Modest Style

Menyelaraskan Hidup sebagai Muslim Baru

,

Sementara beberapa Muslim baru mampu menyesuaikan diri dengan baik ke dalam komunitas lokalnya, beberapa yang lain mungkin kesulitan melakukan hal yang sama karena kurangnya dukungan sosial dan lembaga. Klaudia Khan membagikan pengalaman tiga mualaf.

2702-WP-Converts-by-Klaudia

Memilih Islam lebih dari sekadar mendapatkan agama baru; Islam akan mengubah gaya hidup Anda secara keseluruhan. Anda harus mempelajari doa-doa dan memasukkan agama ke dalam hidup Anda sehari-hari. Anda mengubah pola makan Anda; Anda mengubah cara berpakaian Anda; Anda mengubah cara Anda menghabiskan waktu luang Anda. Beberapa bahkan mungkin berganti perusahaan tempat mereka bekerja.

Di dalam sebuah dunia yang ideal, mualaf baru akan menemukan teman-teman Muslim yang baik untuk bertindak sebagai pembimbing dan memberikan dukungan. Mereka akan memperkenalkan para saudara-saudari baru kepada tata cara Islam, juga pada komunitas Muslim setempat. Namun pada kenyataannya, beberapa mualaf baru menjadi terasingkan justru saat mereka merasa tidak memiliki siapapun untuk didatangi, terlebih bila mereka menghadapi penolakan dari keluarga.

Agniezka Karoluk, mualaf baru yang tinggal di Chicago, mendapat pengalaman positif tentang penerimaan oleh komunitas lokalnya. Ia justru telah terlibat dengan berbagai organisasi Islami di kampusnya dalam memperjuangkan berbagai masalah politis seperti kebebasan Palestina, bahkan sebelum keislamannya. “Yang pada akhirnya membimbing saya kepada Islam adalah pertemanan saya dengan perempuan-perempuan ini,” ujar Agniezka. “Keislaman mereka tidak pernah dibesar-besarkan; namun tindakan dan kepribadian mereka membuat saya merasa penasaran tentang bagaimana keyakinan mempengaruhi hidup mereka sehari-hari.”

Agniezka masih aktif bekerja sebagai koordinator komunikasi senior The Council on American-Islamic Relations (CAIR), sebuah kelompok akar rumput hak dan advokasi sipil, cabang Chicago. Ia juga ambil bagian dalam Ta’leef Collective, organisasi inklusif bagi para mualaf yang mengadakan pertemuan secara rutin untuk memperdalam pengetahuan tentang Islam. “Komunitas ini memiliki keragaman etnis dan usia yang sangat besar. Saya merasa beruntung dapat ikut ambil bagian di dalamnya.”

Agnieszka di kantor
Agnieszka di kantor

Sebagian saudari meminta bantuan pada orang-orang yang lahir sebagai Muslim, sedangkan sebagian yang lain merasa orang-orang sesama mualaf lebih suportif. Saat Ann Marie Lambert Stock tiba di Mesir sekitar 30 tahun lalu, tidak banyak Muslim baru yang dapat ditemui. Ia menikah dengan orang Mesir yang memiliki keluarga yang berusaha membantunya, namun ia merindukan rasanya memiliki teman yang dapat memahaminya dengan lebih baik dan dapat berkomunikasi tanpa hambatan budaya. Ia berkenalan dengan seorang mualaf perempuan dari Amerika dan seorang lainnya dari Belanda. Mereka saling memberi dukungan, berbagi pengalaman, dan nasihat. Bersama, mereka menjalani kehidupan baru di sebuah negara asing. Seiring bertambahnya jumlah mualaf yang tinggal di sekitar mereka, Ann dan teman-temannya memutuskan memulai sebuah kelompok dukungan bernama Maadi Halaqa dan mengadakan pertemuan rutin. Ann mengatakan, “Pertemuan tersebut adalah proses pembentukan ikatan yang sangat baik, namun karakteristik tinggal di luar negeri adalah orang-orangnya tidak tetap. Setiap tahun wajah-wajah baru akan bermunculan dan beberapa wajah lama akan pulang ke tempat asal mereka.”

