Modest Style

Muslim Ahli Unta dari Australia

,

Australia termasyhur dengan keindahan alam serta flora dan faunanya yang unik. Namun, hanya segelintir yang pernah mendengar tentang kaum muslim yang ahli menangani unta membantu para pionir meretas jalan di benua tersebut hingga mencapai kemajuan seperti sekarang. Dunia harus mendengar kisah mereka. Diceritakan oleh Adline A Ghani.

WP

PEDALAMAN AUSTRALIA telah lama dikenal berkat tanahnya yang kaya mineral, hewan-hewan aneh, serta lanskapnya yang mirip permukaan bulan dan luas tak bertepi. Sekelumit sejarah yang terjadi di sana sama menariknya, meskipun kurang dikenal. Sekitar 150 tahun silam, penjelajah dan penggembala ternak mulai memiliki unta untuk menjelajah dan mereka membawa serta para pengurus unta yang beragama Islam ke Australia. Mereka datang dari perbukitan gersang Afghanistan dan barat laut British India (kini Pakistan), para pengurus unta, atau ‘penunggang unta’, kebanyakan laki-laki muda di usia dua puluhan atau tiga puluhan.

Meskipun mereka dijuluki ‘Afghan’ oleh penduduk setempat, para pengurus unta tersebut sebenarnya terdiri dari empat kelompok etnis utama: Pashtun, Baloch, Punjabi dan Sindhi. Banyak di antara mereka yang meninggalkan istri dan keluarga di negara asal sampai kontrak mereka berakhir. Sebagian di antara mereka kemudian kembali ke tanah air, sementara yang lain memilih untuk tinggal. Mereka yang tinggal menikah dengan wanita Aborigin atau Eropa dan membesarkan anak-anak mereka sebagai muslim. Ketika pekerjaan sebagai pengurus unta mulai berkurang pada tahun 1920, banyak yang beralih profesi sebagai pengusaha, pedagang dan penambang.

Mereka mendirikan komunitas sendiri, biasanya di pinggiran kota-kota pedalaman. Komunitas-komunitas kecil yang akrab ini memiliki guru agama dan tukang daging halal sendiri. Warganya juga mengolah kebun sayur dan bahkan kebun kurma. Masjid sederhana yang mereka bangun dari besi atau tanah berfungsi sebagai pusat ibadah sehari-hari dan perayaan keagamaan.

Menjelajahi Australia dari Punggung Unta

Meskipun lanskap Australia beragam, sebagian besar lahan di negara ini berupa padang pasir atau semi-gurun. Pada pertengahan abad ke-19, timbul kebutuhan untuk mengeksplorasi dan mengangkut barang melintasi pedalaman Australia. Ketika tanah yang kering dan cuaca terik terbukti terlalu sulit untuk kafilah yang menggunakan kuda dan sapi, unta pun didatangkan.

“Perkenalan” Australia dengan kelompok penunggang unta terjadi secara bertahap. Awalnya, mereka membawa wol dari peternakan-peternakan domba yang terpencil ke pelabuhan, sebelum kembali ke pedalaman dengan membawa persediaan. Mereka kemudian digunakan untuk mengeksplorasi pedalaman yang sebagian besar tak terurus, seperti pada ekspedisi Burke dan Wills di tahun 1860, yang mempekerjakan dua lusin unta dan sejumlah pengurus unta dari Peshawar dan Karachi. Antara tahun 1870 dan 1900, sekitar 2.000 penunggang unta dan 15.000 ekor unta didatangkan ke Australia untuk memenuhi meningkatnya permintaan untuk perdagangan, penjelajahan, dan pertambangan.

Ekspedisi Burke dan Wills yang legendaris mencapai tujuannya, namun berakhir tragis dalam perjalanan pulang. Tujuh orang tewas, termasuk dua pemimpin tim. Bagaimanapun, terbukti bahwa unta dan pengurusnya sangat diperlukan untuk penjelajahan di pedalaman, karena kaum muslim penunggang unta menjadi bagian penting dari enam ekspedisi penyelamatan yang dikirim untuk mencari Burke, Wills, dan tim mereka.

Ekspedisi pedalaman selanjutnya terbukti lebih berhasil. Muslim penunggang unta berperan penting dalam merawat unta-unta, mengangkat barang-barang berat, mencari air, berburu hewan kecil, dan menyediakan jalur yang aman untuk tim mereka. Catatan dari periode itu menyatakan penunggang unta Eropa sering dikalahkan oleh rekan-rekan muslim mereka, yang dianggap lebih tangguh dan lebih efisien. Daya tahan kaum muslim luar biasa dalam kondisi yang seringkali tak ramah. Mereka tahan berjalan bersama unta mereka pada penjelajahan yang sulit, umumnya berkonvoi sampai dengan 70 hewan.

