Modest Style

Memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia

,

Amal Awad selalu bermimpi menjadi jurnalis; mimpi yang dibiarkan terbengkalai saat ia memilih mengejar gelar di jurusan seni dan hukum. Untuk memperingati Hari Kebebasan Pers Sedunia (World Press Freedom Day) setiap 3 Mei, dia merefleksikan perubahan wajah jurnalisme.

ina amal-world-press-sxc-sm
Jurnalisme akan tetap relevan, meski tanpa menggunakan medium kertas (Foto: SXC)

Bertahun-tahun lalu, pada hari-hari yang damai sentosa di universitas, saya mengadakan pesta dengan tema misteri pembunuhan dan memperoleh peran idaman sebagai wartawan yang penuh selidik. Saat itu sebenarnya saya sedang berkuliah di fakultas seni dan hukum serta tidak punya pengalaman sebagai penulis, tapi bermain sandiwara cukup menyenangkan.

Jangan salah: Dalam setelan blazer dan celana bahan (pantsuit) plus kacamata baca, saya kelihatan persis wartawan (setidaknya menurut penafsiran Hollywood terhadap sosok wartawati era 1940-an). Dengan buku catatan dan pulpen, saya bahkan merasa seperti wartawan. Yang absen hanyalah kecanduan terhadap kopi dan kurangnya waktu tidur.

Pemilihan pemain itu sungguh mudah. Sebagai penyelenggara, tentu saja keinginan saya dikabulkan. Tapi saya memang sudah lama ingin menjadi jurnalis selepas SMU, apalagi saya amat gemar membaca. Sewaktu menerima rapor yang cukup  memuaskan di tahun terakhir SMU, saya tertarik untuk mengejar gelar di bidang hukum yang lebih ‘terpandang’, pilihan yang tidak pernah saya sesali.

Walau demikian, saat itu saya tidak tahu cita-cita saya menjadi wartawati suatu hari akan akan terwujud. Tuhan tahu jalan panjang dan berliku yang telah saya tempuh untuk mencapainya.

Saya meraih dua gelar akademis.

Saya sempat menjalani praktik singkat sebagai pengacara.

Dan ketika saya sadar ternyata bukan semua itu yang saya inginkan, saya memanfaatkan keahlian saya untuk mengedit ensiklopedia hukum.

Sepanjang proses itu, saya sesekali menguji kemampuan menulis, tanpa terlalu memikirkan kenapa saya terdorong untuk melakukannya. Beberapa tulisan saya pernah dimuat (tanpa dibayar) di kolom humor surat kabar terkemuka di Sydney. Isinya berupa kisah kehidupan yang unik, dan beberapa peristiwa penting dalam proses pendewasaan (misalnya perjuangan mendapatkan pekerjaan setelah lulus kuliah).

Menulis adalah cara yang ekspresif dalam menjalani hidup; barangkali cara yang layak dilakukan untuk mencurahkan perasaan. Namun kemajuan saya lambat dan tertatih-tatih, bagaikan jalan di tempat.

Lantas, suatu hari, seorang rekan pria sesama editor legal mengarahkan saya kepada peran sub-editor. ‘Namamu akan dicantumkan dalam tulisan,’ ujarnya. Berhubung ada semacam getaran cinta/benci di antara kami, biasanya saya cenderung mengabaikan apa pun yang dikatakannya.

Tapi kali ini, saya mendengarkannya.

Begitulah, pelan tapi pasti, saya beralih ke dunia media. Meski menjabat sub-editor, namun secara konsisten saya pun menjajal bidang penulisan. Walaupun menakutkan dan saya tidak percaya pada kemampuan diri sendiri, saya menyukai perasaan yang ditimbulkan dari menulis. Bagaimanapun juga, saya masih belajar, dan dalam bidang yang mulai ditekuni mayoritas orang saat berusia awal 20-an ini, saya terbilang minim pengalaman. Lagipula, sejujurnya saya tidak tahu banyak tentang jurnalisme.

Peristiwa itu seperti sudah lama berlalu. Sekarang, jurnalisme adalah perjuangan yang sangat berbeda bagi saya. Saya bisa menekuni bidang ini sepenuh hati dan yakin dengan tujuannya yang mulia, baik di bidang yang saya kuasai (penulisan bisnis, terutama keuangan) maupun celoteh tentang pernik kehidupan yang dapat membuahkan kebahagiaan atau kegelisahan. Bahkan tulisan saya yang jenaka tentang budaya pop pun mempunyai makna. Apalah hidup itu, tanpa sedikit hiburan di dalamnya.

