Modest Style

Mengapa Saya ‘Membunuh’ Akun Facebook Saya

,

Kita lebih dari sekedar media sosial yang mengkomunikasikan kecemburuan atau persetujuan orang lain, tulis Elest Ali.

3002-WP-Facebook-by-Elest-Ali

Elest meninggalkan Facebook musim panas lalu. Dia mengarahkan kursor ke profil pribadinya dan menghapusnya. Koleksi bertahun-tahun foto, posting di dinding dan teman-teman maya yang superfisial pun seketika tenggelam dalam pusaran dunia maya.

Bagaimana rasanya? Anehnya, baik-baik saja.

Sebelum keputusan pentingnya itu, Elest selalu berpendapat bahwa perkumpulan bodoh yang terbentuk dengan dalih media sosial ini jahat secara sosial (ironisnya), ontologis, dan ideologis. Dia mengagumi teman-temannya yang berani meninggalkan media ini dengan berbagai alasan pribadi. Mereka nampak begitu yakin, begitu keren. Namun ia terus kembali terpikat oleh jebakan kemunafikan ini.

Sebagian dirinya dirasuki godaan untuk memberi komentar, posting dinding, dan label dalam foto-foto memikat yang – mari kita akui —memanjakan ego. Dan bagian lain, yang terpendam dengan frustrasi atas kegagalan untuk mengikuti gaya teman yang keren dan berbeda, membuatnya marah terhadap Facebook dan mengutuki keburukannya. Namun ketika semua keluhan itu selesai, dia hanyalah satu di antara orang-orang yang suka membenci tapi tidak bisa melakukan apa-apa terhadap hal yang mereka benci tersebut — seperti majalah gosip, atau seri ke-lima Vampire Diaries.

Lalu, peristiwa apakah yang menjadi pemicunya? Salah satu pembuka matanya adalah kejutan cerita Edward Snowden tahun ini yang mengungkap bahwa kita (diiringi sindiran penuh kepuasan “Sudah kubilang!” dari para penggemar teori konspirasi) sedang dimata-matai oleh pemerintah kita.

Dorongan lainnya lebih terasa dekat di hati. Anda mungkin telah mendengar tentang protes Gezi Park yang melempar Turki ke kancah kekacauan awal tahun ini. Ketika saluran televisi Turki yang dikendalikan pemerintah gagal menyiarkan berita tentang pengunjuk rasa damai yang digas dan dipukuli oleh polisi, masyarakat memberdayakan internet. Mereka memberitakan hal tersebut, mendorong protes, dan menunjukkan solidaritas.

Izinkan saya untuk memberikan sesuatu mengenai pandangan tentang negara asal saya: laporan transparansi tahunan Google tahun 2013 menempatkan Turki di posisi teratas dalam daftar negara yang mengajukan penghapusan konten politik.[i] Kedua dalam daftar tersebut adalah Amerika Serikat, sedangkan Cina berada dalam posisi yang cukup rendah. Jadi tidak mengejutkan jika ketika masyarakat merambah arena Twitter, respon pemerintah kita adalah memperketat kekuasaan mereka.

Ketika Elest menyuarakan keprihatinannya, dia dipertemukan dengan dua jenis respon. Yang pertama adalah seperti ini: “Tidakkah kamu terlalu paranoid? Mengapa hal tersebut mengganggumu jika kau tidak memiliki apapun yang harus disembunyikan?”

Jawabannya sederhana dan selaras dengan semangat ekstentrik dan anarkisnya: “Karena saya tidak setuju dengan hal itu. Dan dalam demokrasi, sikap tidak setuju adalah salah satu hak asasi manusia saya yang paling mendasar.

Menurut saya dunia kita dengan cepat berubah menjadi sebuah negara polisi. Pemerintah yang menghindar dari  transparansi dengan mengutuk para pemberontak seperti Snowden adalah sama dengan orang-orang yang mengintai setiap rinci kehidupan pribadi kita dengan kedok keamanan nasional.

