Modest Style

Mengapa Saya Membaca Rumi

,

Pada saat dunia dalam kendali-teknologi seperti sekarang, bahasa tenggelam dalam lautan akronim, singkatan dan tata bahasa yang buruk. Amal Awad berkisah tentang bagaimana dan mengapa kita harus menjaga keindahan berbahasa.

Merepotkan untuk dibawa namun tidak mungkin untuk diletakkan (SXC)
Merepotkan untuk dibawa namun tidak mungkin untuk diletakkan (SXC)

Saya sudah kecanduan terhadap Rumi.

Sebentar, izinkan saya memperjelas: Saya selalu menyukai dan mengaguminya. Tapi sekarang bisa dibilang saya mencintainya.

Kecintaan saya ini disulut oleh dua peristiwa yang tidak berkaitan. Pertama, seorang teman baru-baru ini menyeret perhatian saya untuk membaca sebuah petikan indah dari kumpulan syair Rumi, yang ternyata sudah menjadi bagian dari koleksi buku saya. (Saya mengeluarkannya dari tumpukan buku hari berikutnya dan sekarang buku itu mudah ditemukan jika saya membutuhkan suntikan magisnya)

Dua minggu berselang, tanpa sengaja saya membuka halaman Facebook yang didedikasikan untuk Rumi. Beberapa gambar yang ditampilkan dalam unggahan terlihat biasa-biasa saja, tapi kata-katanya – oh, kata-kata itu. Membawa saya dari suatu hari yang biasa-biasa saja menuju ke sebuah dunia dengan kemungkinan tak berbatas, melampaui semua urusan duniawi. Kata-katanya adalah cinta, yang spiritual sekaligus material.

Dalam diam ada kefasihan. (In silence there is eloquence.)

Berhentilah menenun dan lihatlah bagaimana pola itu terbentuk. (Stop weaving and see how the pattern improves.)

Dan masih ada lagi:

Syukurilah hidupmu, di setiap reniknya, (Be grateful for your life, every detail of it,)
maka wajahmu akan bercahaya laksana surya, (and your face will come to shine like a sun,)
dan siapa pun yang memandangnya (and everyone who sees it will)
akan merasa suka cita dan damai sentosa. (be made glad and peaceful.)

Muslim. Penyair. Mursyid?

Semua menyatu di dalam dirinya.

Ada makna yang tersurat dan tersirat di setiap barisnya. Jangan takut untuk menyendiri, atau membiarkan hidup tersingkap dengan sendirinya. Bersyukur dan meleburlah menjadi bagian-bagian kecil yang membawa kedamaian.

Menepilah, motivator pribadi, Rumi masih berkata – kata.

Yang terpenting, bagi seseorang yang memiliki minat tinggi terhadap bahasa (saya salah satunya), Rumi adalah sebuah konfirmasi bagaimana bahasa bisa menjadi sedemikian kuat dan indah. Kata-katanya adalah sebuah pengingat agar kita, paling tidak sesekali, mengenakan kacamata yang membuat segala sesuatu tampak indah, dan mencelupkan diri ke dalam pandangan dunia yang romantis, tetapi tetap melakukannya dengan elegan.

Saya membaca Rumi bukan hanya karena kebijaksanaannya dan kefasihannya berbahasa; saya membacanya karena saya takut bahasa tidak sekadar berevolusi, tapi menjadi kehilangan rasa.

Kita semua mencari kehidupan tanpa penderitaan. Kita semua masih mencari-cari, dan Rumi adalah master dari kebutuhan manusia. Ia memahami keputusasaan, namun ia merayakan cinta dan merindukan pemenuhan spriritual yang dapat membawa kita keluar dari dunia yang sementara dan sangat terbatas ini menuju alam yang tak terhingga. Kata-katanya membuat kita terbang.