Cara pandang mereka juga berbeda. Karena unta digambarkan sebagai ‘hewan yang diberkati’ dalam Al Qur’an, muslim penunggang unta menganggap unta lebih dari sekadar binatang. Rasa hormat mereka untuk unta begitu dalam sampai para muslim penunggang unta mengenal nama masing-masing unta. Ketika mobil muncul dan lebih banyak dipilih sebagai alat transportasi, penunggang unta dengan ikhlas melepas peliharaan mereka ke pedalaman, daripada melihat unta-unta ini dibunuh dalam program pemusnahan massal.

Diplomasi di “Benua Bawah”

Karena kaum muslim penunggang unta sering bepergian melalui tanah kaum Aborigin, kedua kelompok yang berbeda ini pun menjalin hubungan baik. Penunggang unta membantu mengangkut barang untuk orang-orang Aborigin, serta bahkan mempekerjakan dan melatih mereka untuk menangani unta.

Sebaliknya, orang-orang Aborigin mulai menggunakan bulu unta dalam kerajinan tradisional mereka dan menternakkan unta mereka sendiri. Mobilitas yang meningkat mengakibatkan hubungan membaik di antara komunitas-komunitas yang tersebar di padang pasir luas. Masyarakat Aborigin juga tak pelit berbagi pengetahuan yang berharga mengenai lokasi air dan sumber daya lainnya di pedalaman terpencil.

Namun, sebagai kelompok minoritas kecil di Australia kolonial, muslim penunggang unta juga menghadapi diskriminasi. Tetangga mereka yang berasal dari Eropa menoleransi para ‘Afghan’, namun interaksi di antara keduanya amat rapuh seiring dengan pertumbuhan nasionalisme Australia. Peraturan dan kebijakan diberlakukan yang membatasi lahan unta merumput dan tukang daging halal, sehingga ketegangan meningkat dan kedua kelompok saling berbalasan. Perselisihan mengenai air meningkat. Hingga puncaknya terjadi insiden mengerikan pada Tahun Baru, 1915. Perang Dunia I, yang pecah hanya enam bulan sebelumnya, memosisikan Kerajaan Turki Usmani dan Inggris di sisi yang berlawanan. Dua mantan penunggang unta, sambil mengibarkan bendera Turki, menembaki sebuah kereta penumpang yang meninggalkan kota Broken Hill. Serangan dan baku tembak yang menyusul kemudian menewaskan enam orang, termasuk dua penyerang tersebut, yang secara luas dikecam oleh komunitas muslim lokal.

[Not a valid template]

Warisan Berharga

Keterampilan kaum muslim penunggang unta telah membantu membuka pedalaman Australia, membangun pasokan vital, dan jalur-jalur komunikasi. Namun kontribusi penting dan prestasi mereka banyak diabaikan oleh catatan sejarah. Beberapa generasi selanjutnya masih mengenang para muslim penunggang kuda ini sebagai leluhur mereka. Penelitian oleh kurator South Australian Museum dan sejarawan Dr. Philip Jones serta antropolog Anna Kenny juga telah memberi kita pemahaman yang berharga tentang kehidupan dan warisan dari kaum tersebut. Namun, masih banyak yang harus diungkap mengenai peran kaum ini dalam pembangunan dan warisan sejarah Australia.

Untungnya cerita mereka ditampilkan oleh South Australian Museum dalam sebuah pameran (lihat boks) di Islamic Arts Museum Malaysia di Kuala Lumpur, pameran pertama di luar Australia. Pameran ini dipersembahkan bagi para penunggang unta, yang beberapa di antaranya merupakan orang-orang paling tangguh dalam sejarah berat pembentukan Australia. Artefak-artefak yang ditampilkan menunjukkan kerasnya hidup mereka dan kompleksitas hubungan mereka, demikian pula pentingnya iman mereka.

Penulis adalah seorang kurator di Islamic Arts Museum Malaysia (IAMM). Ia bekerja dengan Dr. Philip Jones, kurator di South Australian Museum dan kurator pameran itu sendiri, untuk membawa muslim penunggang unta Australia untuk IAMM. Artikel ini diambil dari bahan pers dan pendidikan dari kedua museum.

Leave a Reply
<Modest Style