Modest Style

Musik DEBU: Dunia Keanekaragaman

,

Coba gabungkan bunga rampai budaya, pesan universal dan seluruh cinta yang ada maka Anda akan mendapatkan musik DEBU! Laila Achmad dan Jacqui Menard berbincang dengan grup musik ini.

[Not a valid template]

Sepintas lalu, mungkin Anda dengan mudah mengira mereka sebagai band jazz, pop atau rock. Sebagian besar angota grup ini memang orang Barat yang memainkan instrumen musik Barat seperti keyboard, drum, alat  musik petik dan biola. Tetapi mereka bukanlah band rock. Justru genre mereka lebih menarik karena menggabungkan alat musik tradisional dan modern dengan lirik islami dan sufi. Dan, bila Anda mencermati penampilan mereka, Anda mungkin akan melihat sejumlah personel wanita berhijab nan modis.

Yah, itulah DEBU bagi Anda: band islami dari Indonesia yang menarik perhatian penggemar musik religius dan musik dunia (world music) di seantero jagat. Seluruh anggotanya Muslim dan banyak yang memegang paspor Indonesia, namun sebagian besar dari mereka asli Kaukasia-Amerika, sekaligus mematahkan stereotip seperti apa seharusnya tampang musisi Islam dari Asia. Dan itu hanyalah satu dari beberapa cara DEBU dalam mengaburkan garis antara Islam dan dunia Barat.

Menyadari betapa sibuknya DEBU hari-hari ini, kami menggunakan kesempatan untuk menemui kelompok musik ini di akhir salah satu pertunjukan mereka di Jakarta. Di sana kami menghabiskan satu jam yang menyenangkan dengan Mustafa Daood—vokalis DEBU yang bersahaja—untuk mendengarkan tentang filosofi, sukses dan mimpi band ini.

Sebuah Awal

Awalnya, mayoritas anggota DEBU adalah bagian dari jemaah Sufi pimpinan ayah dan guru Sufi mereka, Syekh Fattah, yang mempunyai mimpi untuk menetap di sebuah negara Muslim nan damai. Setelah banyak melakukan riset, ia memutuskan negara itu adalah Indonesia. Pada 1999, Mustafa beremigrasi dengan ayah dan saudara-saudaranya dari New Mexico ke Makassar, ujung selatan Sulawesi, Indonesia.

Dalam enam bulan pertama, mereka mengajar di Universitas Islam Makassar, menyanyi bersama mahasiswa-mahasiswa mereka sebagai bentuk rekreasi dan motivasi serta menambahkan keajaiban besar kepada rutinitas sehari-hari para mahasiswa tersebut. Pada 2001, keluarga Fattah pindah ke Jakarta di mana mereka terus menyempurnakan seni melalui latihan dan berbagai eksperimen. Ketika berusia 20 tahun, Mustafa mulai menyusun dan mengaransemen lagu, dan akhirnya menjadi vokalis utama band tersebut. Begi tulah DEBU dilahirkan.

Filofosi Debu

Dalam bahasa Indonesia dan Malaysia, ‘debu’ berarti ‘serbuk halus’. Nama ini dimaknai sebagai pengingat betapa kecilnya umat manusia—hanya bagaikan setitik debu di muka bumi. Dikenal dengan nama yang biasa dan sederhana mendorong mereka untuk fokus terhadap musik dan pesan, alih-alih terhadap ketenaran dan popularitas individu.

DEBU mendeskripsikan musik mereka sebagai ‘world music’, gabungan elemen musik dari seluruh dunia yang menghasilkan paduan kontradiksi yang brilian: Timur dan Barat, tradisional dan kontemporer, akustik dan elektrik. Pendek kata, DEBU memiliki bebunyian yang unik, berpadu dengan berbagai kejutan.

‘Musik kami berisikan pesan spritual,’ ujar Mustafa, yang menyebut ayah mereka sebagai inspirasi. ‘Ayah kami menulis puisi dalam 13 bahasa yang berbeda. Untuk membuat musik, terkadang kami membaca puisi dan melihat caranya dalam menginspirasi kami, sebelum kemudian merekam apa yang berhasil kami ciptakan. Atau, untuk mencari ilham, bisa saja kami spontan bermain .’

