Modest Style

Memberikan Kehidupan Baru pada Seorang Anak

,

Sahar Deshmukh mendiskusikan manfaat mengadopsi anak dan mendekatkan diri kepada Tuhan.

Gambar: SXC
Gambar: SXC

Dewasa ini, banyak pasangan suami-istri yang bermasalah dengan kesuburan. Ketika terperangkap dalam situasi seperti ini, hidup bisa menjadi sulit terutama bagi perempuan, sebab merekalah yang kerap menyandang stigma sosial untuk isu kemandulan.

Memang ada berbagai kemajuan ilmiah di bidang tersebut, tapi beberapa solusi seperti teknik bayi tabung (diperbolehkan selama yang terlibat hanya suami dan istri) terbilang mahal, sementara penyewaan rahim (surrogacy) bertentangan dengan prinsip Islam. Opsi terbaik yang dimiliki tampaknya adalah adopsi.

Merawat anak yang rapuh, memberinya harapan akan masa depan yang lebih baik, dan membantu mereka agar terhindar dari kerasnya realitas kehidupan mungkin merupakan sumber kebahagiaan yang utama.

Tetapi infertilitas bukan satu-satunya alasan mengapa orang memilih untuk mengadopsi anak. Alasannya bisa saja semata demi memberikan kehidupan baru bagi anak yatim atau hanya demi mencari rida Allah SWT.

Ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan sebelum mengadopsi. Hal pertama yang harus dipikirkan adalah mencari tahu apakah cara ini diizinkan dalam Islam. Meski terdapat beberapa pandangan berbeda atas perkara ini, pemahaman saya adalah bahwa adopsi tidak diwajibkan ataupun dilarang, karena Islam menganjurkan amal baik dan menyarankan kita untuk memikirkan kesejahteraan orang lain.

Mufti Muhammad Taqi Usmani dari Lembaga Pendidikan Jamiah Darul Ulum, Karachi, Pakistan berpendapat adopsi diperbolehkan dalam Islam. ‘Seseorang boleh mengadopsi anak demi kepuasan emosi dan psikologisnya. Dia dapat memperlakukan si anak seperti putranya sendiri dalam hal cinta, kasih sayang dan perilaku umum lainnya. Mengadopsi anak untuk menyediakan rumah baginya adalah perbuatan mulia yang mendatangkan pahala besar di Akhirat,’ jelasnya. [i]

Di zaman Nabi Muhammad SAW, sudah menjadi kebiasaan umum untuk mengasuh anak yatim. Nabi sendiri mengasuh seorang anak yatim serta diriwayatkan pernah bersabda, ‘Orang yang merawat anak yatim, apakah dari kerabatnya atau orang asing, akan berada di Surga bersamaku seperti ini.’ Beliau lalu mengangkat telunjuk dan jari tengahnya sebagai perumpamaan. [ii]

Walaupun merawat anak yatim terbilang bermanfaat dan menyenangkan—baik di dunia maupun di akhirat—ada sejumlah hal yang harus diperhatikan, misalnya perlukah memberikan nama keluarga Anda kepada si anak. Tidak diizinkan di Islam untuk memberikan nama keluarga kita kepada anak adopsi. Rasulullah SAW mempunyai seorang budak, Zaid bin Haritsah yang merupakan hadiah dari sang istri, Khadijah. Beliau lalu mengadopsi Zaid dan masyarakat mulai memanggilnya Zaid bin Muhammad. Kemudian turunlah ayat untuk merujuk anak angkat dengan nama ayah kandungnya.

Allah berfirman dalam Al-Quran, ‘Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu (orang-orang yang di bawah pemeliharaanmu). Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’ (33:5).

Meski demikian, ayat ini tidak mengubah hubungannya dengan Nabi Muhammad SAW. Putra angkatnya, Zaid, selanjutnya disebut sebagai Zaid bin Haritsah, yang artinya ‘Zaid putra Haritsah’, ayah kandungnya.

Memberikan Harapan

Selain mengadopsi anak untuk memenuhi kebutuhan emosional Anda sendiri, nilai amal yang lebih mulia adalah untuk menyediakan segala kebutuhan si anak yatim. Merawat anak yang rapuh, memberinya harapan akan masa depan yang lebih baik, dan membantu mereka agar terhindar dari kerasnya realitas kehidupan mungkin merupakan sumber kebahagiaan yang utama. Wujud amal yang paling besar  adalah menyediakan segala kebutuhan seorang anak, entah itu keperluan finansialnya maupun dengan mencurahkan kasih sayang kepada mereka.

Memang tugas yang berat untuk merawat seseorang yang asing, tapi ambillah kesempatan ini apabila Anda bersungguh-sungguh ingin membantu anak yang kesepian.

Allah SWT memerintahkan segala jenis tindakan mulia dan amalan seperti ini dapat membantu menyelamatkan  seorang anak dari keputusasaan. Anak-anak yatim kerap menjadi target penganiayaan dan kelemahan mereka memberi celah bagi mereka untuk menyimpang dari jalan Islam. Belum lagi kesulitan sehari-hari yang mereka hadapi hanya demi bertahan hidup.

 

Jika Anda mengadopsi anak, ingatlah untuk bersikap baik kepada mereka. Hal ini telah ditekankan dalam Quran: ‘Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar’ (4:9).

Kejujuran dan keadilan adalah dua prinsip penting dalam Islam. Jadi, bila Anda memutuskan untuk mengadopsi anak, pastikan untuk membesarkan mereka seadil mungkin. Anda perlu merawat mereka seperti merawat anak kandung (bila Anda memilikinya). Biarpun anak adopsi tidak bisa mewarisi apa pun harta keluarga angkatnya, harta mereka haruslah dijaga. Segala kekayaan atau harta yang diberikan kepada mereka oleh keluarga kandung mereka yang telah tiada, mesti dipisahkan khusus untuk mereka, karena merampas harta dan warisan mereka adalah dosa besar.

Membesarkan orang asing memang tugas yang berat, tapi ambillah kesempatan itu jika Anda sungguh ingin membantu seorang anak yang kesepian. Apabila Anda mengadopsi, pastikan untuk menempuh jalur yang resmi. Di banyak negara Barat, ditetapkan hukum dan prosedur yang ketat perihal adopsi untuk memastikan anak-anak itu diasuh oleh keluarga yang bisa dipercaya.

Bila Anda tidak mampu secara finansial untuk mengadopsi, Anda selalu dapat menyumbang ke sejumlah badan amal yang khusus menyediakan kebutuhan anak-anak yatim. Segala sumbangan bagi orang yang membutuhkan berpahala besar dan semoga Allah memberi kita semua banyak kesempatan untuk membantu orang yang memerlukan bantuan. Bagaimanapun juga, sudah menjadi tugas kita sebagai Muslimlah untuk melakukannya.

[i] ‘Adoption of a Child in Islam (Mengadopsi Anak dalam Islam)’, Mufti Muhammad Taqi Usmani, bisa dilihat di sini

[ii] Diriwayatkan oleh Abu Hurairah, dalam Kitab Shahih Muslim, bisa di dilihat di sini

Leave a Reply
<Modest Style