Menikahi Sepupu: Pantangan atau Adat?

,

Tidak pernah mempertimbangkan sepupunya sebagai calon suami, Eren Cervantes-Altamirano menuliskan bagaimana cara pandang sejumlah komunitas terhadap praktik ini.

ina WP-Marry Cousins
Image SXC

Sebagai mualaf yang lahir dan dibesarkan di Meksiko, pertama kali saya menemui fenomena pernikahan antarsepupu langsung adalah di masjid tempat saya biasa beribadah di Kanada. Tetapi, karena topik itu dianggap tabu di sini (Meksiko), pernikahan antarsepupu menjadi praktik yang dilakukan secara diam-diam sehingga kami tidak membicarakannya di luar komunitas Muslim.

Pertemuan pertama terjadi ketika putra bibi saya (dengan kata lain, sepupu saya) mengunjungi kami di Kanada. Kami sebaya dan telah berteman sejak kecil. Meski demikian, seorang teman sesama Muslim tidak setuju saya berhubungan dekat dengan sepupu laki-laki saya itu berdasarkan penafsiran mereka akan sebuah ayat dalam surat an-Nur (24:31). Isinya menyebutkan siapa saja yang dianggap mahram bagi Muslim, atau sanak saudara yang tidak boleh dinikahi. Sepupu tidak termasuk dalam daftar ini karena mereka dianggap non-mahram, atau boleh dinikahi.

Walau begitu, saya bersosialisasi dalam masyarakat di mana pernikahan antarsepupu tidak hanya dianggap tabu, tapi juga diatur secara khusus di dalam undang-undang sipil di beberapa negara bagian. Karenanya, di mayoritas negara bagian Meksiko, menikahi sepupu—bukan hanya sepupu pertama, tapi juga sepupu kedua, ketiga dan keempat—dianggap tidak sah. Terdapat sejumlah pengecualian terhadap peraturan ini untuk mengakomodasi adat istiadat—misalnya untuk penduduk Menonit dan Amish (sebagian besar mendiami  Meksiko utara). Namun demikian, di awal abad ke-20, Meksiko mengadopsi semacam legalisme ”ilmiah” yang digunakan untuk mendefinisikan perilaku yang dianggap “menyimpang”. Di masa ini, salah satu hal yang ditentukan adalah gagasan bahwa pernikahan dengan sepupu tidak sehat dan menghasilkan anak-anak dengan penyakit genetis dan cacat tubuh.

Dibesarkan dalam situasi seperti itu, tidak pernah terbersit dalam benak saya untuk memperhitungkan sepupu saya sebagai calon pendamping. Di banyak keluarga Meksiko, para sepupu dibesarkan sebagai saudara kandung dan begitu juga dengan keluarga saya. Namun, di hari-hari awal saya sebagai Muslim, saya menyadari sejumlah perempuan menikah dengan sepupu pertama dan mereka tidak mengerti bagaimana latar belakang kebudayaan saya mencegah saya untuk mempertimbangkan anggota keluarga sebagai calon suami.

Sejujurnya, gagasan mengenai pernikahan dengan sepupu masih menimbulkan sejumlah pertanyaan buat saya. Saya penasaran, dari mana asal ide bahwa anak-anak yang tidak sehat merupakan hasil dari pernikahan semacam itu? Saya pun bertanya-tanya, kenapa ada yang memilih untuk menikahi sepupu daripada orang yang tidak punya pertalian darah?

Selagi para ilmuwan masih membahas apakah pernikahan antarsepupu memiliki dampak kesehatan atau menghasilkan keturunan yang cacat, sejumlah pandangan sosial terhadap praktik ini sangat mengikat dan sulit dilanggar. Kondisi ini membuat pernikahan semacam ini menjadi isu pelik bagi Muslim yang menjalani pernikahan dengan sepupu dan tinggal dalam masyarakat yang tidak menyetujuinya. Walaupun pernikahan antarsepupu agaknya sudah dianggap umum dalam kadar yang berbeda (lebih dari apa yang ingin kita pikirkan), di Barat dan di sebagian negara seperti negara saya, hal itu masih dianggap sesuatu yang dibawa oleh “pendatang”.

Di Meksiko, orang menuding albinisme dan beberapa kelainan bawaan lain sebagai sesuatu yang hanya lazim terjadi di antara komunitas Menonit dan Amish. Di Kanada, banyak orang berpikir bahwa pernikahan dengan sepupu menghasilkan anak-anak dengan berbagai jenis masalah, mulai dari cacat fisik hingga isu kesehatan mental. Meski kita masih melihat masalah-masalah kesehatan ini di antara populasi kita sendiri, kita dengan cepat menerima perilaku pseudo-ilmiah terhadap pernikahan antarsepupu.

Dewasa ini, komunitas ilmiah terus meneliti berbagai dampak dari pernikahan antarsepupu pertama. Sebuah penelitian di Inggris yang secara khusus dilakukan di antara populasi Pakistan dan Kaukasia menyimpulkan bahwa pernikahan dengan sepupu meningkatkan insiden (kasus baru) cacat lahir.[i] Namun, kesimpulan ini menyisakan sejumlah pertanyaan untuk diskusi lanjutan: apakah hasil penelitian tersebut berlaku pada populasi lain, dan apakah ada variabel lain yang meningkatkan insiden cacat lahir.

Walaupun sudah ada penelitiannya, apakah penemuan seperti itu mempunyai dampak terhadap komunitas Muslim yang menjalani pernikahan antarsepupu? Entahlah. Dalam pernikahan dengan sepupu pertama, beberapa orang melakukannya untuk mempererat kekerabatan, mengatur warisan dan melindungi keluarga secara umum. Akan lebih relevan untuk melihat apakah kita dapat mengatasi berbagai isu ini di luar institusi pernikahan antarsepupu.

Walau begitu, praktik ini—atau ketiadaannya—memiliki akar budaya, ekonomi dan politik. Sebagai Muslim Meksiko, saya tetap pada pendirian untuk tidak akan mempraktikkan pernikahan antarsepupu dan tidak akan memilih cara ini untuk anak-anak saya.

Di kasus saya, hal itu tidak ada hubungannya dengan alasan medis, tetapi keseluruhan pandangan saya mengenai keluarga. Dalam konteks saya, mengembangkan keluarga dengan menyertakan keluarga lain lebih dianjurkan secara budaya dan dianggap bijaksana secara ekonomi. Saya dibesarkan untuk dekat dengan para sepupu (dari kedua jenis kelamin) dan menganggap mereka bagian dari kehidupan saya, bukan separuh orang asing. Karenanya, saya tidak bakal bisa memandang mereka sebagai calon suami.


[i] ‘Bradford study finds higher birth defect risk in married cousins’, BBC, 4 Jul 2013, bisa dibaca di sini

Leave a Reply
Aquila Klasik