Modest Style

Menjadi Seorang ‘Ny.’

,

Apakah seorang muslimah seharusnya menyandang nama suami setelah menikah? Meaghan Seymour membahas perkara ini.

Gambar: SXC
Gambar: SXC

‘Kapan kamu akan mengganti nama belakangmu?’ Saya menatapnya, terkesima dengan sebuah pertanyaan yang terang-terangan disampaikan seorang perempuan muda yang kurang saya kenal.

‘Hah?’ Saya merespons, dengan tatapan datar.

‘Jangan khawatir, kamu masih punya waktu.’

Topik pembicaraan segera berganti. Saya tak yakin apakah karena dia menangkap keengganan dalam nada bicara saya, atau seperti yang telah ia sampaikan: Saya masih punya waktu.

Hingga saat ini, saya telah menikah selama setahun, dan saya tidak pernah mempertimbangkan untuk mengambil nama akhir pendamping saya. Tentu, saya pernah berkelakar tentang betapa konyol kedengarannya jika nama depan saya yang bernuansa Anglo disandingkan dengan nama lintas-benuanya, tapi hal itu memang sesuatu yang tidak pernah secara serius saya pikirkan. Lagi pula, selama ini saya tidak pernah memberi sematan apa pun pada nama belakang saya.

Namun pertanyaan lugas yang diajukan perempuan muda itu, dan ketidaksepakatan saya dengannya yang jelas terlihat, menggaungkan diskusi yang menjadi perdebatan di antara komunitas muslimah yang lebih luas. Haruskah kita menyandingkan nama suami kita (nama depan atau belakang, tergantung pada kebiasaan) setelah menikah?

Di salah satu titik ekstremnya, para ulama tradisional dengan jelas dan lantang melarang istri untuk mengambil nama belakang suaminya. Alasan mereka terutama berdasarkan pada hadits, yakni hadits yang menyatakan bahwa setiap muslim akan dipanggil diikuti nama ayah mereka pada Hari Kiamat nanti.

Rasulullah mengatakan: Pada Hari Kebangkitan engkau akan dipanggil dengan namamu dan dengan nama ayahmu, maka pilihlah nama-nama yang baik. [i]

Selain itu, para istri Rasulullah dan para sahabat dirujuk sebagai contoh bahwa tindakan serupa tidak umum saat itu. Kita semua mengetahui bahwa Aisyah, meski ia menikahi seseorang dengan status mulia sebagai Nabi, namun ia tetap resmi dipanggil dengan ‘binti Abu Bakar’ atau ‘putri Abu Bakar’.

Banyak ulama yang sepakat dengan opini ini menganggap makruh praktik tersebut, bahkan sampai menyebutnya bid’ah (menggunakan istilah keras mereka). Tradisi memakai nama suami untuk para istri berasal memang dari kaum di luar komunitas Rasulullah. Praktik ini menyimbolkan sebuah perpindahan tanggung jawab seorang perempuan dari penjagaan ayahnya kepada kepemilikan suaminya, dan mungkin dibawa ke dalam wilayah muslim melalui penjajahan.

Di samping itu, terdapat konsep perwalian dalam Islam (sebagaimana dipahami dengan aturan mahram), seorang perempuan tetap memakai nama ayah setelah menikah juga dapat dilihat sebagai sebuah batasan menyatakan identitas-dirinya dalam sistem keturunan patriarki.

Namun, di ujung ekstrem yang lain, mereka berpendapat bahwa mengambil nama belakang suami bisa dilakukan jika dapat memudahkan identifikasi, terutama jika pasangan itu tinggal di daerah di mana hal tersebut adalah sesuatu yang wajar.

Dr. Muzammil Siddiqui, Ketua dari Dewan Fiqih Amerika Utara, mengakui bahwa tradisi tersebut sepenuhnya berlatar belakang budaya dan tak berbasis Islam, namun memperkenankan dilakukan untuk alasan seperti yang diungkap di atas:

‘Cara yang benar dalam Islam adalah seseorang harus dikenal dengan namanya sendiri (baik laki-laki atau perempuan) dan nama dari ayah biologis mereka. Seorang istri tidak perlu menggunakan nama suami mereka, namun juga tidak ada larangan melakukannya jika seseorang dikenal sebagai istri si A atau B. Diperkenankan bagi seorang perempuan untuk mengubah nama belakangnya setelah menikah. Seorang perempuan dapat memperkenalkan dirinya kepada orang lain sebagai istri dari si A atau B.’ [ii]

Oleh karena saya tak mengenal cukup banyak pasangan muslim untuk menebus rasa ingin tahu saya perihal isu ini, saya mencari petunjuk lewat forum dan komunitas muslim online, di mana diskusi berlanjut dengan pemilahan isu.

