Modest Style

Menghindari Godaan

,

Sementara kita mungkin cenderung menginginkan yang terlarang, mengubah pandangan kita dapat mempermudah kita menghindarinya, tulis Meaghan Seymour.

ina WP-temptations-Dreamstime
Gambar ini mungkin mencerminkan citra Belanda, tapi kenyataannya jauh dari itu, tulis Meaghan Seymour. (Gambar: Dreamstime)

Sudah hampir setahun sejak saya pindah ke Belanda, negara indah yang sebelumnya hanya saya ketahui dari citra buruknya. Kenyataan bahwa orang dapat secara legal membeli ganja di setiap “kedai kopi” di sini, berjalan melewati bordil legal dan menikmati kelonggaran batas usia minum alkohol yang termasuk paling rendah di dunia merupakan alasan negara ini terus distereotipkan oleh pihak luar.
Dengan gambaran itu di dalam pikiran, saya keliru mengasumsikan bahwa seluruh negara merupakan pesta besar-besaran yang tidak pernah berakhir. Dan melihat dari video-video turis dari Amsterdam yang beredar online, saya bukan satu-satunya yang mengasumsikan ini.

Tapi dalam pengalaman saya berinteraksi dengan masyarakat lokal, di situlah stereotip tampaknya berakhir – sebagai fenomena bagi wisatawan, terutama yang berasal dari kota-kota perbatasan di sekelilingnya yang datang ke sini untuk mendapatkan sensasi mereka. Sebaliknya, saya menemukan diri saya dikelilingi oleh nilai-nilai konservatif dan tradisional, cinta keluarga dan sopan santun, dan sikap konvensional yang tampak jelas (bahkan cenderung berlebihan).

Sebuah episode di The World’s Strictest Parents (Orangtua Paling Ketat Sedunia – sebuah acara realitas TV di mana orangtua Inggris yang muak mengirim anak remaja mereka yang nakal ke luar negeri dengan harapan mengubah mereka menjadi lebih baik) meringkas apa yang telah saya alami di sini. Dalam salah satu episode khusus, seorang remaja Inggris yang menyukai ganja datang untuk tinggal dengan keluarga Belanda yang ketat. Di sekolah, ia sesumbar tentang niatnya untuk teler, tapi malah tampak seperti pecundang. Bagi anak-anak Belanda yang ia temui, tidak ada hal yang bisa dibanggakan dari berpesta dan menggunakan narkoba.

Sikap mereka tidak seperti apa yang saya ingat dari rekan-rekan saya selama masa SMA, di mana semakin memberontak seseorang, semakin keren dia. Ada sensasi dan kebanggaan tertentu untuk melanggar aturan orangtua, peraturan sekolah, atau pokoknya, aturan. Tapi mungkin alasan rekan-rekan saya yang di bawah umur itu sangat ingin mencoba alkohol hanya karena zat itu berisiko tabu.

Mungkin itu sifat manusia. Kita bisa menjadi terobsesi oleh apa yang kita anggap terlarang bagi kita. Meskipun Islam tidak memiliki konsep dosa asal seperti dalam paham Kristiani, kisah Alquran tentang ketidakmampuan Adam dan Hawa untuk menjauh dari pohon terlarang (2:35-6) mungkin berarti bahwa tergoda dengan hal-hal yang dilarang sudah mendarah daging dalam diri kita.

Dan itu tidak hanya terbatas dengan perbuatan dosa kita, tetapi juga menuruti nafsu kita. Kita tidak boleh menghabiskan uang ekstra saat belanja, tapi kita tidak sanggup menahan godaannya. Kita tidak seharusnya makan cupcake ketiga yang sarat gula di pesta, tapi dengan rasa bersalah kita melahapnya. Kita mestinya tidak sekali-kali begadang menyaksikan serial terakhir acara televisi favorit ketika kita tahu bahwa kita memiliki tanggung jawab yang penting pagi harinya, tapi kita tetap menekan tombol play, walaupun mengetahui bahwa kita akan menderita dampak dari pilihan itu hari berikutnya.

Namun, dalam semua situasi ini, kita bisa melihat efek langsung segera dari ketidakmampuan kita untuk mengontrol diri kita sendiri. Sampai tahap tertentu, kita juga memiliki kemampuan untuk memperbaikinya. Mengeluarkan terlalu banyak uang? Evaluasi kembali anggaran kita. Makan berlebihan? Makanlah lebih sehat selama sisa minggu berikutnya.

Tapi melanggar norma-norma agama yang telah ditetapkan bagi kita adalah letak kerumitannya, karena kita bahkan tidak tahu efek apa yang menunggu kita setelahnya. Memang saya mengharapkan Tuhan Maha Penyayang, Pengampun, dan Pengasih, tapi apakah kita bisa benar-benar yakin bahwa pertobatan, penyesalan, dan rasa bersalah kita cukup?

Dosa-dosa, tabu, dan batas-batas moral lainnya yang kita tahu harus kita hindari jauh lebih luas dari sifat buruk Amsterdam yang saya sebutkan di atas. Tapi tinggal di tempat yang begitu mudah mengakses semua hal yang pernah dipuja-puja saat saya muda, sekaligus menyaksikan hal-hal itu dianggap rendah, telah membuat saya berpikir tentang bagaimana mendekati semua godaan lain yang saya temui di hidup saya sehari-hari. Bisa dibilang, beberapa remaja Belanda yang sederhana mengajarkan saya sebuah pelajaran dalam etika pribadi.

Mungkin kita membuat hal ini terasa lebih sulit untuk diri kita sendiri ketika kita mencoba menghindari hal-hal yang kita mungkin tergoda dengan dalih “Saya tidak boleh” atau “Saya tidak seyogianya”. Mungkin ada lebih banyak kekuatan dan pilihan jika kita berpikir dan meyakini bahwa “Saya tidak mau melakukannya”.

Bisakah kita menyerah ke berbagai kesempatan yang kita hadapi untuk mengonsumsi alkohol, gosip, berbohong, menghakimi orang lain, melalaikan shalat, dan sebagainya? Yang pasti, kita bisa. Tapi bukankah godaan itu akan tampak tak begitu menggoda ketika kita menyadari bahwa sebenarnya kita sama sekali tidak menginginkannya?

Leave a Reply
<Modest Style