Modest Style

Mengarungi Pernikahan Setelah Pesta Berakhir

,

Apa yang terjadi setelah pesta pernikahan usai? Ameera Al Hakawati menjelaskan bagaimana caranya menjembatani kesenjangan budaya serta apa yang dilakukannya sebagai perempuan Inggris untuk mempertahankan pernikahannya dengan pria Arab.

ina WP-ameera-marriage-sxc-02
Senantiasa arungi pernikahan sambil bergandengan tangan (Foto: SXC)

Para pencipta dongeng pasti ingin mengatakan sesuatu ketika mengakhiri kisah mereka dengan kalimat ‘hidup bahagia selama-lamanya’. Maksud saya, tidak ada yang mau mendengarkan tentang apa yang terjadi setelah si pasangan kembali dari bulan madu dan tinggal bersama untuk pertama kalinya, bukan? Siapa sih yang kepingin membaca dongeng tentang memasak, menyetrika dan pertengkaran perihal teman-teman si suami yang mencurigakan? Di mana letak keajaiban dalam pel, aneka kain dan penggorengan? Di mana pula letak misteri dalam jadwal, tanggung jawab dan ketiduran di depan TV karena kesulitan membagi waktu antara urusan pekerjaan dan rumah tangga?

Mari saya beritahukan satu hal tentang pria Arab (generalisasi tentu saja, tapi secuil nasihat penting ini berasal dari pandangan, pengamatan dan pengalaman saya). Kecuali mereka dibesarkan di Barat, mereka akan sangat jarang membantu dalam urusan rumah tangga. Semua itu, sayangku, adalah tugasmu. Dan selagi melakukannya, Anda sebaiknya tetap terlihat cantik—kecuali untuk jenis pekerjaan yang membuatmu berlepotan!

Memahami Pasangan

Saya orang yang kuat pendirian. Saya berasal dari London, amit-amit, salah satu kota tersibuk dan paling agresif di dunia. Saya tahu cara mengatasi diri sendiri. Tapi jika sudah berurusan dengan suami, saya kehabisan akal. Saya benar-benar tidak bisa memahami cara berpikirnya yang tradisional. Di tempat asal saya, suami-istri saling berbagi tugas di rumah, terutama bila keduanya bekerja penuh waktu. Tapi dalam budayanya, pekerjaan rumah tangga mengurangi kejantanannya.

Saya sampai menangis, menjerit, berteriak, menggerutu, menggertak, mengeluh, mengomel. Situasinya sempat membaik, tapi tak sedikit pun mendekati level yang bisa saya terima tanpa harus merengut. Betapa bodohnya saya menganggap perbedaan budaya kami bukan hal yang penting. Misalnya, dia lebih menyukai samkeh harra (ikan pedas ala Arab) daripada sashimi salmon yang segar, atau kami tidak bisa menonton DVD bajakan berdua karena tidak ada terjemahan Arab di dalamnya. Semua ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pulang ke rumah setelah hari yang panjang di kantor lalu disambut dengan tumpukan piring kotor di bak cucian.

Saya harus mencoba taktik berbeda sebelum tergoda untuk meracuni koussa mahshi

nya. (Koussa mahshi adalah hidangan berupa zukini yang dipenuhi sayur mayur—terung, labu kecil, kentang, lobak merah dan berbagai daun terutama daun anggur, biasanya dihidangkan bersama makanan utama)

Menata Emosi

Setiap perempuan Arab yang saya ajak bicara tentang dilema tersebut mengatakan hal yang sama: Anda bisa mengendalikan pria Arab apabila Anda bersedia tutup mulut dan belajar untuk sedikit mengalah.

Dalam hal pengendalian diri, saya jauh kalah piawai dari teman-teman perempuan Arab saya. Ternyata saya terlalu blak-blakan dan apa adanya. Kalau saya  menginginkan kehidupan yang damai, saya mesti pintar menata emosi. Teman-teman saya yakin jika saya berhenti menyemburkan apa pun yang saya rasakan dan mencoba taktik yang lebih halus, suami saya akhirnya akan mendengarkan. Kata mereka, dia kan menikah dengan perempuan, bukan monster. Semakin feminin pendekatan yang saya ambil, dia akan semakin responsif.

Pilih-pilih Pertengkaran

Semua pasangan suami-istri, dari budaya yang sama atau tidak, mesti menyadari tidak semua hal perlu dijadikan bahan pertengkaran. Tadinya, setiap kali saya tidak suka/setuju dengan sesuatu, saya langsung menyatakannya. Mengingat sudut pandang kami yang berlawanan, ada banyak hal yang tidak saya setujui. Kami berdua sama-sama keras kepala dan kekanak-kanakan. Kami sama-sama temperamental dan tidak mau kalah. Hasilnya? Hampir setiap hari terjadi pertengkaran konyol dan tak penting tentang topik-topik paling menggelikan. Saya harus belajar memilih isu yang layak diperjuangkan daripada hal-hal yang tidak pantas diributkan. Kalau tidak, setiap kali saya marah-marah, dia tidak akan mendengarkan.

Menerima Bantuan

Banyak perempuan tidak suka membicarakan pernikahan mereka dengan perempuan lain, takut mereka sedikit banyak akan terlihat rendah. Akan tetapi, bila ada yang saya pelajari dari hidup ini, itu adalah pentingnya menceritakan rahasia kepada orang yang benar-benar peduli—lebih baik mereka yang pernah merasakan pengalaman yang sama—sehingga mereka dapat memberi saran dan menawarkan sudut pandang yang benar. Sebagai contoh, saudara perempuan saya mengatakan dia baru sadar terlalu sering mengomel setelah sepuluh tahun menikah. Sekarang, kapan pun dia mulai marah-marah, komentarnya hanya akan diacuhkan oleh suaminya.

