Modest Style

Menikah di Pangkalan Pemberontak Suriah

,
SYRIA-CONFLICT-REBELS-WEDDING
SURIAH, RABIAA: Pemberontak Suriah Assad al-Islam berdiri dengan Laila, istrinya yang keturunan Suriah-Macedonia di luar sebuah pangkalan pemberontak di Rabiaa, di pegunungan Turkmen di utara Suriah, pada 30 Maret 2013. Assad dan Laila tidak memiliki banyak kesamaan selain bahwa revolusi melawan rezim Suriah telah mempertemukan mereka, yang berujung di pernikahan. AFP PHOTO/ANDREA BERNARDI

Oleh Marie Roudani: RABIAA, Suriah, 5 April 2013 (AFP) – Ketika Assad al-Islam dan Laila memimpikan hari pernikahan mereka, bukan ini yang ada dalam bayangan mereka: menikah di pangkalan pemberontak di pegunungan Turkmen Suriah, dikelilingi oleh anggota brigade tempur Assad.

‘Kami tidak memiliki kesamaan. Satu-satunya hal yang menyatukan kami adalah revolusi melawan rezim,’ kata pasangan muda ini.

Sang pengantin pria adalah mantan tukang roti, pernah dipenjara berkali-kali sebelum bangkit melawan rezim karena ia mendukung janggut panjang dan membantu menyelenggarakan demonstrasi atas kartun Nabi Muhammad.

Pandangan agamanya dianggap sebagai ancaman di negara yang rezimnya menyanjung sekularisme publik dan organisasi Ikhwanul Muslimin dilarang.

Sang pengantin perempuan adalah putri dari seorang pria Suriah dan seorang wanita Macedonia — mantan humas multibahasa untuk sebuah perusahaan besar Suriah yang lahir dan dibesarkan di bekas negara Yugoslavia dan baru menginjakkan kaki di Suriah tahun 2001.

Di depan syekh brigade itu, mereka mengucapkan akad pernikahan mereka dengan disaksikan sekelompok kecil orang — dua orang saksi, kepala brigade yang mewakili ayah pengantin wanita, dan sekelompok pejuang di sebuah teras atap.

Jauh dari kota terdekat, tempat ini nyaris hening kecuali suara angin dan sesekali bunyi tembakan atau ledakan bergema dari pegunungan.

‘Jika Tuhan mengizinkan kami kembali ke Latakia, kami akan menggelar pesta pernikahan besar dengan keluarga kami di tempat kami pertama kali mengadakan aksi pendudukan menentang rezim,’ kata Assad, yang sudah merencanakan penganan yang bakal ia panggang untuk acara tersebut.

‘Setelah semua yang kami lakukan untuk revolusi, kami berhak untuk merayakannya… Insya Allah,’ kata Laila, dengan senyum lebar yang membuat matanya yang besar dan biru berbinar-binar.

Syekh Mustafa Mohammed Saleh Dibo yang menjadi penghulu pernikahan, dengan mengenakan turban hitam dan jaket kulit, mengaku sangat senang dengan pernikahan tersebut.

“Pernikahan ini menandakan hidup terus berjalan, meskipun rakyat kami sedang ditindas. (Pernikahan) Ini juga merupakan cara menentang rezim,’ katanya selagi seorang pejuang lain membagi-bagikan manisan dan kue tradisional untuk merayakan acara itu.

Bertukar cerita petualangan

Laila dan Assad tampaknya ditakdirkan untuk bersatu. Ketika mereka pertama kali berkenalan melalui Brigade Ezz Abd al-Salam, mereka bertukar kisah-kisah petualangan mereka sejak awal revolusi.

‘Kami berada dalam demonstrasi yang sama di Latakia — kami bahkan dipenjara pada saat yang sama,’ kata Assad yang mengenakan keffiyeh kotak-kotak di kepala dan pakaian olahraga Adidas, bukannya busana pernikahan umumnya.

‘Tapi kami tidak pernah berbicara sampai kami bertemu di pegunungan ini.’

Di Bukit Turkmen di provinsi Latakia utara, mereka hidup dengan pemberontak. Sehari setelah menikah, Assad berencana untuk kembali ke garis depan.

Laila bertugas sebagai seorang intendan. Ia mengawasi persediaan senjata unit pemberontak  yang mencakup berpeti-peti roket, senapan tempur Kalashnikov, senapan jitu Dragunov, dan bahkan senapan mesin berat yang pelurunya mampu menembus pelat baja.

Ketika seorang pejuang kembali dari garis depan, ia menyerahkan senjatanya dan Laila mencopot magasinnya kemudian memasangnya lagi dengan amunisi penuh.

‘Semua orang di brigade ini menyayanginya,’ kata Assad bangga. ‘Bila mereka pulang, mereka selalu membawa hadiah kecil untuknya.’

Tapi hal ini tidak selalu mudah untuk Laila yang berusia 25 tahun.

‘Mereka mencoba menyingkirkan dia, membuat dia berjalan selama berjam-jam mengarungi lumpur dan melewati pegunungan dengan beban berat di punggungnya, untuk menguji apakah dia bisa lulus ujian militer,’ kenang Assad, tertawa.

Dan Laila lulus — dengan gemilang.

Laila menganggap, ‘penting sekali agar revolusi kami bukan hanya revolusi oleh para pria, tetapi oleh semua orang yang merdeka.

‘Saya mulai dengan mengambil bagian dalam demonstrasi damai, tetapi ketika revolusi bersenjata dimulai, saya pun ikut ambil bagian… itu kewajiban saya,’ katanya.

‘Pada tahun 2001, ketika saya tiba di bandara Damaskus untuk pertama kalinya, saya langsung teringat pada buku ‘1984’ karya George Orwell,’ tambahnya menyebut karya apokaliptik penulis Inggris terkenal tentang totalitarianisme itu.

‘Itulah Suriah.’

Leave a Reply
<Modest Style