Modest Style

Menemukan keyakinan setelah memeluk Islam

,

Meski Noora Sanas membuat keputusan untuk masuk Islam dengan terburu-buru, belakangan ia menyadari betapa besar cintanya pada Islam.

Gambar: iStock
Gambar: iStock

Sebelumnya saat orang-orang bertanya mengapa saya masuk Islam, saya akan mendadak panik. Bayangan akan citra wanita yang lemah dan impulsif di mata orang lain muncul di benak saya. Akankah mereka menerima saya? Akankah mereka menganggap saya “cukup Muslim”? Apakah pelafalan bahasa Arab saya cukup baik?

Saya merasa tekanan untuk menghadapi hal-hal di atas begitu besar sehingga saya jarang mengatakan yang sebenarnya, dan justru menjawab dengan “Saat tinggal di Timur Tengah saya merasa tertarik pada Islam”. Namun setelah beberapa waktu, saya merasa kecewa pada diri sendiri. Saya menyadari bahwa satu-satunya cara untuk menerima keputusan saya dan menjadi Muslim yang sebenarnya adalah dengan mengatakan yang sebenarnya: saya berpindah agama karena cinta.

Saya tumbuh di sebuah kota kecil di timur laut Inggris. Keluarga saya cukup relijius dan saya tumbuh dengan menghormati, jika bukan menghargai, keyakinan Kristiani. Saya adalah stereotipe remaja Inggris pada umumnya: kegelisahan parah di usia 13 hingga 18, pemberontak ekstrim, pergaulan larut malam, pesta, dan perjuangan meningkatkan nilai. Saya bepergian menjelajah Thailand dan Australia pada 2006, di mana saya bertemu dengan berbagai kebudayaan berbeda untuk pertama kalinya. Hingga saat itu, saya tidak pernah berdiskusi dengan siapapun yang bukan orang Inggris! Penghargaan atas pengalaman bepergian mulai tumbuh dan pada 2011, saya mendarat di Dubai dan tidak pernah menyesalinya.

Saya bertemu dengan suami di tempat kerja dua tahun yang lalu. Meski terdengar klise, saat itu adalah segalanya bagi saya.

Ia berasal dari keluarga yang sangat tradisional di Sri Lanka. Meski menghormati semua budaya dan agama, ia bersikap sangat jujur sejak kencan kedua kami bahwa baginya penerimaan orangtuanya atas saya merupakan sebuah keharusan, dan bahwa tidak mungkin mereka akan menerima seorang non-Muslim.

Saat mengingat-ingat kembali, sepertinya saya tidak benar-benar memahami perkataannya, dan saya sekadar mengesampingkannya. Karena kami baru saja bertemu, saya pikir ia hanya bersikap agak terlalu dramatis dan bahwa saat orangtuanya bertemu dengan saya (kami baru berkencan dua kali!), mereka akan menganggap saya menyenangkan dan masalah pun terpecahkan.

Selama beberapa pekan selanjutnya hari-hari dipenuhi dengan dengan telepon panjang lebar ke Sri Lanka dan saya perlahan menyadari bahwa keadaan ini sangat serius bagi suami dan keluarganya. Saya masih belum memahami konsep perlunya mendapat penerimaan dari keluarga di zaman sekarang. Karena saya pikir masih ada banyak waktu sebelum akhirnya kami akan menikah, saya menyanggupi berpindah agama untuk membahagiakannya dan keluarganya.

Kebanyakan orang terkejut saat mengetahui saya menyanggupi hal ini dengan sembrono, namun yang tidak dapat mereka mengerti adalah saya melakukannya bukan karena tidak menghormati agama, atau karena tidak menganggap agama penting. Saya menyanggupi karena saya tidak memiliki keyakinan tersendiri yang kuat, dan saya yakin jika saya mengikuti kata hati dalam hal ini, saya akan membuat keputusan yang benar bagi hubungan saya dengan suami dan keluarganya.

Saya berpindah agama pada bulan Februari 2013 di Dubai. Saya akan selalu ingat rasanya berjalan dari kantor setelah mengucap syahadat dan suami menyapa saya dengan “assalamualaikum” – saya merasa sangat emosional dan mulai menangis tersedu-sedu. Saya dipenuhi rasa ketidaksiapan dan secara tidak langsung, ketakutan mengecewakan ibu saya. Saya belum membicarakan keputusan ini dengannya, padahal saya tahu ia akan bereaksi dengan rasa takut dan khawatir.

