Modest Style

Membingkai Ulang Ramadhan

,

Meaghan Seymour mengenang kembali ekspektasinya saat pertama kali menjalani Ramadhan dan bagaimana perubahannya saat ini.

Membingkai Ulang Ramadhan_Aquila Style
Gambar: Pixabay

Ramadhan pertama saya betul-betul menjadi sebuah beban.

Saya ingat betul saat dengan putus asa menghitung sisa hari hingga datangnya bulan baru, sangat ingin agar bulan itu segera berlalu sehingga saya bisa kembali ke kehidupan normal saya.

Namun kini saya tak lagi memandang Ramadhan seperti itu.

Kini saya paham bahwa pola pikir sayalah yang menyebabkan saya merasa seolah-olah ada awan hitam besar yang menggantung di atas saya menjelang Ramadhan.

Tahukah Anda, bahwa sebelum bulan puasa pertama saya, saya diberi sebuah buku saku panduan fiqih (hukum) tentang Ramadhan dan berpuasa untuk membantu saya bersiap diri menghadapinya. Saya juga mendaftarkan diri pada sebuah lokakarya satu-hari yang diselenggarakan oleh asosiasi muslim setempat dengan topik yang serupa. Ini seperti sebuah kursus ‘Ramadhan Dasar’ yang diadakan terutama untuk memberi penjelasan bagi para pemula seperti saya tentang bagaimana menjalaninya, demikian juga sebagai pengingat bagi umat muslim lainnya yang mungkin lupa setelah lewat 11 bulan lamanya.

Untuk memberikan sekilas pandangan tentang tema dari kursus tersebut, berikut adalah contoh dari salah satu diskusi aktual dalam lokakarya itu (bukan kutipan langsung).

Jika kita mengikat sebutir anggur dengan tali, lalu memasukkannya ke dalam kerongkongan dan ke dalam perut, lalu menariknya keluar lagi, maka puasa kita tidak batal. Tapi, jika kita memasukkan anggur tersebut kembali ke dalam perut, maka batallah puasa kita, karena kita memasukkan cairan lambung yang menyentuh anggur tadi, kembali ke dalam perut.

Memikirkan hal tersebut inilah impresi pertama saya tentang apa yang akan saya hadapi selama bulan suci: berhati-hati dengan makanan tak terkunyah yang tertahan di kerongkongan saya!

Saya mengikuti kursus dan mendengarkan materi yang disampaikan dengan penuh perhatian sambil sesekali mencatat. Saya mencoba mengingat semua detail dari pokok aturan yang disampaikan pembicara dan berusaha memahaminya sehingga saya bisa menerapkannya saat bulan suci tiba.  Bahkan saat pembicara memberikan banyak contoh situasi yang sejujurnya saya tidak bisa bayangkan akan mengalaminya.

Tahun itu, berbekal buku yang saya pelajari seputar diskusi Ramadhan terkait-fiqih, saya menjalani hari-hari saya berjuang keras untuk tidak membatalkan wudhu hingga waktu maghrib, (karena khawatir tanpa sengaja menelan setetes air dan membatalkan puasa), menimbang-nimbang apakah sebaiknya saya membiarkan badan saya bau atau memakai deodoran berpewangi (yang menurut sang pembicara adalah hal makruh!), dan menghindari kondisi di mana kemungkinan saya mendengar suara musik yang diputar orang lain (pengaruh setan yang harus saya hindari di bulan ini).

Meski saya tahu akan ada ganjaran besar dan anugerah keridhaan Tuhan atas puasa dan upaya kita memenuhi ibadah Ramadhan, saya sama sekali tidak merasakannya sebagai sebuah bulan yang suci. Bahkan sejujurnya saya merasa ketakutan dan terintimidasi. Belum lagi, betapa menegangkan saat terus-menerus khawatir bahwa saya tidak cukup waspada atau saya telah melakukan hal yang menyalahi aturan, paling tidak menurut sumber yang saya dapat saat itu.

Bahkan andai kata saya diberi tahu soal tujuan spiritual dari Ramadhan, saya ragu apakah masih tersisa ruang dalam otak saya yang sudah sangat jenuh, untuk merenungkannya.

Meski demikian, setelah mengembangkan wawasan dan berevolusi dalam pemahaman, kini saya mengerti bahwa Ramadhan lebih dari sekadar berpantang makan dan berupaya keras tidak menyalahi syariat. Puasa adalah sebuah sikap holistik dalam upaya mendekat kepada Sang Maha, mengisi ulang semangat, menyegarkan kembali raga kita, dan semoga juga meningkatkan moral keimanan kita.

Saya tidak memiliki kesadaran ini sepanjang puasa pertama saya, semata-mata karena persiapan saya yang hanya seputar pendekatan hukumnya saja di mana perhatian pada hal-hal kecil yang rigid menjadi lebih utama ketimbang perkara spiritualitas. Sementara saya sibuk memusingkan detail-detail itu dan mengeluhkan rasa lapar, saya telah membuat Ramadhan menjadi persoalan hukum dan kehilangan gambaran keseluruhan dari momen tersebut.

Alih-alih merasa sedang menjalani bulan yang penuh dengan limpahan ampunan dan berkah, saya malah merasa seperti sedang berjingkat di tepi jurang penghakiman atau kegagalan setiap saat!

Walaupun saya akui bahwa kita memang harus waspada dalam bertingkah laku sesuai dengan apa yang menurut kita Tuhan inginkan, berpikir seratus persen secara fiqih sepanjang hari rasanya tidak tepat dilakukan pada bulan yang begitu indah dan menginspirasi ini. Saya bersyukur bahwa saya mampu membingkai ulang pemahaman tentang Ramadhan hingga saya bisa menikmati sepenuhnya kehadirannya.

Leave a Reply
<Modest Style