Modest Style

Mengatasi Prasangka Rasial Sesama Muslim

,

Sebelum kita mulai berbicara tentang ketidakadilan yang kita derita akibat pihak luar, kita harus melihat problem individual, kultural dan rasial pada diri kita sendiri. Theresa Corbin merenungkan prasangka rasial dalam komunitas muslim.

Jantung dari umat kita (Gambar: PhotoXpress)
Jantung dari umat kita (Gambar: PhotoXpress)

Sebagai seorang Amerika berkulit putih, saya telah diajarkan untuk tidak berbicara tentang masalah rasisme. Terus-menerus diingatkan akan ketidakadilan yang disebabkan oleh ras saya dalam 200 tahun terakhir, jelaslah bagi saya bahwa bukan hak kami untuk mengatakan apa itu rasisme. Kami di AS diharapkan untuk menangani rasisme kami, untuk menghadapi dan memperbaiki prakonsepsi kami terhadap ras lain, tanpa komentar supaya kami tidak dinilai sebagai bodoh atau terbelakang.

Meskipun saya percaya kita telah membuat kemajuan dalam toleransi terhadap ras lain, toleransi beragama masih merupakan medan pertempuran sosial. Sejak menjadi seorang muslim, saya telah kehilangan status “kulit putih” saya. Walaupun saya dengan senang hati melepaskannya demi apa yang saya imani, hal ini menempatkan saya dalam posisi untuk mengalami perasaan menjadi bagian dari minoritas yang tak disukai. Ketika orang-orang selalu memperhatikan kerudung saya, sekarang saya tahu bagaimana rasanya didiskriminasi dalam hal pekerjaan, perumahan, dan banyak hal lain yang saya anggap sebagai biasa sebelumnya. Saya sekarang tahu bagaimana rasanya ditatap dan dipanggil dengan nama-nama yang mengerikan oleh orang yang sama sekali asing. Saya sekarang tahu, sungguh mimpi buruk melihat tempat ibadah kita terbakar habis. Ini adalah jenis penghinaan yang tidak boleh diderita oleh siapa pun. Namun mereka melakukannya, karena kebencian dan ketakutan terhadap orang-orang yang berbeda.

Kenyataan yang menyedihkan adalah bahwa penghinaan yang kita derita tidak hanya datang dari sebagian non-muslim karena agama kita. Kita juga menderita prasangka rasial yang dilakukan oleh saudara dan saudari muslim kita sendiri. Banyak mualaf masuk Islam, melihat agama sebagai solusi untuk banyak masalah di dunia – setidaknya saya begitu. Allah telah memberi kita panduan untuk hidup – termasuk cara untuk menghilangkan penyakit sosial seperti rasisme. Rasulullah (saw) dilaporkan mengatakan dalam khotbah terakhirnya: “Sesungguhnya di sisi Allah, yang paling mulia di antara kamu adalah orang yang paling takut kepada Allah. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas non-Arab dan non-Arab di atas orang Arab, juga untuk kulit putih di atas kulit hitam atau kulit hitam di atas kulit putih, kecuali dalam hal takwa kepada Tuhan.” [i] Atau seperti yang digambarkan oleh seorang pria non-muslim ketika dia berkata, “Saya punya mimpi bahwa empat anak saya suatu hari akan hidup di negara di mana mereka tidak akan dinilai oleh warna kulit mereka tetapi oleh bobot karakter mereka.”

Masa dan negara yang diimpikan itu telah ada jauh sebelum Martin Luther King Jr – seorang ikon aktivis hak-hak sipil Amerika – menyampaikan pidatonya yang paling terkenal. Ia datang dalam bentuk umat, atau komunitas muslim dunia. Tapi seperti banyak mualaf, saya kecewa melihat bahwa umat Islam hari ini dan dewasa ini tidak bersikap seperti sahabat Nabi (saw) yang perihalnya banyak kami baca ketika mempertimbangkan Islam. Kita sebagai umat Islam gagal untuk menjadi seperti panutan-panutan tersebut dalam memperlakukan satu sama lain. Lihat saja pergulatan antara nilai-nilai Islam di negara-negara yang dilanda perang, ketika melamar pekerjaan, dan bahkan di masjid-masjid di negara-negara yang relatif damai.

Di setiap negara Barat dengan populasi imigran muslim yang besar, Anda akan melihat bahwa kita tidak berkelompok di masjid-masjid berdasarkan kedekatan. Kita berkelompok berdasarkan dari wilayah dunia mana kita berasal. Kita memberikan sedekah, atau amal, untuk mereka yang berasal dari “negara asal” – mengabaikan orang-orang yang jauh lebih membutuhkan di luar lingkaran ini. Kita lebih memilih untuk menikahkan putra dan putri kita dengan orang-orang yang paling menyerupai kita, mengabaikan calon lain yang lebih berpengetahuan dan rendah hati karena warna kulit mereka mungkin dipertanyakan oleh kerabat jauh kita. Dan memberikan khotbah dalam bahasa asing – yang kadang-kadang diperlukan – sering menghambat orang-orang di luar komunitas dekat kita untuk menghadiri masjid kita. Pada tingkat individu, kita saling menyakiti, bergosip tentang “yang lain” untuk membuat diri kita merasa lebih unggul dan untuk memperkuat identitas budaya kita. Dan kemudian kita mengambil kebodohan ini dan mewariskannya ke anak-anak kita.

ayan-and-suhaib-copy

Sama seperti saya diharapkan untuk tidak berbicara tentang rasisme karena ras saya, kaum minoritas di negara-negara Barat tidak diharapkan untuk berurusan dengan prasangka rasial mereka sendiri karena dalam kadar tertentu mereka sendiri telah mengalaminya. Tapi ini adalah pemikiran yang salah. Hanya karena seseorang telah menjadi korban rasisme tidak membuat orang itu tidak bisa memiliki prasangka rasial. Kita bertanggung jawab atas tindakan kita terhadap orang lain, dan tidak berarti kita dimaklumi jika salah memperlakukan orang lain hanya karena seseorang telah salah memperlakukan kita. Ya, masyarakat kita menderita perlakuan yang tidak adil.

Tapi sebelum kita bisa mulai berbicara tentang ketidakadilan yang kita derita akibat pihak luar, kita harus melihat problem individual, kultural dan rasial pada diri kita sendiri.

Mari kita lebih mendidik diri dalam hal budaya lain dan kemudian kita akan melihat bagaimana, pada dasarnya, kita semua sama. Mari kita tidak membalas kebencian dan ketakutan dengan kebencian dan ketakutan yang lebih besar ketika kita mengajarkan Islam kepada non-muslim. Mari kita menjadi muslim yang lebih baik sehingga kita bisa hidup dalam suatu bangsa, dalam umat, di mana bobot karakter kita – kesalehan kita – adalah yang terpenting. Mari kita ingat bahwa dalam persatuan ada kekuatan. Thomas Carlyle, seorang filsuf dari era Victoria, pernah berkata: “Hati manusia tidak seharusnya ditata untuk melawan satu sama lain, tetapi harus ditata untuk bergandengan satu sama lain, dan semua untuk melawan kejahatan saja.” Saya merasa ini kebenaran universal, dan pengingat yang baik untuk kita semua.
________________________________________
[i] ‘Khotbah Terakhir Muhammad’, tersedia di sini

Leave a Reply
<Modest Style