Modest Style

Memelihara Hewan Terlantar Menjadi Peliharaan Keluarga

,

Menyelamatkan dan memelihara kucing dan anjing adalah panggilan hati bagi Eren Cervantes-Altamirano.

11

Semenjak masa kanak-kanak, saya selalu dikelilingi binatang-binatang. Saat masih bayi, saya tinggal di sebuah rumah dengan sejumlah kucing dan anjing yang diselamatkan dari jalanan. Saya bahkan punya beberapa foto mereka sedang tidur di sebelah tempat tidur saya seolah-olah mereka sedang menjaga saya! Seiring pertambahan usia, memiliki binatang peliharaan bukan hanya menjadi cara hidup namun juga sebuah tanggung jawab sosial. Begitu keluarga saya pindah ke apartemen yang lebih kecil, keterbatasan ruang hanya memungkinkan kami untuk memelihara binatang peliharaan seperti kucing, dan hingga saat ini sobat-sobat kecil berbulu ini masih terus dipelihara di rumah orangtua saya.

Menjodohkan seorang pemilik yang penyayang dengan seekor kucing kecil yang menderita selalu menjadi pengalaman yang berkesan.

Saya bukan tipikal orang yang senang membeli binatang peliharaan. Pertama, karena ada begitu banyak binatang telantar yang bisa diselamatkan oleh pemilik yang sadar dan penyayang, dan kedua, sebagian sektor industri pembiakan dituding sebagai sumber kekejaman binatang di banyak negara. Maka itu, mengadopsi selalu ada dalam pilihan utama saya. Lagipula, ini sejalan dengan konteks Islami. Jabir bin Abdullah diriwayatkan berkata: ‘Rasulullah (SAW) melarang pembayaran (jual beli) untuk anjing dan kucing.’ [i]

Di negara-negara seperti Meksiko tempat asal saya, kucing dan anjing telantar sangat jamak ditemui. Selama bertahun-tahun, keluarga saya telah menyelamatkan beberapa anak kucing, anak anjing, dan kucing serta anjing dewasa. Kami biasanya membawa mereka ke rumah, memandikan, memberi makan, membawa mereka ke dokter hewan dan mengebiri atau menghilangkan organ reproduksi mereka. Kemudian, kami akan memberikan mereka kepada keluarga yang mencintai dan akan menjaga mereka. Ini adalah proses yang butuh waktu panjang, juga uang dan usaha, namun keluarga saya selalu menganggapnya sebagai layanan sosial. Menjodohkan seorang pemilik yang penyayang dengan seekor kucing kecil yang menderita selalu menjadi pengalaman yang berkesan.

Setelah memeluk agama Islam, saya menyadari bahwa beberapa anggota komunitas saya tidak terlalu menyukai binatang. Mungkin disebabkan karena mereka beranggapan bahwa memelihara binatang seperti anjing adalah haram, atau karena mereka tak punya cukup pengalaman dengan binatang. Saya pribadi tidak setuju bahwa memelihara anjing adalah haram, atau bahwa binatang secara umum tidak layak dalam konteks Islam. Bagi saya, Rasulullah (SAW) selalu menunjukkan rasa cinta, empati dan kasih sayang kepada binatang. Beberapa kisah favorit saya adalah yang menceritakan tentang Rasulullah (SAW) dan Muezza, kucing kesayangannya. [ii] Dalam kisah ini, Rasulullah (SAW) menunjukkan sisi lemah-lembut dan penyayang kepada binatang, yang seharusnya menjadi contoh bagi kita semua.

Memelihara binatang memang terbukti menantang, namun terdapat banyak manfaat jika kita mengambil keputusan tersebut. Dalam sebuah keluarga muslim, binatang peliharaan bukan hanya sekadar sebagai teman, namun juga sebuah sumber pengajaran. Mengadopsi binatang yang lemah dan butuh pertolongan mengajarkan anak-anak rasa tanggung jawab dan empati – kualitas esensial dalam pribadi seorang muslim. Sejalan dengan itu, penelitian membuktikan bahwa menyayangi binatang peliharaan dapat memberikan efek positif yang dramatis bagi orang yang sedang stres atau mengidap penyakit. Akhirnya, jika kita memiliki prasarananya, menyelamatkan binatang yang menderita adalah perbuatan yang memberikan imbas positif bagi masyarakat secara keseluruhan.

Setelah beberapa tahun hidup bersama dengan seekor kucing dewasa yang sangat mandiri, saya memutuskan untuk mengadopsi seekor anak kucing di rumah saya saat ini, di mana saya tinggal bersama seorang rekan, murid sekaligus teman saya. Si kecil Sugar (juga disebut Sukkar dalam bahasa Arab atau Azúcar dalam bahasa Spanyol), dibawa ke rumah kami minggu lalu dan kami sangat bersyukur bisa memeliharanya di rumah kami.

Waktu berjalan, dan keadaan tak selalu menyenangkan. Mengadopsi seekor peliharaan adalah sebuah proses yang 21membutuhkan komitmen, waktu dan usaha. Mula-mula, seseorang harus menyiapkan diri untuk periode seminggu pertama. Saat kami membawa Sugar ke rumah, dia cukup syok. Kucing itu menolak untuk keluar dari kolong sofa dan mendesis kepada kami setiap kami mencoba untuk menyentuhnya. Ia mengeong sepanjang malam, memaksa saya untuk bangun pukul dua dini hari – perilakunya hampir serupa bayi yang baru lahir! Begitu saya memanaskan susu untuknya dan menyuapinya seperti bayi, akhirnya ia bisa tidur hingga pagi. Di hari-hari berikutnya, kami terus berupaya membuat sebuah jadwal rutin untuknya. Ia harus terbiasa jika kami harus meninggalkannya untuk pergi ke sekolah, makan sendiri dan menggunakan kotak kecilnya.

Satu hal terakhir yang penting dipertimbangkan adalah komitmen. Meski hal apa pun bisa terjadi (misalnya, seseorang menjadi alergi), peliharaan adalah binatang yang memiliki rutinitas tetap. Mereka menjadi terbiasa dengan kondisi sekitarnya serta keluarganya, dan mereka sangat sedih jika ditelantarkan dan dipindahkan ke tempat lain. Oleh karenanya, memungut dan memelihara binatang dalam rumah menjadi sebuah komitmen jangka-panjang karena sama seperti memiliki anggota baru dalam keluarga yang akan memberikan kita kebahagiaan selamanya.

Sugar baik-baik saja sekarang. Dia telah terbiasa dengan sekelilingnya dan sepertinya cukup menikmati rumah barunya dan semua mainannya. Demikian juga, saya dan teman saya sangat menikmati memeliharanya, dan kami mencintainya karena telah melengkapi keluarga kecil kami.


[i] Dalam kitab Sunan Abu Dawud, tersedia di sini.
[ii] Maneka Gandhi, ‘The Prophet and Muezza’, tersedia di sini.

Leave a Reply
<Modest Style