Bulan demi bulan berlalu, saya menujukan rasa marah pada suami dan keluarganya. Saya menyalahkan mereka karena tidak mempersiapkan saya, saya merasa mereka memaksa saya, namun saya paling marah pada diri saya. Saya merasa seharusnya sudah memahami lebih banyak sebelum melakukan hal yang mengubah hidup seperti ini. Semua emosi dan pikiran yang memenuhi kepala mendorong saya untuk mengeraskan hati dan bersikap seakan tidak ada yang berubah. Pada tahap ini, saya masih belum dapat menerima bahwa, bagaimana pun, sayalah yang membuat keputusan ini dan sebagai wanita dewasa saya harus bertanggung jawab atas keputusan yang telah saya buat.

kita tidak memiliki kendali atas takdir kita

Saya melanjutkan hidup seperti biasanya: meminum alkohol, mengenakan pakaian ketat, menghadiri pesta. Hal ini berlangsung selama enam bulan hingga saat saya dan suami kehilangan pekerjaan, menghadapi masalah visa, mendapat masalah keuangan, dan mengalami adanya kematian dalam keluarga. November tahun lalu, suami saya tertahan di Sri Lanka menunggu visa baru selama lebih dari dua bulan.

Dalam keadaan terpisah dan semua kejadian yang muncul menyadarkan saya bahwa kita tidak memiliki kendali atas takdir kita. Hal ini merupakan penyadaran yang mengejutkan bagi seorang wanita Inggris muda, yang telah dibesarkan dan hampir dibiasakan meyakini bahwa kita memiliki kendali penuh atas segala hal yang terjadi dalam hidup kita, dan mempercayai yang sebaliknya merupakan tanda kelemahan atau bahkan fanatisme keagamaan.

Saya memutuskan bahwa satu-satunya cara untuk dapat menerima keputusan saya untuk berpindah agama justru adalah dengan cara berusaha memahami dan mempelajari agama tersebut. Saya mendaftarkan diri pada sebuah situs pembelajaran online bernama New Muslims, yang sangat saya sukai. Situs tersebut memaparkan secara sederhana landasan-landasan dan prinsip-prinsip dasar Islam. Dengan perlahan namun pasti, saya mulai memahami agama baru saya.

Bagi saya, menyadari bahwa Islam merupakan agama yang penuh pemahaman sangat luar biasa, dan saya merasa tekanan terangkat dari pundak saya! Saya mengetahui bahwa saya dapat belajar sesuai kemampuan saya, membaca Qur’an dalam bahasa Inggris saat tidak merasa nyaman dengan bahasa Arab, bergabung dengan kelompok-kelompok untuk mualaf baru, dan yang terpenting, saya dapat membicarakan keputusan saya dengan keluarga, karena rasa hormat pada orangtua merupakan hal terpenting. Ibu saya sangat mendukung dan memahami keputusan ini. Hal ini mendorong saya untuk menggali lebih banyak karena kini saya tahu ia merasa nyaman dengan keputusan hidup saya.

Anda mungkin bertanya mengapa suami saya bertahan dan memperbolehkan saya untuk tidak mempraktekkan Islam setelah berpindah agama. Saya menganggap ini terjadi karena adanya pemahaman mendalam antara kami. Ia tahu jika ia memaksa saya, saya akan semakin menarik diri, jadi ia mempersilakan saya menerima Islam sesuai kemampuan saya. Ia menyukai kenyataan bahwa kini saya dapat mengajarinya beberapa hal tentang agamanya sendiri!

Saya bermaksud menyatakan bahwa perjalanan saya sangat mulus. Saya pernah tidak melaksanakan shalat selama beberapa pekan, dan saya pernah merasa kelelahan secara emosional karena banyaknya hal yang masih harus saya pelajari. Namun saat saya merasa seperti itu, saya akan mengingatkan diri saya tentang sesuatu yang dikatakan salah seorang saudari Muslim di Dubai kepada saya baru-baru ini, “Selalu ingatkan dirimu saat merasa malas berdoa: Allah tidak membutuhkan doamu, namun kamu membutuhkanAllah”.

Leave a Reply
<Modest Style