Apakah perubahan nama adalah satu-satunya cara, atau cara terbaik menunjukkan kebanggaan bagi pasangan seseorang? Bukankah mencantumkan nama laki-laki (apakah nama suami atau ayah) tetap sebuah budaya patriarki?

Para perempuan yang melakukan praktik ini bersikukuh bahwa menyandang sebuah nama bersama anak-anak mereka, dan menyatukan keluarga inti dalam satu nama yang dikenali, adalah alasan utama mereka untuk melakukan perubahan nama resmi dan legal setelah menikah. Sebagian beralasan bahwa hal itu sangat diperlukan saat menetap di sebuah negara yang menganggap hal itu umum, terutama saat pendataan untuk kebutuhan dokumen perjalanan atau dokumen identitas, atau saat pasangan kemungkinan diperkenalkan dengan ‘Tn. dan Ny.’ (Tentunya tidak ingin dianggap ‘Istri Simpanan’ dari ayahnya). Beberapa orang menggunakan ‘tanda hubung’ untuk secara legal menyambungkan nama ayah dan nama suami sekaligus menjadi satu.

Yang lain bahkan menyatakan bahwa keputusan mereka adalah sebuah cara untuk menunjukkan bahwa  mereka bangga menikahi suami mereka. Namun ini kemudian memunculkan isu keadilan, sebagaimana diajukan oleh mereka yang menentang tindakan serupa. Bagaimana jika seorang suami juga menginginkan dipanggil dengan nama istrinya untuk menunjukkan kebanggaannya menikahi sang istri? Apakah perubahan nama adalah satu-satunya cara, atau cara terbaik menunjukkan kebanggaan bagi pasangan seseorang? Bukankah mencantumkan nama laki-laki (apakah nama suami atau ayah) tetap sebuah budaya patriarki?

Secara keseluruhan, saya menemukan satu hal yang sama. Laki-laki, baik mereka sepakat atau tidak dengan tindakan tersebut untuk alasan keagamaan atau alasan lain, sebagian besar merespons dengan mengatakan bahwa pengubahan nama sepenuhnya tergantung kepada pertimbangan istri. (Keren!)

Sepenuhnya, saya setuju dengan mereka. Memutuskan untuk mengubah nama seseorang membawa konsekuensi seumur hidup. Keputusan harus dipertimbangkan dengan sangat hati-hati berdasarkan agama, budaya seseorang dan yang terpenting, keyakinan individu.

Karena tak penah memikirkan isu ini dari sudut pandang agama, saya selalu menganggap biasa untuk menyandang nama saya sendiri setelah menikah. Namun kini saya merasakan sedikit kekhawatiran tentang hal ini dibanding yang lain.

Sertifikat nikah saya yang disahkan-pemerintah, yang telah melegalkan sebuah penyatuan dua orang dengan nama belakang berbeda, cukup memuaskan saya bahwa saya akan dengan mudah diakui sebagai pasangan yang sah bagi suami saya. Dan tak pernah terlintas dalam pikiran saya bahwa berbagi nama dengan anak saya akan memberikan ikatan yang lebih kuat dibanding mengandungnya selama sembilan bulan.

Saya tidak keberatan dipanggil sebagai ‘istrinya suami saya’ dalam lingkar sosialnya, sama seperti saat ia dikenali sebagai ‘suaminya Meaghan’ dalam komunitas saya. Tetapi saya bahagia masih tetap menyandang nama saya sendiri selama ini.


[i] Disampaikan oleh Abu Darda’, dalam Abu Dawud, tersedia di sini.
[ii] ‘Perubahan Nama’, Islamicity, tersedia di sini.

Leave a Reply
<Modest Style