Apa pun tujuannya, menulis terkadang terasa seperti terapi membuang darah kotor. Seperti saran yang sering dikutip sekaligus diselewengkan dari jurnalis-kolumnis olahraga Red Smith, menulis itu mudah—semudah membuka pembuluh darah dan membiarkannya berdarah.

Kutipan itu mungkin tidak berlaku saat kita menulis tentang investasi dan dana pensiun. Tetapi, seperti semua bidang lainnya, menulis membutuhkan gairah. Semua tulisan yang bermakna ditulis dengan gairah.

Saya sangat senang jurnalisme dapat menyaring kelebihan ide. Inilah bidang yang dengan bangga dan berani saya masuki, meski terus-menerus berubah bentuk. Jurnalisme dapat mempengaruhi pikiran—juga bangsa—dan berdampak pada dinamika seputar peristiwa-peristiwa besar. Jurnalisme membuat orang belajar bertanggung jawab; sejenis pemberian informasi yang membutuhkan kebebasan—baik dari penulis maupun pembaca—supaya berita yang disajikan akurat dan bermanfaat.

Dalam banyak hal, itulah yang sekarang dimaksud dengan jurnalisme. Istilah ini sudah bukan lagi wilayah kekuasaan wartawan investigasi (walaupun kita selalu membutuhkan mereka), juga bukan sekadar mekanisme reportase berita, khususnya berita yang tidak menyenangkan.

Dewasa ini, wartawan dituntut untuk menceritakan berbagai ragam kisah, serta berempati dalam cara yang tidak pernah dilakukan sebelumnya. Hal ini barangkali disebabkan oleh pola komunikasi kita yang telah berkembang begitu signifikan. Walau bagaimanapun, inilah era di mana informasi itu ‘menyebar secepat virus’.

Media semakin tak terpisahkan dan berperan besar dalam mengembangkan dan melibatkan masyarakat. Bahkan pemberitaan sekilas tentang kejadian di Timur Tengah menegaskan betapa pentingnya peran wartawan. Berbagai peristiwa ini memang akan tetap terjadi tanpa adanya media (sosial atau bukan). Tapi mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah, publik mempunyai kekuatan untuk memanfaatkannya demi menggalang kekuatan perjuangan mereka.

Memang, bagi para jurnalis yang meliput negara yang terlibat konflik, hidup mereka kerap dalam bahaya. Beberapa di antaranya bahkan kehilangan nyawa sewaktu terjebak dalam aksi baku tembak. Wartawan harus bersedia melakukan apa saja demi membuat laporan yang lengkap.

Dalam perbincangan terkini di Sydney, mantan direktur Al Jazeera, Wadah Khanfar, mengajak jurnalisme era baru untuk lebih menganalisis informasi, mencoba memahami apa yang terjadi ketimbang sekadar melaporkan berita. Sajikan informasi selayaknya kolom, bukan pemberitaan semata.

Tak diragukan lagi bahwa ada pergeseran yang krusial pada dinamika media. Saat ini di antara kita telah hadir sejumlah bloger, vlogger, serta superstar Internet yang sangat produktif di YouTube, Twitter, dan Pinterest. Tapi yang tak kalah penting, kita tetap memiliki para penulis yang juga wartawan. Mereka menyediakan informasi, melayani masyarakat, mengambil risiko dan ‘berdarah-darah’ demi menceritakan kehidupan.

Ketika saya menulis tentang makna eksistensi manusia—mulai dari cinta dan pengembangan diri, sampai kepada peristiwa dan situasi yang memengaruhi kita—saya sering menerima pengakuan yang sedikit banyak membuat saya merasa telah menyadap kabel universal untuk menyampaikan kisah yang mengusik pikiran begitu banyak orang.

Dalam momen seperti itulah saya mengerti apa yang saya kerjakan. Tapi saya menyadari pekerjaan saya dengan segala konsekuensinya. Tidak masalah seberapa jauh dan berliku jalan yang mesti saya tempuh. Mungkin malah perjalanan itulah yang saya butuhkan untuk menyadari tujuan mulia dalam jurnalisme; caranya menginspirasi saya sendiri sebagai pencinta kata-kata.

Saya hanya penyampai pesan yang menggali lebih dalam dari sekadar pengalaman yang superfisial. Saya hanya bisa bersyukur saat orang mau mendengarkannya, sekalipun pesan saya tidak berlaku untuk setiap hal yang dapat mewakili semangat  mereka.

Leave a Reply
<Modest Style