Berteman dengan Mertua

Realistis saja. Tidak ada pria Arab dari keluarga lumayan kaya dan cukup terhormat akan menempatkan istrinya dalam derajat yang lebih tinggi dari ibunya. Hal itu tidak akan terjadi. Semakin cepat Anda menyadarinya dan mencoba menjalin keakraban dengan ibu mertua, semakin cepat pula Anda mendapatkan respek suami.

Pada awalnya saya hampir tidak mengenal mertua saya. Kami jarang dapat berkomunikasi atau bahkan merasa dekat satu sama lain. Setiap kali suami menelepon mereka dan menyerahkan gagang telepon kepada saya, telapak tangan saya akan mulai berkeringat dan wajah saya jadi merah padam. Saya hanya berbicara singkat dan apa pun yang saya katakan, ibu mertua saya bahkan tidak memahaminya. Tanpa saya sadari, kegelisahan saya membuat saya lebih jauh lagi dari mereka. Sampai belakangan, bisa ditebak, ibu mertua mengatakan kepada suami bahwa saya seperti tidak peduli pada mereka dan dia merasa asing dengan saya.

Saya tidak akan bohong; kata-katanya menyakitkan. Tapi jauh di lubuk hati, saya tahu dia benar. Sekarang saya mengirimkan sms kepadanya setiap dua hari sekali dan menceritakan apa pun yang saya inginkan tanpa memikirkan apa yang dipikirkannya tentang saya atau memedulikan apakah dia mengerti apa yang saya maksud. Intinya, saya berusaha menjalin hubungan dengan mereka, dan suami saya mengetahuinya serta menghargainya.

Begitu pula sebaliknya. Semakin baik perlakuan suami kepada orangtua saya dan semakin mereka menyukainya, semakin saya menyadari saya mencintai dan menghormatinya. Memenangkan hati mertua tak pelak lagi merupakan cara untuk memenangkan hati pasangan Anda.

Menuai Hasil

Tidak mudah menjalani pernikahan. Komitmen seperti ini jauh dari pengalaman romantis, simpel dan satu hati yang kita harapkan saat masih lajang. Dibutuhkan kerja keras untuk mempertahankannya. Dan jika Anda berdua berasal dari budaya yang berbeda, usaha yang dibutuhkan akan semakin keras. Anda akan menghadapi tantangan standar yang dialami setiap orang, beserta beberapa cobaan ekstra. Bagaimanapun juga, Anda berdua individu yang berlainan dari keluarga, kebudayaan, negara, dan dunia yang berbeda. Bagaimana Anda mengharapkan keharmonisan tanpa kerja keras?

Sederhananya, yang perlu kita lakukan adalah mencoba mendahulukan kepentingan pasangan. Umpamanya, saya tidak menyukai tabbouleh (salad yang terbuat dari daun peterseli, bawang dan tomat). Saya benci menghabiskan waktu untuk memisahkan helai daun peterseli dan mengirisnya sampai halus. Tapi suami sangat menyukainya, jadi saya akan melakukannya untuknya. Tindakan itu menunjukkan kepedulian saya. Hal yang sama berlaku baginya. Meski letih dan malas, dia bersedia menemani saya menjelajahi Mal Dubai demi mencari sepasang sepatu bertumit tinggi berhiaskan manik-manik paku yang sempurna.

Setiap hari terasa semakin mudah. Kini kami telah menikah selama hampir tiga tahun dan sejujurnya saya katakan tahun ini jauh lebih mulus dari tahun-tahun sebelumnya. Salah satu alasannya adalah karena kami semakin saling memahami. Kami tahu apa yang dibutuhkan, disukai dan dibenci pasangan.

Memang butuh waktu, tapi pelan-pelan kami sadar kami tidak bermaksud saling menjauh, atau mencari-cari kesalahan. Kami baru saja menghabiskan seluruh hidup untuk berpikir dan bersikap sesuai budaya kami, lalu kini tiba-tiba kami harus memadukan pandangan budaya masing-masing. Akan diperlukan waktu untuk menyatukan tradisi kami sampai menghasilkan campuran budaya sendiri. Dan selagi kami melakukannya, kami tidak boleh saling menjatuhkan. Inilah skenario yang kami pilih, dan kami mesti berjuang untuk mewujudkannya.

Saya juga telah berusaha mengendalikan emosi dan menjadi lebih feminin. Ternyata tidak sesulit yang saya bayangkan. Saya tidak merasa mengubah kepribadian, hanya memolesnya sedikit demi ketenangan jiwa masing-masing. Jadi setiap kali saya ingin sesuatu (atau ingin dia melakukan sesuatu) saya berusaha untuk tidak terus mengomel atau marah-marah. Saya belajar kapan dan bagaimana meminta dalam cara yang hampir dipastikan berhasil. Kini suami saya hampir setiap hari membersihkan apartemen tanpa saya minta; saya jarang menemukan piring kotor menanti saya di bak cucian saat saya pulang dari kantor; dan suami bahkan mencuci sendiri perlengkapan sepak bolanya dengan tangan tanpa selalu mengharapkan bantuan saya.

Dibandingkan semua itu, apa sih sulitnya meminta baik-baik dengan bumbu sedikit rayuan dan sikap lugu?

Leave a Reply
<Modest Style