Modus-modus penipuan jual beli online

,

Berbagai jenis modus penipuan di dunia maya siap menerkam mereka yang kurang waspada. Oleh Khairina Nasution.

WP penipuan toko online (Fotolia)
Gambar: Fotolia

Berbelanja dan berjualan lewat dunia maya sudah menjadi gaya hidup masa kini. Aktivitas yang cukup padat membuat semakin banyak orang memilih membeli berbagai keperluan sehari-hari lewat komputer atau gadget. Di saat yang bersamaan, ramainya aktivitas perdagangan di dunia maya juga membuka peluang bagi sebagian orang untuk menambah penghasilan.

Namun, transaksi di dunia maya juga bisa menjadi sasaran empuk pelaku kejahatan. Modus kejahatan mereka pun bervariasi dan seringkali tak terpikirkan sebelumnya.

Heny, seorang ibu rumah tangga berusia 28 tahun yang tinggal di Solo, pernah menjadi salah satu korban penipuan transaksi dunia maya. Menikah dan memiliki anak membuat Heny tak memiliki waktu untuk bekerja kantoran. Heny lalu memilih menjual aneka busana batik dan baju anak lewat akun Facebook dan BlackBerry Messenger (BBM) miliknya. Konsumen Heny yang utama adalah kerabat dan keluarganya di Bengkulu.

Bukti transaksi palsu

Hingga beberapa lama, Heny tidak pernah mendapat kendala berarti. Asas kepercayaan menjadi pegangannya. Sampai suatu hari, dia ditipu oleh rekannya sendiri. Kawannya tersebut membuat bukti transaksi palsu. Setelah mentransfer sejumlah uang, di bukti transfer ia lalu menambahkan satu angka di depan jumlah yang ditransfer. Bukti palsu itu lalu difoto dan dikirimkan via BBM.

Heny yang percaya bahwa itu bukti asli langsung mengirimkan barang pesanan sang teman. Betapa terkejutnya ia saat mengecek saldo di anjungan tunai mandiri (ATM). Ternyata, saldonya hanya bertambah beberapa puluh ribu rupiah saja. Ia pun mencetak buku bank-nya untuk mengkonfirmasi hal tersebut. Dari sana, barulah terlihat bahwa sang teman hanya mentransfer sedikit uang saja.

“Entah bagaimana, dia bisa menulis angka pada bukti transfer persis seperti aslinya. Sejak saat itu, saya tidak mau percaya begitu saja pada teman,” katanya.

Menjual barang yang belum tersedia

Kisah Hani, seorang pemilik usaha konveksi batik di Solo lain lagi. Dia bercerita bahwa ketatnya persaingan membuat sejumlah produsen dan pedagang batik tega melakukan berbagai cara untuk meraih hati konsumen. Salah satunya, dengan cara memalsukan bukti pengiriman barang kepada konsumen

Teman Hani, sesama pemilik konveksi, biasanya memasang foto barang yang dijualnya di media sosial meski barang itu belum selesai dikerjakan. Pembeli yang tertarik biasanya langsung mentransfer sejumlah uang sebagai pembayaran barang yang diminati.

Agar pembeli percaya, teman Hani pun bekerja sama dengan sebuah perusahaan jasa pengiriman barang. Ia menulisi sendiri blanko kosong slip pengiriman agar terlihat seolah-olah barang sudah dikirim.

“Pembeli percaya bahwa barangnya sudah dikirim. Padahal, barangnya belum selesai dikerjakan. Kalau ada yang protes kok barangnya belum sampai, teman saya dengan enteng menyalahkan jasa pengiriman barang,” cerita Hani.

Membuat orang percaya dahulu, lalu menipu

Penipuan juga kerap terjadi dalam situs jual beli online dan kelompok diskusi online. Salah satu teman saya mengaku ditipu oleh teman satu kelompok diskusi online-nya. Ia memesan komputer kepada teman yang sering sekali berdiskusi dengannya di dunia maya. Karena akrab di dunia maya, ia percaya saja dan mentransfer sejumlah uang kepada orang tersebut. Ternyata, sang teman kabur dan akunnya di dunia maya pun tidak pernah aktif lagi.

Situs palsu

Penipuan lain yang sering terjadi adalah situs jual beli yang menjual barang dengan harga di bawah pasaran. Saya pernah iseng mengirim sebuah pesan singkat kepada salah satu pengelola situs jual beli. Tetapi, dia berkelit jika ditanya soal alamat lengkap tokonya. Alamat yang diberikan pun rupanya bukan alamat sesungguhnya.

Rama Mamuaya, Chief Executive Officer situs e-commerce DailySocial, di Tempo online pernah memberikan kiat terkait hal ini bagi masyarakat yang ingin membeli barang lewat toko online agar tidak mudah tertipu. Menurutnya, penipuan terutama kerap terjadi saat proses distribusi yang berujung pada banyak keluhan pelanggan, mulai dari kesalahan produk yang dikirim hingga barang yang tidak sampai ke tujuan.

“Harus dicek dulu domain dari situsnya, apakah benar atau palsu”, ujar Rama.

Dia menyebutkan bahwa cara mengetahui palsu atau tidaknya suatu domain dapat dilakukan lewat mesin pencari Google. Caranya adalah dengan memasukkan nama situs sebagai kata kunci, yang kemudian ditambahkan kata “penipu” pada ujungnya.

“Kalau hasil yang muncul banyak di mesin Google, kemungkinan besar memang [situs tersebut] tidak bisa dipertanggungjawabkan,” ucap Rama.

Dalam hal jual beli, terutama di dunia maya, kepercayaan adalah segalanya. Oleh karena itu menurut Ari, salah satu pelaku jual beli online, penjual perlu menjaga kepercayaan konsumen. Salah satu caranya adalah dengan bersikap jujur dalam segala hal.

“Apabila barang yang dipesan belum ada, katakan terus terang. Demikian juga soal ukuran barang atau cacat pada barang,” kata Ari yang memproduksi sendiri barang yang dijualnya.

Leave a Reply
Aquila Klasik