negara-negara berkembang jarang menerima pengungsi, direktur Lembaga Bantuan Hukum Jakarta Febi Yonesta mengatakan bahwa Indonesia seharusnya memang mempertimbangkan melakukan hal itu, terutama dalam kasus pengungsi Rohingya yang tak-bernegara.

‘Kita memiliki tempat, ekonomi meningkat tajam, mengapa tidak melakukannya?’ demikian ujarnya.

Indonesia telah lama berjanji untuk menandatangani konvensi PBB, namun melewatkan tenggat waktunya sendiri tahun 2009 dan para pengamat yakin bahwa kecil harapan Indonesia akan memenuhi tenggat waktu yang baru di tahun 2014.

Akan tetapi, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa mengatakan bahwa gagalnya penandatanganan semata-mata hanya perkara ‘menumpuknya prioritas’.

‘Kami telah menerima pengungsi Rohingya – kami tidak melakukan aksi penolakan terhadap mereka,’ jelasnya kepada AFP.

Namun ucapan hangat tidak cukup untuk membantu kaum minoritas yang tak diakui kewarganegaraannya di Myanmar dan mati-matian mencari tempat bernaung itu.

Di pusat Lhokseumawe, Mohammad Zuhar bin Sayed Alam menjelaskan bagaimana ia pergi meninggalkan Sittwe, di Rakhine, setelah kaum Buddha menyegel masjidnya dan ia menjadi sangat takut untuk bepergian.

Pria berusia 30 tahun itu berurai air mata saat memperlihatkan dua buah foto kecil bergambar saudara perempuannya dan istrinya yang terpaksa ia tinggalkan.

Leave a Reply
<Modest Style