Lagu dan puisi memegang peran besar dalam Sufisme, karena seni adalah salah satu alat Sufi untuk mengekspresikan cinta dan keindahan. Sama halnya dengan lirik-lirik DEBU yang bicara tentang rasa syukur akan cinta Allah yang tak berbatas. ‘Kami tidak pernah sungguh-sungguh berniat untuk masuk ke arus utama dengan musik kami. Musik kami semacam berkembang melalui berbagai undangan manggung.’

Saat diminta untuk menjelaskan Sufisme dalam tiga kata, Mustafa menjawab tanpa ragu, ‘Cinta, cinta, cinta.’ Dia menjelaskan bahwa, bagi DEBU, Sufisme pada hakikatnya berarti menerima, berpasrah diri tunduk kepada takdir, atau tawakkal. ‘Sufisme artinya mengetahui diri Anda dan mengetahui bahwa semua hal di dunia ini adalah tanda cinta Allah untuk kita.’

Kelompok Pemusik

Saat ini, DEBU terdiri dari 14 anggota yang memainkan bermacam-macam alat musik, termasuk oud dan santur dari Iran, jembe Afrika, dubek, kecapi, biola Turki, keyboard, seruling, kanun Arab, suling Sunda, dan masih banyak lagi. Sebagian besar anggotanya adalah kakak-beradik Fattah,  yang mempelajari instrumen secara otodidak. Beberapa personelnya merupakan musisi Indonesia yang berlatih secara formal—termasuk pemain gitar flamenco kelas dunia, Dhimas Ramadhan—yang juga mengajarkan musik kepada band ini di waktu luangnya. Untuk menambah keanekaragaman DEBU yang menakjubkan, band ini juga membawakan lagu-lagu mereka dalam bahasa Indonesia, Inggris, Hindi, Arab, Parsi, Italia, Mandarin, Spanyol dan Turki.

Ada pula dua remaja 15 tahun yang saat ini sedang belajar musik dengan mereka. Mustafa menuturkan, ‘Kami sering mengajar anak muda cara memainkan alat musik, menyertakan mereka ke dalam grup begitu musikalitas mereka berkembang.’ Putra sang vokalis yang berumur sembilan tahun, Abdullah, memainkan biola untuk DEBU dan konon putrinya yang berusia tujuh tahun, Amatullah, juga cukup piawai bernyanyi. Bakat benar-benar mengalir dalam darah keluarga ini!

Tampang mereka boleh saja seperti orang Amerika, tapi Indonesia adalah rumah mereka. Beberapa waktu lalu, para anggota DEBU memutuskan untuk melepaskan kewarganegaraan Amerika mereka dan menjadi warga negara Indonesia sepenuhnya. Alasannya? ‘Sekarang kami sudah tinggal di sini selama 11 sampai 12 tahun, jadi kami menganggap Indonesia sebagai rumah dan tempat kami menetap. Kami merasa nyaman tinggal di sini—selain itu, kami pikir orang-orangnya sangat baik dan lingkungannya sangat kondusif untuk kami yang Muslim.’

Untuk menunjukkan kecintaan mereka pada semua hal yang berbau Indonesia, DEBU pun mempromosikan kebudayaan negara ini kapan pun ada kesempatan. ‘Promosi (untuk Indonesia) yang datang dari mulut orang asing lebih punya dampak, jadi kami selalu berusaha melakukannya dengan busana, musik dan video-video kami.’

Kenangan Indah

Ketika ditanya penampilan mana yang sampai saat ini paling berkesan bagi DEBU, Mustafa segera mengenang konser Tahun Baru di Semarang, Jawa Tengah, Indonesia, dua atau tiga tahun yang lalu. ‘Luar biasa karena penontonnya membludak—tujuh puluh ribu orang! Konser itu berkesan bagi kami karena kami lebih terbiasa bermain untuk sepuluh sampai dua puluh ribu penonton.’

Mustafa juga mengenang konser mereka di Iran yang batal sebagai peristiwa yang tak terlupakan. Pada 2008, surat-surat kabar melaporkan pihak promotor telah menghabiskan dana sebesar US$300,000 (Rp 3,1 miliar) untuk menerbangkan grup itu ke Iran di mana mereka diundang untuk tampil di depan penonton dari berbagai pelosok negeri. Menjelang konser di Teheran, mereka diwawancarai televisi Iran, yang membuat acara itu memperoleh rating tertinggi sejauh ini. ‘Mereka terkagum-kagum, kami pun begitu,’ kenang sang vokalis. Kemudian menurut berita, secara tiba-tiba Menteri Kebudayaan Iran mencabut izin pertunjukan mereka saat mengetahui para anggotanya memegang paspor Amerika.

