Modest Style

Mencontreng daftar keinginan saya

,

Kematian seorang teman membuat Lina Lewis menyadari bahwa sekaranglah saatnya memikirkan dan mengutamakan tujuan-tujuan hidupnya.

05-WP-List-by-Lina-01-Picjumbo

Dua tahun lalu saat saya sedang di Amerika Serikat, seorang teman meninggal. Ia hanya dua tahun lebih tua daripada saya. Kematiannya sangat mendadak: ia tidak masuk kerja, lalu rekannya menghubungi pihak keluarga, yang mendatangi rumahnya, dan menemukannya tidak bernyawa.

Saya butuh waktu mempercayai berita ini. Hanya beberapa hari sebelumnya, saya dan teman ini mengobrol di Facebook, membicarakan tentang gim video yang kami mainkan.

Tidak lama setelah kematian teman ini, teman lain mendapat serangan jantung.

Kedua kejadian ini mengejutkan saya. Saya waktu itu berada dalam rentang usia 30an. Teman-teman saya tidak seharusnya meninggal atau mendapat serangan jantung – atau paling tidak begitulah menurut saya.

Saat itulah saya menyadari saya tidak boleh menunggu hingga usia 45 – sesuai rencana saya – untuk membuat daftar keinginan saya, atau untuk bertanggung jawab atas diri saya.

Di Tahun Baru 2013, saya mendata semua hal yang ingin saya lakukan sebelum meninggal. Daftar keinginan saya tidaklah fantastis; di dalamnya tidak terdapat hal semacam “berenang dengan hiu”, “terjun bebas di atas gurun”, atau “melompat dari puncak K2”.

Justru, daftar saya hanya terdiri dari lima tujuan masuk akal, dengan susunan mulai yang paling memungkinkan hingga yang paling sulit. Apa gunanya membuat daftar keinginan yang begitu sulit hingga saya mungkin meninggal sebelum memenuhi semuanya, bukan?

05-WP-List-by-Lina-02-Stockvault

Yang pertama dalam daftar saya adalah mengikuti pemeriksaan medis menyeluruh. Saya tahu hal ini terdengar seperti suatu hal yang rutin dilakukan orang lain, namun sebelumnya saya terbiasa menyia-nyiakan kesehatan. Saya telah mendaki gunung dan melompati air terjun. Selain pergelangan yang terpelintir saat kaki saya tersangkut di akar yang menonjol saat berlari menuruni gunung, dan beberapa sayatan dari kegiatan luar ruangan lain, saya tidak pernah memiliki masalah kesehatan.

Meskipun demikian, saya takut melakukan pemeriksaan medis kalau-kalau hasilnya menunjukkan bahwa saya sekarat karena suatu penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

Namun saya memutuskan bahwa inilah saatnya untuk mulai memenuhi daftar tersebut. Saya melakukan pemeriksaan medis menyeluruh – tes darah, pindaian, semuanya. Saya juga mengikuti terapi akupunktur untuk meningkatkan kesehatan.

Setelah hasil tes kesehatan menyatakan saya tidak bermasalah (dokter saya bahkan mengomentari tingkat kolestrol saya yang lebih baik daripadanya), saya melanjutkan ke nomor selanjutnya dalam daftar: mempelajari instrumen petik.

AFP Photo / Jean-Christophe Verhaegen
AFP Photo / Jean-Christophe Verhaegen

Di sekolah, saya telah mempelajari bagaimana memainkan recorder, pianika, dan klarinet. Namun saya selalu ingin memainkan instrumen petik hanya karena mereka tampaknya sulit dimainkan.

Dari semua instrumen petik, favorit saya adalah selo karena suaranya yang kaya, dalam, dan kelam. Jadi saya menghubungi beberapa sekolah, memilih salah satu, memilih seorang guru, membeli selo, dan berusaha keras mempelajarinya. Saya berlatih sejam setiap hari tanpa kecuali, dan lebih lama di hari-hari ketika saya tidak harus bekerja.

Meski masih belajar, dengan bangga saya nyatakan bahwa dengan disiplin dan kerja keras, saya telah mendapatkan kemajuan yang baik.

Kini saya berusaha memenuhi nomor tiga dalam daftar keinginan saya: menerbitkan buku. Yang satu ini membutuhkan disiplin lebih daripada mempelajari selo karena merupakan pekerjaan yang memakan waktu. Namun saya bertekad untuk menyelesaikan hal ini saat berusia 40 tahun.

Meski terdengar mengerikan, namun jika saya meninggal dunia sebelum memenuhi kelima nomor di daftar keinginan saya – rasanya tidak terlalu buruk. Setidaknya saya sudah menyelesaikan setengah tujuan-tujuan hidup saya.

Leave a Reply
<Modest Style