Modest Style

Mengubah Hobi Jadi Karier

,

Dalam artikel pertama dari tiga artikelnya sebagai penulis tamu, Rukaiya Bhegani berbagi kisah bagaimana dia mengubah hobi kulinernya menjadi bisnis yang sukses.

Mengubah Hobi Jadi Karier_Aquila Style

Setelah menikah dan pindah ke London dari Kanada pada tahun 2006, saya langsung mulai mencari pekerjaan yang berhubungan dengan gelar sarjana ilmu politik saya.

Mencari pekerjaan di salah satu kota yang paling kompetitif di dunia tidaklah mudah, jadi saya memanfaatkan waktu luang yang kini saya miliki dan mulai menjelajahi berbagai area London setiap minggu.

Ada perbedaan besar antara Kanada dan Inggris, tapi daripada mengeluhkan hal remeh-temeh, saya lebih memilih untuk menerima saja perubahan ini. Ini membuat transisi terasa jauh lebih mudah bagi saya.

Saya juga terobsesi dengan London saat tumbuh dewasa, jadi Alhamdulillah, kepindahan dan pernikahan saya merupakan mimpi yang jadi kenyataan!

Dalam setahun saya mendapat pekerjaan yang bagus di posisi pemasaran dalam firma hukum. Meskipun saya memperoleh beberapa peluang bagus dan bisa bepergian melihat dunia, ada bagian dari diri saya yang ingin melakukan sesuatu yang lain…

Sesuatu yang lebih kreatif.

Latar belakang membuat kue

Saat kami tumbuh dewasa, saya dan kakak sama-sama suka membuat kue. Kami biasa menghabiskan berjam-jam dari Sabtu sore kami membuat dapur ibu kami berantakan selagi mencoba berbagai resep kue bolu, cookies, dan brownies.

Kue-kue kami tidak selalu berhasil, tapi itu tidak mengecilkan hati kami. Sebaliknya, ini malah membuat kami semakin ingin membuat kue, dan mencoba bahan-bahan yang berbeda. Ibu kami juga merupakan sosok yang sungguh menginspirasi kami. Beliau dulu – hingga kini – adalah nyonya rumah yang luar biasa. Di tangan beliau, memasak dan membuat kue untuk 50 orang jadi tampak mudah!

Tante-tante dan sepupu saya tidak berbeda. Bibi ibu saya (yang dijuluki ‘Boflo Maa’ atau ‘Nenek Roti’) pernah memiliki toko kue di Uganda, jadi saya merasa gen membuat kue cukup dominan dalam keluarga kami.

Pemicu

Karier cupcake saya dimulai ketika saya mengadakan pesta ulang tahun kejutan untuk suami saya lima tahun yang lalu. Alih-alih membuat kue biasa, saya memutuskan untuk membuat cupcake karena kue ini lebih mudah untuk disajikan dan, pada saat itu, masih terbilang unik –tren cupcake belum sepenuhnya melanda Inggris.

Tidak ada remah yang tersisa di nampan setelah kami mengedarkan cupcake ini ke para tamu. Semua orang terkesan dengan fakta bahwa saya membuatnya sendiri dan tidak memesan dari toko kue.

Saat itulah saya mendapat ilham: ‘Saya bisa menjual kue-kue ini,’ pikir saya. Suami saya memberi saya dorongan yang saya butuhkan dan, karena ia juga seorang wirausahawan, ia menyemangati saya untuk mulai lebih sering membuat kue untuk pesta dan acara, dan meminta bayaran untuk pesanan yang datang.

Saya mulai dari skala kecil, membuat kue untuk acara-acara keluarga atau ulang tahun teman. Setiap kali saya menerima respons positif. Kabar ini mulai menyebar setelah teman-teman saya bercerita kepada teman-teman mereka, yang bercerita kepada teman-teman mereka, dan seterusnya.

Akhirnya saya mulai menerima pesanan cupcake secara teratur, saat itulah saya mulai menjalani bisnis ini lebih serius. Tapi saya bertanya-tanya apakah saya bisa membuat kue sendiri sambil terus bekerja purnawaktu, dan apakah orang akan terus membeli kue buatan saya di kota yang penuh dengan kedai kopi dan toko kue di hampir setiap sudut jalan.

Suatu hari setelah pulang bekerja, ketika sedang berjalan di sepanjang trotoar yang penuh sesak di pusat kota London, saya disodori majalah gaya hidup dan fashion gratis. Ketika saya melirik sekilas sampul majalah itu, saya terkejut dengan apa yang saya lihat.

Ada gambar sembilan cupcake yang dihias cantik dengan judul ‘Ubah Hobi Anda Menjadi Bisnis’.

Kebetulan atau tidak, saya menganggap ini sebagai pertanda. Setelah membalik-balik halamannya, saya terpesona ketika menemukan petunjuk tentang cara memulai bisnis dan beberapa studi kasus dari para wanita yang telah berhasil melakukannya. Maksud saya bukan sukses dalam arti mendapat tambahan uang saku, melainkan sukses dalam arti menciptakan merek-merek terkenal, mendapat untung ratusan ribu pound per tahun dan memosisikan diri mereka sebagai pemimpin pasar.

Mau tak mau saya melihat benang merah di antara semua cerita tersebut: Sebuah bisnis yang sukses dimulai dengan hanya satu produk yang bagus dan ambisi untuk sukses. Dengan pikiran itu, saya pergi ke dapur untuk mulai membuat kue, membuat lagi, dan lagi.

Begitulah lahirnya Cuppidy Cakes.

Bisnis berkembang

Tiga tahun setelahnya dan di sinilah saya, masih membuat kue – sambil mempertahankan pekerjaan tetap saya. Saya sudah membuat cupcake dengan hiasan fondant buatan tangan dengan semua tema yang bisa terbayangkan.

Puncak karier cupcake saya sejauh ini adalah posisi runner-up dalam kompetisi yang diadakan surat kabar Times untuk merancang kue pengantin Royal Couple beberapa tahun yang lalu. Saya terkesima melihat cupcake saya tampil di surat kabar nasional!

Tahun lalu saya mengambil kursus tentang cara menumpuk dan menghias kue pengantin, tapi selain itu saya belajar sendiri –  mulai dari menonton video panduan di YouTube sampai program TV di Amerika seperti Ace of Cakes dan Cake Boss.

Bisnis saya telah banyak berkembang dalam satu tahun terakhir ini, dan saya sekarang memasok ke kedai kopi baru di jalanan di mana saya pertama kali mendapat majalah yang memulai semuanya.

Berawal dari sana dan kembali lagi ke sana!

Nantikan artikel kedua saya. Di dalamnya, saya akan memberikan beberapa tips tentang cara memulai bisnis sendiri – dan bahkan mungkin berbagi resep cupcake dengan Anda!

Untuk mendapat lebih banyak info seputar cupcake, bergabunglah dengan Cuppidy Cakes di Facebook.

Leave a Reply
<Modest Style