Ia menambahkan bahwa para saudari mualaf yang tinggal di luar negeri sangat membutuhkan bantuan dan dukungan: “Kami seringkali harus berurusan dengan kerinduan pada rumah, kebosanan, frustasi yang disebabkan oleh perbedaan bahasa, kesalahpahaman budaya, dan juga penyuluhan pernikahan.” Ia merasa bahwa kelompok dukungan resmi sangat dibutuhkan di Mesir, namun mereka masih belum berhasil membentuknya karena masalah birokrasi. Bagaimana dengan bantuan dari warga setempat? “Pengalaman pribadi yang saya dapatkan, semakin miskin Anda dan semakin rendah pendapatan setempat di lingkungan Anda, semakin banyak kasih dan bantuan yang akan Anda dapatkan,” ujarnya.

Tampaknya, lebih mudah bagi para Muslim baru mendapatkan dukungan di dalam kelompok masyarakat yang berlandaskan pada nilai-nilai keagamaan daripada yang didasari oleh kesamaan latar belakang sosial atau etnis. Nalini Naidoo dari London merasa bahwa latar belakang etnisnya justru menjadi hambatan baginya untuk mendapatkan bantuan sebagai seorang mualaf. Ironisnya, ia berasal dari etnis Asia, seperti kebanyakan Muslim yang tinggal di sekitarnya. “Orang-orang tidak mengetahui bahwa saya seorang mualaf dan tidak menyadari bahwa saya butuh teman,” ungkap Nalini. “Saya mengunjungi berbagai acara dan pertemuan dan [saya melihat] bila seseorang jelas tampak seperti mualaf, orang-orang akan berusaha lebih keras untuk menyambutnya, namun saya tidak cukup percaya diri untuk meminta bantuan.” Padahal bantuan tersebut sangat dibutuhkannya. Nalini mengakui ia merasa terisolasi bahkan dari orang-orang yang terlihat dekat dengannya. Ia merasa di daerahnya tidak ada komunitas Muslim yang sebenarnya – sebuah komunitas yang didasari oleh kesamaan keyakinan.

Nalini Naidoo
Nalini Naidoo

Sebagai upaya mengubah keadaan, ia telah mencoba menciptakan semangat kebersamaan. Ia mulai mengucap “Salaam” kepada orang-orang di jalan, dan ia juga melibatkan diri dalam mengadakan acara untuk para perempuan dan ibu, seperti halaqah dan piknik. Namun ia meyakini bahwa bukan struktur terorganisasi yang memiliki peran terpenting, melainkan justru tindakan sehari-hari yang sederhana. Ia mengingat-ingat, “Hal yang paling membantu saya adalah [saat saya] sedang berada di penitipan anak putri saya dan seorang saudari mengundang saya makan siang bersama dengannya dan teman-temannya. Lalu kami pun berteman.”

Piknik yang diselenggarakan oleh Nalini dan Newham Islamic Learning Centre di London
Piknik yang diselenggarakan oleh Nalini dan Newham Islamic Learning Centre di London

Ada banyak organisasi keislaman yang ikut serta dalam menyebarkan pesan Islam, namun tidak banyak yang menawarkan bantuan setelah pengucapan kalimat syahadat. Meski begitu, dengan bertambahnya jumlah mualaf baru, berkembang pula kesadaran akan kebutuhan mereka. Seringkali, orang-orang yang menjadi mualaf beberapa tahun lalulah yang kini membantu para mualaf baru. Masalah keikutsertaan sosial menjadi masalah yang serius, karena kurangnya dukungan masyarakat pada mualaf sering berujung pada depresi dan bahkan perginya para mualaf dari keislaman. Para saudari yang pernah merasa terisolasi di awal hidup mereka sebagai Muslim merasa bahwa hal tersebut adalah sebuah cobaan berat untuk menguji keimanan mereka. Dan kebanyakan merasa kecewa karena setelah sambutan hangat yang didapatkan saat bersyahadat, tidak ada lagi yang menghubungi maupun menanyakan kalau-kalau mereka membutuhkan bantuan.

Merupakan kewajiban kita bersama sebagai Muslim, baik secara lahir maupun sebagai mualaf, untuk menyambut dan merangkul semua orang yang menerima Islam kembali. Berapapun usia kita, apapun latar belakang etnis atau budaya kita, kita harus selalu ada untuk sesama. Kita harus selalu ingat: “Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (Surat Al-Anbiyaa 21:92)

Leave a Reply
<Modest Style