Modest Style

Membangun Jembatan, Menyebrangi Budaya

,

Ameera Al Hakawati meneropong beberapa ‘tantangan pendekatan’ dari tahap berkenalan sampai menikahi seseorang dari budaya yang berbeda.

Crossing Cultures, Building Bridges_Aquila Style
(Foto: SXC)

Cara gadis muslim berkencan tidak sama dengan yang dilakukan gadis non-muslim. Yah, paling tidak bagi mereka yang (relatif) taat.  Kencan (perjodohan?) ala muslim biasanya terjadi selama periode yang sangat singkat. Anda bertemu pria itu, Anda menyukai pria itu, kemudian Anda menikah dengan pria itu. Tak ada omong kosong macam, ‘Aku tidak yakin apakah aku sudah mantap’, sibuk, atau ‘Aku tidak yakin apakah dia sudah mantap’. Baik si pria maupun wanita muslim tahu persis ke mana situasi mereka menuju, dan mereka tahu akan sampai di sana jauh sebelum salah satu dari mereka berhenti menganggap kebiasaan menjengkelkan pasangannya sebagai hal yang menarik.

Anda selalu tahu posisi Anda bersama pria yang akan Anda ‘kencani’. Anda biasanya tidak perlu cemas ‘digantung’ selama bertahun-tahun hanya untuk mengetahui ia tidak pernah ingin menikah. Mudah ditebak, ya – tapi entah bagaimana hal ini menenangkan dan untungnya, singkat. Bertemu, dilamar, dan menikah, seringkali dalam tahun yang sama.

 

Bertemu Mr Maybe

Sama klise dengan julukannya, saya bertemu Mr Maybe ketika saya benar-benar dan sungguh-sungguh tidak mengharapkannya. Dia tampan, cerdas, lucu, sukses, aktif, kreatif, taat—dan saya berani mengatakan ini—seksi. Hampir semua yang saya inginkan dari calon suami ada padanya. ‘Hampir’ karena ada satu, hal kecil yang berpotensi menimbulkan sedikit tantangan.

Dia berasal dari latar belakang budaya yang berbeda dengan saya.

Tapi hei, kami berdua muslim, kami berdua kurang lebih mempercayai hal-hal yang sama, memegang prinsip yang sama, menginginkan hal yang sama dalam kehidupan. Banyak sekali orang dari latar budaya yang berbeda—bahkan agama yang berbeda—menikah. Seberapa sulit sih, menikahi pria impian saya?

 

Mama atau Saya?

Ternyata, tantangan datang lebih cepat dari yang saya duga. Ibunya, yang meskipun baik hati, merasa ngeri pada prospek anak laki-lakinya menikahi seseorang dari kota yang berbeda, apalagi negara berbeda.

Pada awalnya saya sangat marah. Saya tidak percaya saya ditolak karena aksen saya, paspor saya, pilihan makanan kesukaan saya. Dia bahkan belum pernah bertemu saya, berhubung saya berada di Dubai dan dia berada di sebuah kota antah berantah kecil di Levant, sebuah wilayah negara di Mediterania timur. Dia menilai saya bahkan sebelum dia mengenal saya, dan itu menyakitkan. Saya pikir saya adalah gadis impian setiap ibu mertua—sopan, pekerja keras, cerdas, lucu, baik hati, ramah, menarik. Tapi sebaik apa pun saya, itu jelas tidak cukup baginya.

Saya melampiaskan rasa frustrasi saya pada Mr Maybe, menuduhnya lemah, pengecut, anak mama. Dia bilang dia tidak bisa menolak keinginan ibunya dan tidak bisa menikah tanpa restunya, tapi jika saya memberinya waktu, ia bisa membujuk ibunya untuk menerima saya.

Saya telah mendengar begitu banyak cerita horor perempuan yang menunggu sampai ibu si pria bisa menerimanya. Saya tidak mau menjadi salah satu dari mereka. Intinya saya bilang kepadanya bahwa saya tidak akan menunggu hal itu terjadi.

Namun, salut kepada Mr Maybe. Butuh beberapa bulan, tapi kata-katanya benar, ia membujuk mamanya untuk menyadari betapa mengagumkan saya (saya suka berpikir begitulah kenyataannya) dan merestui kami dengan persetujuannya.

Begitu keras usaha kami untuk menikah dalam tahun yang sama sejak bertemu, tapi situasinya tampak menjanjikan.