Ia memberi inspirasi harapan dan cinta serta pemahaman mendalam. Dalam dunia serba-maya, yang acuh tak acuh, dan penuh dengan berbagai akronim ini (ada yang tahu akronim istilahnya?), saya senang diingatkan tentang bagaimana bahasa bisa mengalir, memiliki kedalaman makna, dan menginspirasi kita untuk merasa dan berpikir berbeda tentang diri sendiri.

Saya membaca Rumi bukan hanya karena kebijaksanaannya dan kefasihannya berbahasa; saya membacanya karena saya takut bahasa tidak sekadar berevolusi, tapi menjadi kehilangan rasa. Kita hidup dalam era singkatan tak bermakna, ketergantungan berlebihan terhadap akronim, dan kemalasan tak terkira.

Ini adalah dunia dot-com dan, kadang, saya hanya ingin diingatkan bagaimana kondisi sebelum masa ini dan berharap bisa menghidupkan kembali bahasa yang kuat dan mengalir.

Untuk alasan yang sama pula saya sesekali memilih membaca buku-buku puisi atau novel klasik. Bahasanya lancar mengalir; seolah ada hubungan tanpa jeda antarkata. Kata-katanya dapat diucapkan nyaring dengan mudah, tanpa terdengar aneh, tercerai atau tak lengkap.

Hal ini juga yang menjelaskan mengapa setengah dari timeline Facebook saya dipenuhi tautan ke website Letters of Note, kumpulan gagasan Shaun Usher, yang menerbitkan surat-surat dan pesan-pesan dalam berbagai format (masih ingat dengan telegram dan faksimile?).

Bukan sembarang surat, tentunya. Karena banyak dari kumpulan surat itu adalah dokumen bersejarah, dari ratusan tahun lampau hingga abad terakhir. Surat-surat itu sarat akan luasnya pengalaman kehidupan manusia, dan dengan kefasihan berbahasa yang natural hingga saya ingin menghirup setiap katanya. Tak perlu terlihat indah, tapi ia memiliki irama dan kualitas.

Ambil contoh, nasihat penulis John Steinbeck kepada anak laki-lakinya tentang cinta:

jangan khawatir akan kehilangan. Jika memang harus begitu, maka itu akan terjadi –Yang paling penting, jangan tergesa-gesa. Tak satu pun hal baik akan hilang.

Kemudian ada sebuah surat dari animator terkenal Chuck Jones, sebuah dorongan kepada siswa-siswa untuk membaca buku.

Jika kamu memiliki sebuah teleskop yang akan membuka cakrawala semesta untukmu, apakah kamu akan mencari alasan untuk tidak melihat melaluinya? Karena tepat seperti itulah halnya membaca buku; ia akan membuka cakrawala humor, petualangan, romansa, mendaki gunung tertinggi, menyelam ke laut terdalam.

Masa di mana menjadi sesuatu yang umum untuk memutuskan pacar lewat SMS, di mana kita dipaksa untuk menuliskan tentang hidup dan berbagi pemikiran hal-hal penting ke dalam 140 karakter atau bahkan kurang, bahasa sudah punah. Bahasa dikomersialkan menjadi sesuatu yang memberi hasil dan mencapai tujuan, namun hampir tidak ada makna di baliknya.

Jadi inilah saran saya: Temukan inspirasi dalam kata-kata. Temukan beberapa puisi dan fiksi yang baik, terutama yang klasik. Biasakan membaca beberapa syair Rumi secara teratur sebagai. Silakan berlangganan Letters of Note dan temukan banyak arsip tentang pengalaman manusia, semuanya ditulis dalam bentuk tertentu. Semuanya sarat akan kebijaksanaan dan nasihat, untuk menghargai hidup dan mensyukurinya, hal yang disampaikan dengan indah oleh penulisnya lewat bahasa.

Seperti ajakan Chuck Jones kepada para murid dengan ungkapannya yang sangat tepat: ‘Saya tantang kamu semua, uji keberanian kalian: Bukalah buku.’

 

 

 

Leave a Reply
<Modest Style