Modest Style

Menghapus Stigma: Penyakit Kejiwaan di Masyarakat Muslim

,

Penyakit kejiwaan bisa ditemukan di masyarakat dari berbagai budaya dan agama. Fatimah Jackson-Best memaparkan bagaimana komunitas muslim dapat mulai mendukung orang-orang yang memiliki gangguan kejiwaan.

Gambar: Photl
Gambar: Photl

Kebanyakan agama dan budaya memiliki masalah yang begitu tabu atau terstigma sehingga orang enggan untuk membicarakannya. Mungkin tentang seksualitas, penganiayaan, atau bagaimana perempuan dinilai lebih rendah dari pria. Mungkin ini merupakan rahasia kotor di masyarakat, dan karena kita mengabaikannya, maka masalah-masalah tersebut seolah-olah tidak ada. Tapi seringkali, topik yang kita hindari itu mempengaruhi orang-orang yang berada dalam situasi kurang beruntung, dan celakanya, kediaman kita membuat mereka makin terisolasi.

Saya tidak memiliki penyakit mental, tapi sebagian besar penelitian yang saya lakukan berfokus pada kesehatan mental. Saya menemukan sebuah tema umum di berbagai proyek di mana saya terlibat,yaitu informasi yang salah tentang penyakit mental dan stigma terhadap orang yang hidup dengan penyakit ini. Di antara sebagian muslim, ada keengganan untuk memberikan perhatian yang semestinya kepada penyakit jiwa, dan ketika penyakit ini diperhatikan, caranya cenderung tidak membantu orang yang sedang mengalami gangguan mental.

Saya telah mendengar semua saran dari pemuka agama atau anggota keluarga mengenai obat untuk penyakit mental, dari membaca Al-Quran sampai tidur di masjid. Kadang-kadang penyandang sakit jiwa yang diberi saran seperti itu dianjurkan untuk mengganti obat mereka dengan cara-cara religius tersebut, yang justru dapat memperburuk kondisi mereka.

M AbdurRashid Taylor, seorang ulama yang berbasis di Toronto dan penyedia layanan kesehatan mental, menjelaskan bahwa stigma terhadap kesehatan mental mungkin karena biasanya ini dikaitkan dengan kualitas keagamaan seseorang. Dia mengatakan, ‘Sebagian muslim memandang penyakit mental semata-mata penyakit rohani dan dengan demikian merasa si penderita telah melakukan sesuatu yang salah’.

Akibatnya, orang yang mengalami penyakit mental mungkin menyalahkan diri sendiri karena memiliki kondisi ini dan mulai mempertanyakan spiritualitas mereka. Lebih buruk lagi, mereka juga menghadapi cacian dan penghakiman dari masyarakat yang seharusnya mendukung mereka.

Menyembunyikan kesulitan orang atau menawarkan solusi yang tidak mengena ke inti permasalahan sangat merugikan orang yang hidup dengan penyakit mental, juga merugikan komunitas muslim. Kekuatan kita ditentukan oleh anggota masyarakat terlemah, dan karena itu jika salah satu dari kita menderita, kita tidak akan dapat benar-benar bergerak maju.

Kenyataannya, kebanyakan penyakit jiwa merupakan masalah umum yang dialami oleh orang-orang dari semua budaya, agama, dan etnis. M AbdurRashid Taylor menyatakan bahwa selama 15 tahun ia menjadi konselor bagi umat Islam, salah satu penyakit mental yang paling umum ia temukan adalah Gangguan Stres Pascatrauma (PTSD) pada laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang mengungsi dari negara yang dilanda perang. Yang juga umum adalah depresi sebagai akibat dari imigrasi dan situasi keluarga yang sulit.

Ini adalah situasi yang bisa dihadapi semua orang setiap saat, atau jika keadaan hidup kita berbeda. Coba bayangkan diri Anda pada posisi seorang pemuda yang dipaksa untuk pergi berperang. Atau bayangkanlah seorang wanita yang melarikan diri dari rumah tangga yang penuh siksaan dan sekarang harus menjadi miskin dan direndahkan karena meninggalkan suaminya.

Kondisi tersebut mungkin terdengar ekstrem, tetapi laki-laki dan perempuan muslim menghadapinya setiap hari. Dengan terus meningkatnya insiden kekerasan negara dan lemahnya hukum di sekitar kekerasan dalam rumah tangga di seluruh dunia, situasi ini akan terus muncul. Jadi bagaimana kita bisa menghadapi mereka dengan tepat dan dalam cara yang paling mendukung?

‘Membuka percakapan tentang penyakit mental di masyarakat kita adalah salah satu langkah pertama yang penting,’ Taylor menganjurkan. Dalam melakukan hal ini, kita menanggalkan lapisan pertama stigma dan menciptakan kesempatan untuk diskusi dan pembelajaran. Alih-alih menghindari pria atau wanita yang telah secara tidak adil dicap ‘gila’, tanyakanlah tentang keadaan mereka, dan lakukanlah hal ini dengan niat baik untuk bersimpati dan menawarkan bantuan.

Selanjutnya, kita perlu mendidik kembali diri kita tentang penyakit mental. Buanglah istilah negatif seperti ‘gila’ atau ‘tidak waras’ dan gunakanlah istilah yang tepat untuk penyakit mental. Juga, dapatkanlah informasi tentang kesehatan dan penyakit mental sehingga Anda dapat mendukung orang di sekitar Anda. Kadang-kadang orang yang hidup dengan penyakit mental dekat dengan kita, dan dengan membuka pikiran Anda sendiri, Anda juga dapat membuka jalur komunikasi sehingga mereka nyaman bercerita kepada Anda.

Akhirnya mari kita mengajak para pemimpin agama, imam dan ustad untuk menjadi lebih melek informasi tentang realitas pria dan wanita yang mengalami penyakit mental. Pemimpin agama bertanggung jawab kepada kita semua, tetapi supaya dapat melayani kita dengan benar mereka perlu meningkatkan keterampilan dalam menanggapi anggota masyarakat yang mencari bantuan. Mengatasi kesehatan mental adalah gerakan pribadi dan kelompok, jadi mulailah dari diri sendiri dan bersedialah untuk menjangkau orang lain di sekitar Anda.

Jika Anda tinggal di wilayah Toronto dan membutuhkan dukungan, Anda dapat menghubungi M AbdurRashid Taylor dari Islamic Chaplaincy Services Canada untuk berbagai jenis konseling.

Leave a Reply
<Modest Style