Modest Style

Muslim Myanmar ‘Dilarang Bertemu Suu Kyi’ di Jepang

,
Muslim Myanmar 'Dilarang Bertemu Suu Kyi' di Jepang_Aquila Style
Dalam foto ini, seorang pria Rohingya yang tinggal di Jepang menggelar protes di luar Kementerian Luar Negeri Jepang di Tokyo pada 8 November 2012. AFP Photo/Yoshikazu Tsuno

TOKYO, 11 April 2013. Oleh Kyoko Hasegawa (AFP) – Pada hari Kamis, anggota komunitas minoritas muslim Rohingya Myanmar mengatakan mereka dilarang berkumpul untuk menyambut pahlawan demokrasi Aung San Suu Kyi dalam kunjungannya ke Jepang.

Suu Kyi dijadwalkan tiba Sabtu dalam kunjungan pertamanya ke negara itu selama hampir tiga dekade, setelah sempat menjadi peneliti di Universitas Kyoto pada tahun 1985-1986.

Selama kunjungan enam hari tersebut, Suu Kyi diagendakan untuk bertemu dengan beberapa orang dari sekitar 10.000 warga Burma yang tinggal di Jepang, serta dengan Perdana Menteri Shinzo Abe dan Menteri Luar Negeri Fumio Kishida.

Namun Zaw Min Htut, 42, pemimpin dari sekitar 200 muslim Rohingya yang tinggal di Jepang mengatakan, komunitasnya telah diperingatkan bahwa mereka tidak diperkenankan hadir di acara-acara penyambutan Suu Kyi.

“Karena beberapa minoritas Buddha menentang partisipasi kami, meskipun saya sudah berada di Jepang selama puluhan tahun dan telah membantu warga Myanmar lainnya di sini. Saya diberitahu oleh panitia yang juga rekan senegara saya bahwa saya tidak akan dapat bertemu Daw Aung San Suu Kyi,” katanya kepada AFP, menyebut Suu Kyi dengan panggilan kehormatannya.

Ketegangan nyata antarkelompok dalam komunitas ekspatriat Myanmar menggarisbawahi meningkatnya masalah antara kelompok muslim dan Buddha di negara yang telah dilanda gejolak atas reformasi politik yang banyak digembar-gemborkan beberapa tahun terakhir.

Setidaknya 43 orang tewas sepanjang Maret ketika masjid dan rumah-rumah kaum muslim dihancurkan di pusat Myanmar dalam gelombang kekerasan kelompok yang, menurut penuturan para saksi, tampaknya diorganisasi dengan baik.

Bentrokan terakhir adalah yang terburuk sejak pecahnya kekerasan antara kelompok Buddha dan muslim Rohingya di negara bagian barat Rakhine tahun lalu yang menyebabkan banyak orang tewas dan puluhan ribu — sebagian besar muslim — mengungsi.

Rohingya telah digambarkan oleh PBB sebagai salah satu minoritas yang paling teraniaya di dunia.

Para aktivis menyatakan kekecewaan mereka karena Suu Kyi, pemenang Nobel yang menjadi tahanan rumah selama 15 tahun oleh junta militer, tidak bersuara ketika terjadi rangkaian kekerasan berdarah antarkomunitas.

‘Saya benar-benar ingin bertemu langsung dengan dia, tapi saya tidak ingin ada keributan,’ kata Zaw Min Htut.

Seorang pejabat dari Kementerian Luar Negeri Jepang mengatakan keputusan tentang partisipasi pada acara tersebut diambil oleh panitia dan tidak ada hubungannya dengan kementerian.

Zaw Min Htut mengatakan ia telah bertemu dengan para pejabat kementerian pada hari Rabu dan menyerahkan surat kepada Kishida, meminta sang menteri untuk menyampaikan keinginannya agar Suu Kyi menggunakan pengaruhnya dalam mengakhiri kekerasan antarkomunitas.

‘Saya ingin dia menjadi mediator dalam konflik etnis ini, karena jika masalah ini tidak diselesaikan, Myanmar tidak akan menjadi bangsa yang benar-benar damai, walaupun menjadi negara demokrasi,’ katanya kepada AFP.

Hubungan Suu Kyi dengan Jepang berasal dari ayahnya, Jenderal Aung San, yang memimpin gerakan kemerdekaan di negara yang dulu dikenal sebagai Burma dalam melawan kekuasaan kolonial Inggris.

Sejak akhir 1940 Aung San menghabiskan beberapa bulan di Jepang, di mana tentara kekaisarannya — yang belakangan terlibat dalam penjajahan brutal di berbagai penjuru Asia — telah menawarkan bantuan, termasuk uang tunai, persenjataan dan serdadu.

Dua tahun kemudian Aung San mendirikan pemerintahan yang didukung Jepang, tetapi pada tahun 1945 ia meminta bantuan Inggris untuk membebaskan Burma dari penjajahan Tokyo.

Leave a Reply
<Modest Style