 

Mr Keren Ternyata Mengkhawatirkan

Meskipun Mama tampaknya telah menerima saya, semangat saya sedikit melempem dan saya agak trauma. Saya yakin bahwa ia selamanya akan melihat saya sebagai perempuan nakal yang menyihir anaknya untuk menentang keinginannya. Pikiran-pikiran seperti apakah kami cocok satu sama lain, apakah dia bisa bergaul dengan teman-teman saya atau apakah dia akan memahami selera humor saya yang sangat Inggris dan sangat London mulai bercokol di pikiran saya. Tiba-tiba, saya tidak yakin saya cukup kuat untuk membangun jembatan tersebut.

Dia kemudian memutuskan untuk menjatuhkan ‘bom air’ terbesar bagi saya—lebih buruk dari penolakan ibunya. Jika sebelumnya semangat saya melempem, kini positif basah kuyup. Dia tidak ingin tinggal di Dubai atau London di masa depan, katanya. Dia ingin pindah kembali ke kota antah berantah kecilnya di suatu tempat di Levant. Dia tidak tahu apakah ini akan terjadi dalam lima atau 20 tahun, tapi ini merupakan kemungkinan yang perlu saya ketahui sebelum hubungan kami semakin berkembang.

Mungkin saya bodoh, menganggap bahwa dua kota yang paling dinamis di dunia akan mengalahkan antah berantah. Jelas jiwa patriotiknya mengalir deras. Bagi saya yang berdarah campuran dan dibesarkan di Barat, perasaan itu benar-benar asing bagi saya. Saya tidak bisa berempati, tetapi saya tidak punya hak untuk merendahkannya.

Setelah pengungkapan itu, setiap perbedaan kecil di antara kami terasa membesar. Ketika kami bertemu di pagi hari, ia memutar Fairouz di mobil ketika saya ingin mendengarkan Coldplay. Ketika kami pergi keluar untuk makan malam dia memilih makanan Lebanon sementara saya ingin makan sushi. Ketika saya mengundangnya ke acara komedi, ia tidak datang karena ia tidak mengerti leluconnya dan si komedian berbicara terlalu cepat. Ini semua mungkin tampak sepele, tapi pada saat itu setiap hal terasa benar-benar besar. Akankah saya menghabiskan sisa hidup saya mendambakan hal-hal yang sudah biasa bagi saya tapi tidak bisa saya dapatkan?

Dan bagaimana dengan pindah ke Antah Berantah? Saya tidak akan punya teman atau keluarga di sana (ayolah, mari kita berpikir logis. Ipar bukan keluarga sebenarnya, kan? Tidak mungkin cinta mereka bentuk cinta tanpa pamrih). Ke mana saya akan berbelanja pakaian? Lupakan Prada, apakah mereka bahkan memiliki Zara? Bagaimana jika saya ingin crumpet untuk sarapan? Apakah saya akan menemukan Coco Pops di sana? Bagaimana jika saya ingin menghabiskan sore meringkuk di perpustakaan memilih-milih buku, atau jika saya ingin pergi berkaraoke dengan teman-teman? Oh ya, saya tidak akan punya teman di Antah Berantah, kan? Mereka tidak dapat berbicara bahasa Inggris dengan baik di sana. Saya ragu mereka akan memahami selera humor saya, gairah saya, tantangan saya, masalah saya.

Tapi sekali lagi, mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi. Berapa banyak ekspatriat berpikir mereka akan pindah ke suatu negara untuk sementara waktu dan kemudian akhirnya tinggal di sana selamanya? Akankah saya menghabiskan sisa hidup saya di limbo, menunggu saatnya saya mengepak tas saya dan pindah?

 

Mama Membuat Saya Lebih Dewasa

Saya sampai ke titik di mana saya mencintai orang ini tapi tidak tahu apakah saya bisa menyeberangi jembatan budaya dan begitu saja menerima dia dan ‘bagasi’nya.

Ibu menenangkan ketakutan saya. Dia bertemu kekasih saya dan langsung jatuh cinta padanya. Setelah hanya beberapa jam mengenalnya, ibu saya memeluknya, memuji dia, mengatakan dia berharap putra-putranya lebih seperti dia. Sikap positif ibu memberi saya semua validasi yang saya butuhkan. Tidak setiap hari kita bertemu dengan seorang pria yang memenuhi semua kriteria, tetapi juga yang disukai ibu dan saudara-saudara kita. Haruskah saya melepaskannya untuk kemungkinan yang barangkali tidak pernah menjadi kenyataan?

Butuh banyak doa, banyak menuliskan daftar baik dan buruknya, banyak berbaring gelisah sepanjang malam; pada akhirnya, saya memutuskan untuk menjalaninya. Jika tidak, saya tahu saya akan menghabiskan sisa hidup saya bertanya-tanya: bagaimana jika Antah Berantah ternyata tidak seburuk itu?

 

Leave a Reply
<Modest Style