Elest setuju dengan pendapat yang mengatakan entah pemerintah itu bodoh, atau mereka berpikir kita ini bodoh. Karena siapakah yang mereka bodohi sebenernya? Mana ada teroris waras yang akan meninggalkan jejak kejahatan di Facebook. Hal ini membuat kita paham bahwa ini sama sekali bukanlah isu tentang keamanan – ini isu tentang kendali. Ini isu tentang meredam orang-orang tidak berdosa yang mau menggunakan haknya untuk protes.

Tanggapan kedua yang diterima Elest kira-kira seperti ini: “Jika kekuasaanlah yang mematai-matai kita, mereka bisa melakukan hal tersebut melalui cara lain juga. Bukankah Facebook hanyalah jarum dalam tumpukan jerami?” Dia tidak bisa membantah hal tersebut. Terus terang, imajinasi Elest terkadang keluar dari relnya. Dalam dunia di luar pikirannya, Elest tidak dapat melawan sistem ini sendiri. Satu-satunya pilihan yang tersisa adalah menolak untuk tunduk dengan pembaharuan profil yang berbunga-bunga dan album foto yang melimpah.

Selain dari kepuasan atas pembangkangan terhadap suatu kekuatan rahasia, saya mendengar Anda bertanya, apa lagi manfaat yang Anda peroleh dengan keluar dari Facebook? Memang benar bahwa urusan politik-lah yang mendorong saya…eh, Elest dari lamunan dan kepatuhan tanpa suara. Ketidaksukaannya, yang melampaui politik, bermuara pada fakta yang tak terhapuskan tentang ras kita – fakta bahwa manusia adalah makhluk sosial.

Keberadaan kita tidak disahkan oleh kecemburuan atau persetujuan orang lain

Dalam seleksi alam di teori evolusi, menjadi sosial adalah sebuah kualitas yang baik bagi kita. Namun dalam zaman yang disetir oleh selebritis MTV ini, kita telah dibodohi untuk maju dalam pelacuran kamera dan khayalan akan menjadi terkenal. Terlebih lagi, telah ada penelitian (dengan persentase dan tabel yang kurang lebih meyakinkan) yang membuktikan Facebook dapat menyebabkan depresi. [ii]

Mengapa ini bisa terjadi jika bukan karena adalah melawan kodrat kita untuk mengembangbiakkan rasa iri dan ketidakpuasan dalam ranah maya yang bertabur rekan-ego, di mana kita mengharapkan orang lain untuk memuja dengan pujian dan empati palsu? Jangan menyangkalnya. Seberapa sering Anda memposting sesuatu yang lucu, namun kemudian rasa puas Anda terhapus ketika tidak ada seorang pun yang memberikan “Like”? Dalam hal ini, kita tidak hanya sekedar sedang dimata-matai, namun juga ditentramkan.

Maka, menjauhlah. Dalam pikiran Elest, kita lebih dari alat yang dengan sengaja membatasi kesadaran kita. Dan keberadaan kita tidak disahkan oleh kecemburuan atau persetujuan orang lain.

Lima bulan setelah membunuh akun Facebook-nya, Elest merasa senang dan berkembang di Internet melalui Twitter dan Tumblr serta beragam blog canggih lainnya. Dia memiliki waktu lebih banyak untuk dirinya dan pemikiran-pemikirannya menjadi lebih serius. Teman-teman di dunia maya yang hilang bukanlah hal yang penting. Teman sejati, dia temukan, tidak melupakannya ketika ia meninggalkan salah satu media sosial.

Satu-satunya kejadian yang Elest sesali dari keputusannya adalah dia tidak dapat “menyukai” halaman Facebook yang berjudul “Russell Brand for Prime Minister” (Jadikan Russel Brand Perdana Menteri).

Biarpun begitu, selalu ada episode berikutnya dari Vampire Diaries.


[i] Google Transparency Report, data terakhir ada di sini
[ii] Lihat untuk contoh, penelitian yang menghubungkan Facebook dan Depresi di sini dan di sini

Leave a Reply
<Modest Style