Menjadi Muslimah Pendaki Gunung

,

Mendaki gunung merupakan sebuah pengalaman fisik dan spiritual, tulis Cahya Meythasari.

[Not a valid template]

Jika anda seorang pendaki muslim yang sedang berada pada sebuah perjalanan pendakian gunung, kemudian menjumpai pendaki atau beberapa orang lain yang sedang melaksanakan shalat dengan khusyu’ dan khidmat di sebuah pos atau titik perhentian yang hening dan sepi, apa yang kira-kira akan Anda rasakan?

Perasaan haru, indah dan damai akan merasuk ke dalam relung kalbu anda. Perasaan salut dan kagum pada orang yang melaksanakan sholat, meskipun pada hakikatnya yang ia laksanakan adalah kewajiban bagi setiap muslim. Namun, pemandangan ini tiba-tiba akan menjadi momen yang sungguh berbeda.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Momen dan perasaan semacam inilah yang saya sebut sebagai pengalaman spiritualitas pendakian, saat di mana saya menemukan betapa diri ini sangat kecil, laksana sebuah titik di dalam lautan tinta. Kemudian muncul kerinduan kepada Sang Khalik, kerinduan kepada Allah Sang Maha Pencipta langit dan bumi. Dan kerinduan ini akan menggiring kita pada sebuah makna pendakian secara sempurna: bukan hanya sekedar sebuah perjalanan menuju titik tertinggi dari sebuah gunung, bukan hanya sebuah ajang reuni dan canda tawa bersama teman, namun ia memiliki makna yang lebih dalam lagi, yaitu sebuah perjalanan ta’aruf (mengakrabkan diri) kepada Sang Pemilik alam raya.

Ada banyak sekali alasan mengapa seseorang melakukan sebuah perjalanan pendakian, dari yang sekedar sebagai hobi, mengikuti tren gaya hidup, menyegarkan diri, liburan, hingga untuk hura-hura. Namun, saya selalu diingatkan bahwa mendaki gunung pun dapat diniatkan sebagai sebuah kegiatan bernilai ibadah dan sebagai ajang mensyukuri lukisan terindah-Nya.

Saya terlahir dari keluarga Pramuka. Baik orang tua maupun kedua kakak saya aktif dalam kegiatan tersebut. Hal ini lantas mendorong saya untuk berkecimpung dalam organisasi tersebut sejak SD. Di sana, saya bertemu dengan teman-teman yang satu minat sehingga semua kebiasaan Pramuka seperti berkemah, mendaki, hiking dan lainnya terbawa hingga saya beranjak dewasa.

Saya membaca bahwa pendiri Palang Merah Internasional (PMI) Henry Dunant pernah berkata, “Sebuah negara atau bangsa tidak perlu khawatir kekurangan pemimpin jika anak mudanya masih suka berpetualang dan mendaki gunung”. Ia beranggapan bahwa ketika seseorang suka berpetualang dan mendaki gunung, jiwa kepemimpinanya akan terasah dan terbentuk secara bertahap.

Jiwa seorang pendaki tercermin dalam ucapan Kareem Nasher, seorang pendaki muslim dan anggota tim penyelamat para pendaki yang hilang terjebak avalanche (salju longsor) di gunung-gunung tersulit di dunia. Dalam film fenomenal Vertical Limit (satu dari beberapa film inspirasi saya untuk mendaki) ia berkata, “Kematian tidaklah penting, temanku, apa yang kita lakukan sebelum mati, itulah yang terpenting.” Itulah yang ia ucapkan ketika seorang rekannya mengejeknya karena melaksanakan shalat di jalur pegunungan bersalju yang mereka tempuh. Menurut saya, itulah spirit seorang pendaki Muslim yang seharusnya.

Pendakian gunung yang paling saya favoritkan adalah perjalanan ke Gunung Slamet, Gunung Slamet (3.428 meter di atas permukaan laut atau mdpl) adalah gunung berapi yang terletak di Pulau Jawa. Gunung ini terletak di perbatasan Kabupaten Brebes, Banyumas, Purbalingga, Kabupaten Tegal, dan Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Ia adalah puncak yang tertinggi di Jawa Tengah serta kedua tertinggi di Pulau Jawa. Keempat kawah yang berada di puncaknya masih aktif.

Pendakian Gunung Slamet dikenal cukup sulit karena hampir di sepanjang rute pendakian tidak ditemukan air. Pendaki disarankan untuk membawa persediaan air yang cukup dari kaki gunung. Faktor penyulit pendakian lain adalah kabut. Kabut di Gunung Slamet sangat mudah berubah-ubah dan pekat.

Gunung Slamet dapat didaki melalu tiga jalur: lewat jalur sebelah Barat Kaliwadas, lewat jalur sebelah selatan Batu Raden dan lewat jalur sebelah timur Bambangan. Dari ketiga jalur tersebut, yang terpendek adalah jalur Bambangan. Itulah alasan kami memilih jalur ini, selain pemandangan yang indah dan banyaknya kera liar yang dapat ditemui dalam perjalanan menuju ke puncak.

Pendakian yang saya lakukan bersama tujuh kawan ini merupakan pendakian pertama yang saya lakukan pada malam hari. Ada tantangan tersendiri untuk melaksanakan pendakian malam. Selain suasana gelap gulita yang mencekam dan curah hujan yang terus menerus, sesak napas pun terasa karena kami dan pepohonan sekitar saling memperebutkan oksigen pada malam hari. Memang tidak terlihat pemandangan yang indah seperti pendakian siang hari, namun bulan purnama bulat nan cantik menemani perjalanan kami kala itu, dan kami pun tentunya tidak cepat lelah karena sengatan panas matahari.

Delapan pos pendakian yang masing-masing berjarak tempuh rata-rata 1 jam 30 menit akhirnya berhasil kami tempuh. Berbagai perasaan dan pengalaman campur aduk selama pendakian tersebut. Dari jatuh terpeleset, haus, lapar, ingin buang air kecil atau besar, kehujanan, rasa dingin yang amat sangat kami lalui bersama. Perjalanan tentang bagaimana cara bekerja sama juga merupakan salah satu pelajaran penting dalam hidup yang saya dapatkan dalam pendakian.

Pendakian demi pendakian yang saya lalui telah membuka mata lahir dan batin saya untuk mensyukuri lukisan alam yang begitu indah, masa muda yang berwarna dan kesempatan menikmati setiap momen ciptaan Yang Maha Kuasa, Alhamdulillah.

Leave a Reply
Aquila Klasik