DEBU sangat kaget akan perubahan rencana yang mendadak ini. Akan tetapi, pada hari terakhir di Teheran, mereka menerima kejutan yang lebih menyenangkan. Secara pribadi mereka diundang ke istana presiden untuk bertemu dengan Presiden Mahmoud Ahmadinejad. ‘Saya yakin pertemuan itu dimaksudkan sebagai semacam ajang  ‘menyelamatkan muka’,’ jelas Mustafa.  ‘Tapi kami terlibat dalam percakapan yang menyenangkan dengannya, dan belajar dari pengalaman bahwa semua kejadian pasti atas kehendak Tuhan’

Jadi, seperti apa Presiden Mahmoud Ahmadinejad? ‘Dia sangat ramah, murah senyum dan  menyatakan penyesalan. Dia sungguh merasa tidak enak tentang segala situasi ini,’ ujar Mustafa, yang menambahkan bahwa pertunjukan selanjutnya semestinya dapat berjalan lancar.

Rencana ke Depan

DEBU akan segera menggarap video mereka yang berikutnya, Macan Hutan, menampilkan atraksi tari tradisional Papua di pusat kota Jakarta—konsep yang menarik sekali untuk ditunggu. Dan, untuk album baru, para penggemar mereka di Arab telah meminta versi berbahasa Inggris, jadi hal itu pun sudah masuk dalam agenda.

Mereka boleh saja rendah hati, tapi DEBU tidak serendah hati itu terhadap rencana jangka panjang mereka. Ketika ditanya tentang hal tersebut, Mustafa menceritakan mimpi besarnya akan DEBU yang berhasil menjangkau seluruh dunia. ‘Tapi separuh dunia pun tidak mengapa,’ tambahnya, dengan kedipan nakal di matanya. Mustafa pun berharap band-nya dapat terus menyanyikan pesan-pesan indah tentang cinta selama mereka bernapas. ‘Bagaimanapun, cinta adalah pesan universal yang dapat dipahami semua orang, tanpa memerhatikan agama, ras, perbedaan dan sekat-sekat.’

‘Dianggap Gila’

Akhirnya, Mustafa bercerita kepada kami tentang rilisan terbarunya, Dianggap Gila. ‘Album ini benar-benar diproduksi dengan lebih baik, (mengandung) pengalaman yang lebih kaya dari album-album sebelumnya,’ ungkap Mustafa. Dengan album keempat ini, DEBU menambahkan dimensi baru—hip hop—untuk menarik kaum muda (dan yang berjiwa muda). ‘Album ini memiliki perpaduan musik yang sejati,’ katanya.

Untuk peluncuran video album mereka, DEBU memilih lagu Malam Ini yang bertempo pelan dan melodius. Kelompok musik ini ingin video tersebut memiliki sentuhan Indonesia, jadi dikerahkanlah 200 penari untuk menyajikan tarian tradisional Aceh. Akan tetapi, insiden yang tak disangka-sangka terjadi dua hari sebelum pengambilan gambar, saat juru kamera mendadak terlalu sibuk. Panik tentu saja muncul, tapi di saat terakhir, DEBU mendapatkan juru kamera yang dijuluki ‘Director of Photography to the Stars’, Arya Teja Cakrahadisurya. ‘Dialah yang membantu kami mengatur segalanya, dan hasil videonya telah menerima respons positif dari seluruh dunia,’ tutur Mustafa ceria.

Diskografi

2003 Mabuk Cinta

2004 Makin Mabuk

2006 Nyawa dan Cinta

2007 Gubahan Pecinta

2007 Hep Beraber

2007 Album Kompilasi Palace Troubadour

2010 Dianggap Gila

Kosa Kata

Tawakkal: keyakinan teguh dan kepasrahan paripurna kepada Allah

Sufisme: mengacu kepada praktik Muslim Sufi, yang, menurut para ulama Sufi klasik, melibatkan ‘ilmu yang bertujuan memperbaiki hati dan menjauhkannya dari yang lain kecuali Allah.’

Pelajari lebih jauh tentang band ini di situs web mereka

Artikel ini awalnya dimuat di majalah Aquila Style edisi November/Desember 2010 

Leave a Reply
<Modest Style