Modest Style

Memulai kembali hidup pasca perceraian

,

Mempelajari kembali segala sesuatu setelah kegagalan berumah tangga ternyata jauh lebih memuaskan daripada menakutkan, sebagaimana yang dialami Lina Lewis.

Mengemudi di air terbuka memiliki kelebihan dan kekurangan tersendiri. (Gambar: iStock)

Saat pernikahan berakhir, seringkali kita  berada dalam posisi yang, meski menegangkan dan menyulitkan, dapat menyadarkan dan membentuk kita menjadi sosok yang lebih kuat pada akhirnya. Setelah bercerai, saya berjuang menghadapi beberapa hal; berikut hanya sedikit di antaranya.

Uang

Jika ada satu hal penting yang saya pelajari dari pernikahan yang gagal adalah jangan pernah menempatkan seluruh harta saya di satu tempat. Dari biaya proses perceraian hingga biaya memperbaiki tempat cuci yang rusak di rumah, tanggung jawab keuangan membuat saya menghadapi kesulitan tersendiri saat saya kembali melajang.

Setelah 10 tahun berbagi keputusan keuangan dengan seseorang, keadaan tidak memiliki sepeser pun uang dan terpaksa memulai kembali dari nol sangatlah berat. Saya dipenuhi rasa takut, panik, dan ketidakberdayaan.

Saya berdiskusi dengan para penasihat keuangan dan teman-teman sebagai upaya memutar otak untuk memperbaiki keadaan keuangan. Saya juga belajar untuk tidak menempatkan segala yang saya miliki ke dalam sebuah rekening gabungan bersama pasangan. Saya belajar dari pengalaman pahit akan pentingnya memiliki jaring pengaman tersendiri, menyimpan tabungan sendiri, dan menjadi mandiri secara finansial, terlepas dari status pernikahan yang saya miliki.

Emosi

Saya akui, di masa-masa tersulit perceraian saya, saya mencari-cari cerita menyedihkan sebagai upaya memahami hidup saya sendiri. Setelah membaca setiap cerita tentang para ibu yang berjuang memenuhi kebutuhan keluarga mereka, saya akan berkata pada diri sendiri, “Setidaknya saya memiliki pekerjaan”. Setelah membaca sebuah artikel tentang seseorang yang memiliki disabilitas melakukan sesuatu yang hebat, saya akan berkata pada diri sendiri, “Setidaknya saya tidak memiliki kekurangan fisik”.

Saya membiarkan diri saya sejenak tenggelam dalam masa mengasihani diri sendiri dan kesedihan. Lagipula, perceraian merupakan kematian sebuah ikatan penyatuan, dan setiap kematian berhak memiliki masa berkabung. Saya memberi tenggat waktu untuk diri sendiri, dan saat tenggat waktu berakhir, saya kembali berjalan. Tidak mudah, tentunya, namun dengan dukungan kuat dari teman dan keluarg,a saya membebaskan diri dari kemuraman.

Dari sini saya mempelajari bahwa kebahagiaan merupakan sebuah pilihan. Saya dapat memilih untuk hancur secara emosional oleh keadaan yang tidak menyenangkan, atau bangkit dan memusatkan pikiran untuk tetap positif.

Kembali ke sarang

Satu hal lain yang menyulitkan setelah perceraian adalah keharusan kembali tinggal dengan keluarga. Karena peraturan perumahan dan kondisi keuangan yang sulit, saya tidak memiliki pilihan selain menjual rumah bersama suami. Menjual rumah membuat saya merasa tersesat. Rasanya seperti ada kekosongan besar dan saya tidak tahu bagaimana mengisinya. Saya tidak sabar untuk kembali memiliki tempat tinggal sendiri.

Jangan salah sangka – tinggal dengan keluarga rasanya menyenangkan: dapat bertemu dengan keponakan setiap hari, makan makanan rumahan yang enak, dan bahkan baju-baju saya dicucikan dan disetrika. Namun tidak ada yang mengalahkan rasanya memiliki tempat tinggal sendiri. Merasa merindukan keleluasaan dan kebebasan pribadi, saya segera menyadari bahwa saya memerlukan tempat tinggal sendiri.

Jadi, setelah kondisi keuangan saya kembali baik dan yakin saya mampu memiliki rumah sendiri, saya mulai mengurusnya.

Dua hari lalu saya menempatkan tawaran, dan dengan bangga saya katakan bahwa saya akan segera menjadi pemilik rumah lagi.

Segala dokumen yang harus saya urus sendiri; segala perencanaan dan pindahan yang harus saya urus sendiri – semuanya sepadan. Tidak peduli betapa kecil pun, rumah ini akan jadi milik saya sendiri, sebuah simbol pencapaian pribadi.

Bab baru

Setelah perceraian saya disahkan, saya bertemu dengan seseorang yang istimewa. Kebersamaan kami tidak berisi romansa yang menggebu maupun cinta pada pandangan pertama; tidak ada pertemuan romantis yang sering kita lihat di film-film.

Justru, saya takut gagal lagi. Saya bersikap waspada, khawatir, skeptis, paranoid – sebut saja. Setiap kebaikan yang ia perlihatkan membuat saya berpikir bahwa ia memiliki maksud tersembunyi. Menyebut saya memiliki masalah kepercayaan parah masih belum cukup menggambarkan diri saya saat itu. Namun karena kesabarannya, saya belajar mempercayai lagi. Ia mengajarkan saya bahwa untuk berkembang, saya harus meninggalkan masa lalu dan terus bergerak maju.

Bab baru yang kami mulai bersama sejauh ini sangat menyenangkan. Terkadang, segalanya berjalan begitu baiknya hingga saya malah mensyukuri segala hal yang berjalan tidak sesuai keinginan. Tanpa kegagalan yang begitu dalam, saya tidak akan menjadi begitu memahami diri sendiri atau belajar bersikap adil terhadap diri saya.

Dan pelajaran terindah yang saya dapat? Memberi diri saya kesempatan kedua.

Leave a Reply
<Modest Style