Modest Style

Muslim Polandia Batalkan Idul Kurban di Tengah Larangan Halal

,
Mufti Polandia Tomasz Miskiewicz (kanan) berbicara dengan aktivis hak-hak binatang dan wartawan yang berkumpul di luar masjid di desa Bohoniki, Polandia timur, pada 15 Oktober 2013. Aktivis hak-hak binatang melakukan protes di luar masjid di Bohoniki, dengan alasan ritual penyembelihan dilarang oleh hukum Polandia. AFP PHOTO/PAP/Artur RESZKO/POLAND OUT
Mufti Polandia Tomasz Miskiewicz (kanan) berbicara dengan aktivis hak-hak binatang dan wartawan yang berkumpul di luar masjid di desa Bohoniki, Polandia timur, pada 15 Oktober 2013. Aktivis hak-hak binatang melakukan protes di luar masjid di Bohoniki, dengan alasan ritual penyembelihan dilarang oleh hukum Polandia. AFP PHOTO/PAP/Artur RESZKO/POLAND OUT

WARSAWA, 15 Oktober 2013 (AFP) – Komunitas muslim Polandia pada Selasa memutuskan untuk tidak melakukan tradisi menyembelih hewan untuk hari raya Idul Adha di tengah protes aktivis hak-hak hewan dan larangan kontroversial mengenai penyembelihan halal.

‘Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, tidak ada penyembelihan di sini hari ini untuk memperingati hari raya,’ Michal Adamowicz, juru bicara komunitas itu, menyatakan pada hari Selasa di desa muslim Tatar di Bohoniki, Polandia timur.

Pemimpin tertinggi muslim negara itu, Mufti Tomasz Miskiewicz, mengatakan komunitasnya menjadi objek ‘perburuan tukang sihir’ selagi para aktivis memprotes penyembelihan halal di dekat sebuah masjid kayu kecil di desa, tempat umat Islam lain sudah siap untuk menyembelih domba.

Beberapa ratus orang keturunan Tatar muslim, yang masuk ke Polandia tiga abad yang lalu, bermukim di daerah tersebut.

Penyembelihan ritual Muslim dan Yahudi dilarang keras di Polandia yang mayoritas Katolik sejak tanggal 1 Januari setelah Mahkamah Konstitusi menganggap ritual itu tidak sejalan dengan undang-undang hak-hak binatang.

Pada tanggal 12 Juli, anggota parlemen membatalkan RUU pemerintah yang akan memulihkan praktik tersebut. Ini membuat berang umat beragama sekaligus peternak dan eksportir daging ke Israel dan negara-negara muslim.

Industri ini mengekspor daging halal dan kosher setara hingga 350 juta euro setahun sebelum adanya larangan.

Peraturan Uni Eropa mengenai penyembelihan ternak dirancang untuk meminimalkan penderitaan hewan, namun kelompok-kelompok keagamaan dikecualikan dari persyaratan yang mengharuskan membius hewan sebelum membunuhnya.

Dalam aturan halal dan kosher yang sudah berlaku ribuan tahun, hewan dibunuh dengan cara tenggorokan mereka disembelih tanpa terlebih dahulu dibuat pingsan.

Pemimpin agama minoritas Islam dan Yahudi Polandia berpendapat larangan itu melanggar kebebasan beragama mereka yang dijamin secara konstitusional, dan komunitas Yahudi telah meminta pengadilan tinggi untuk memutuskan masalah ini.

Muslim Polandia juga mengatakan larangan itu, yang telah mendorong perdebatan sengit baik di dalam maupun luar negeri, cacat hukum di mata hukum Eropa.

‘Harap hormati hak-hak kami, harap hormati Konstitusi dan warisan muslim dan Tatar Polandia, tanpa emosi, dengan cara yang beradab,’ kata Miskiewicz kepada wartawan.

Reaksi pemerintah pada Selasa itu beragam.

Menteri Administrasi Michal Boni – sekutu dekat Perdana Menteri Donald Tusk yang beraliran tengah – mendesak untuk ‘menghormati kebutuhan masyarakat religius selama hari raya keagamaan’.

Namun kementerian pertanian mengeluarkan pernyataan datar bahwa berdasarkan hukum, hewan harus dibius sebelum disembelih di tempat berlisensi.

Warga Yahudi dan Islam masing-masing berjumlah sekitar 20 ribu sampai 30 ribu jiwa, dari sekitar 38 juta penduduk Polandia, yang merupakan anggota Uni Eropa.

Leave a Reply
<Modest Style