Modest Style

Mengerdilkan diri kita di media sosial

,

Meski memudahkan kita untuk tetap terhubung dan berkomunikasi, menurut Najwa Abdullah ruang digital membatasi gerak emosi manusiawi kita.

Gambar: Picjumbo
Gambar: Picjumbo

Beberapa pekan yang lalu, media sosial Indonesia meributkan sebuah posting seorang perempuan muda yang merasa tidak senang harus memberikan tempat duduknya kepada seorang ibu hamil di atas kereta yang ramai. Melalui aplikasi seluler jejaring sosial Path, ia mengeluhkan ibu tersebut yang dengan mudah mendapat tempat duduk dan merepotkan orang lain di atas kereta.

Saya sangat terkejut membaca pernyataan semacam itu dari seorang perempuan muda masa kini, karena ia mengatakan hal tersebut dengan cara yang menurut saya tidak berperasaan dan menghakimi. Tidakkah ia mengetahui dampak kehamilan pada tubuh seorang perempuan? Begitu sulitkah memberikan tempat duduk untuk seseorang yang sangat membutuhkan?

Postingnya dengan cepat menyebar dan dibaca oleh ratusan pengguna Path, dan menyebabkan serangan balik. Banyak mim diunggah untuk menjelekkannya, memindahkan sorotan dari persoalan mendorong munculnya rasa hormat dan pengertian terhadap ibu hamil menjadi sekadar beramai-ramai menghakimi perempuan muda tersebut.

Kejadian di mana sebuah komentar memancing hinaan bukan yang pertama kalinya terjadi di media sosial.

Di dunia digital, di mana konteks, jarak, dan waktu menjadi lebih tidak penting, membagikan perasaan Anda dengan teman-teman (sekaligus menghilangkan komunikasi langsung) menjadi lebih mudah. Keinginan Anda untuk mendapat perhatian dapat memancing Anda membuat pernyataan di media sosial segera setelah merasakan perubahan suasana hati, tanpa terlebih dulu memikirkan dampak yang mungkin terjadi. Reaksi yang muncul akan posting Anda bisa jadi sama-sama sekadar berasal dari dorongan mendadak dan berujung pada penggencetan siber.

Menurut saya, meningkatnya rasa individualisme berkaitan dengan ketergantungan kita dengan media sosial. Kita menumbuhkan hubungan mendalam dengan gadget kita dan bukannya berbicara langsung kepada orang-orang yang bermasalah. Kita belajar menerjemahkan perasaan dan pemikiran kita ke dalam emotikon dan mim, mengerdilkan pengalaman manusiawi kita menjadi kicauan 140 karakter atau status.

Dengan meluangkan sangat banyak waktu dan tenaga ke hal ini, kita mengembangkan lebih sedikit kemampuan sosial karena kita hanya mendapat sedikit komunikasi langsung dan interaksi pribadi. Pada akhirnya hal ini memutus kita dari lingkungan dan orang-orang di sekitar kita, menjadikan kita semakin individualistis dan memiliki lebih sedikit pemahaman akan apa yang membentuk hubungan manusia yang nyata.

Dalam banyak hal, menurut saya media sosial lebih mempersulit daripada memudahkan kehidupan sosial. Keterputusan dari dunia nyata dan kemurahan hati manusia yang sebenarnya membuat saya bertanya-tanya apakah menggunakan jejaring sosial seperti ini benar-benar bermanfaat?

Leave a Reply
<Modest Style