Modest Style

Merayakan Lebaran Jauh dari Keluarga

,
Foto: Dreamstime
Foto: Dreamstime

Luangkan waktu sebentar untuk merenungkan Ramadhan dan Idul Fitri. Apa arti keduanya bagi Anda?

Ramadhan bagi saya adalah kedamaian berpuasa di siang hari (meskipun terjadi di hari kerja yang sibuk), menikmati hidangan berbuka puasa yang menyenangkan dan saat-saat tenang di masjid untuk shalat tarawih setelahnya. Selama berbuka puasa, kita bertukar cerita tentang peristiwa hari itu, suara tawa membahana dan ada energi menakjubkan saat kita meninggalkan tugas kita di hari itu dan duduk bersama-sama selagi kita beralih ke malam yang penuh dengan spiritualitas.

Pusat semua kegiatan ini adalah keluarga. Dan bagi banyak dari kita, kehadiran keluarga tetap menjadi bagian tak terpisahkan dari Ramadhan dan Idul Fitri. Tapi bagaimana dengan keluarga-keluarga yang telah memilih untuk bermigrasi atau yang dipisahkan oleh keadaan melewati perayaan peristiwa istimewa ini sendiri-sendiri?

Untuk Zaharah Wan, yang bermigrasi dengan suaminya ke London 32 tahun yang lalu, beberapa Idul Fitri pertama jauh dari kota kelahirannya di Kedah amat sulit. Pada awalnya, dia dan suaminya merasakan perbedaan besar dari kemeriahan perayaan hari besar itu di kampung halaman. ‘Awalnya, keluarga kami hanya merayakannya sendirian dan Idul Fitri berarti shalat di Masjid Regent’s Park dan langsung kembali bekerja. Kemudian, mungkin acara makan yang singkat di Selfridges.

‘Berada jauh dari keluarga besar, Ramadhan semakin berarti banyak bagi kami, terutama ketika anak-anak lahir. Kami harus memastikan bahwa mereka mengerti dan menghargai adat istiadat dan agama kami  – terutama ketika teman-teman mereka di sekolah merayakan Paskah dan Natal. Ini adalah upaya sadar untuk membuat mereka memahami dan menghargai nilai-nilai kami,’ kata Zaharah, sekarang berusia 50-an dan lebih dikenal sebagai selebriti bloger dengan nama pena Kak Teh.

Untuk Zaharah, pagi hari di Idul Fitri selalu menjadi saat emosional. Ibunya, di usia 90-an, tahu cara menggunakan Skype dan selalu menyempatkan diri untuk menanyakan makanan apa yang telah Zaharah persiapkan untuk cucu-cucunya, karena ibunya selalu memasak makanan favorit masing-masing anaknya pada Ramadhan dan Idul Fitri.

Jarak hanyalah sebuah angka

Zuzanita Zakaria, 40, asal Singapura, pindah ke Vancouver, Kanada pada tahun 2006 setelah menikah dengan sesama orang Singapura yang bermigrasi ke sana dengan keluarganya ketika ia berusia 10 tahun.

Mereka bertemu secara online, dalam komunitas chat untuk orang-orang Melayu di luar negeri. Pada saat itu, Zuzanita ditempatkan di Kuala Lumpur untuk bekerja. Opininya tentang tinggal jauh dari keluarga tampaknya telah dibentuk oleh seringnya ia melakukan perjalanan dan bekerja di luar negeri.

‘Saya dan keluarga saya tidak melihat hidup terpisah sebagai cara untuk mengurangi intensitas hubungan. Pada akhirnya, bukanlah berapa banyak waktu yang Anda habiskan bersama-sama, tetapi bagaimana Anda menghabiskannya,’ katanya. ‘Ketika saya pindah, saya sudah siap mental untuk hal-hal yang akan saya korbankan: tak ada akses mudah untuk pertemuan dan liburan keluarga, dan merayakan Idul Fitri dengan keluarga besar hanya dua tahun sekali.’

Satu hal yang dia sungguh rindukan adalah melakukan tarawih dengan ibunya di masjid Darul Ghufran di Singapura dan berdesak-desakan di antara 600 wanita di ruang shalat. Di Vancouver, jumlah jemaahnya hanya sekitar 20-an, sehingga tidak perlu berdesak-desakan.

‘Tapi Ramadhan di Vancouver lebih terpusat dan terfokus pada ibadah, dan saya benar-benar menyukainya. Merayakan Idul Fitri bersama keluarga lebih merupakan budaya daripada Islam, dan saya meyakini bahwa semua orang bisa menjadi keluarga kita – terutama jika kita bersama-sama dalam perjuangan untuk mengabdi kepada Allah selama Ramadhan.

‘Pada hari Idul Fitri, keponakan saya akan menyalakan Skype ketika keluarga besar kami berkumpul untuk mengunjungi ibu saya, jadi saya bisa berbicara dengan semua orang sekaligus. Saya menyukai obrolan lewat Skype ini karena tidak pernah terkoordinasi! Semua orang berebut berbicara dan tidak ada yang bisa mendengar apa yang diucapkan… dan seringkali, kami malah terlalu asyik melihat diri sendiri di layar komputer,’ Zuzanita tertawa.

Dipisahkan oleh keadaan

Ketika kedua anaknya masih kecil, Asad Johan, sekarang 46 tahun, senang membawa mereka berjalan-jalan untuk membeli lampu hiasan dan baju baru menjelang Idul Fitri, seperti banyak keluarga muslim lainnya di Singapura. Tapi setelah 17 tahun menikah, ia dan istrinya memutuskan untuk bercerai. Setelah itu, Idul Fitri baginya jadi tidak terlalu bermakna karena ia merasa tidak layak mendapatkannya.

Yang membuat situasinya lebih rumit, anak-anaknya, yang sekarang berusia 12 dan 15 tahun, menjadi sasaran pertanyaan dari kerabat yang penasaran tentang perceraian orangtuanya ketika mereka berkunjung. Tapi meskipun kedua anak-anak itu menyesuaikan diri dengan baik dan masih menjalankan shalat tarawih dengan ayah mereka, mereka merasakan kekosongan selama beberapa tahun.

‘Saya menekankan pentingnya membawa anak-anak saya ke rumah kerabat yang lebih tua untuk menghormati mereka, termasuk keluarga mantan istri saya. Hal ini sulit pada awalnya – saya mencoba melindungi mereka dari pertanyaan-pertanyaan penuh selidik yang negatif.

‘Saya menjelaskan kepada mereka: Saya tetap ayah mereka, dan dia tetap ibu mereka. Mereka tetap harus bersikap hormat kepada semua orang di sekitar mereka,’ katanya.

Tapi hidup menjadi lebih mudah seiring tahun-tahun berlalu dan situasinya mulai normal. Asad dan anak-anaknya memasuki fase lain dalam kehidupan mereka setelah ia menikah lagi. Dia sekarang memiliki balita, yang disayangi kedua anaknya.

Ramadhan, bagi Asad, tetap menjadi saat untuk merenung dan menebus kesalahan masa lalunya, seperti juga untuk sebagian besar orang. ‘Hidup tetap menjadi status quo — satu-satunya perubahan adalah anak-anak saya sekarang memiliki rumah lain untuk dikunjungi saat Idul Fitri. Inti semua ini, anak-anak saya — ketiganya —mendapat pelajaran nilai-nilai yang baik, sikap positif dan fondasi agama yang solid yang akan menjadi benteng menghadapi setiap perubahan.’

Leave a Reply
<Modest Style