Modest Style

Media AS Kobarkan Kebencian Terhadap Muslim

,

Amani Alkhat mengamati ketidakseimbangan dalam liputan-liputan berita di Amerika dan kecenderungan mereka untuk langsung menyalahkan Islam alih-alih meninjau faktor-faktor lain.

Boston Slowly Opens Boylston Street To Business Owners And Residents
Saya ragu-ragu untuk melakukan perjalanan rutin saya ke New York minggu lalu karena saya takut diserang lantaran saya berkerudung.

Ini adalah ketakutan yang normal bagi saya. Bahkan, saya mengidap fobia ringan naik kereta bawah tanah setelah seorang wanita mendorong seorang pria Hindu ke rel di jalur kereta yang tengah datang melaju karena dia pikir pria itu seorang muslim. Tampaknya wanita tersebut membenci semua orang Islam, karena rupanya dalam pikirannya semua muslim bertanggung jawab atas insiden 9/11.

Kecemasan saya semakin meningkat di tengah hiruk-pikuk media menyusul terungkapnya para tersangka pengeboman Boston yang berasal dari Chechnya dan hubungan mereka dengan Islam. Sekarang, sebagian orang Amerika yang bahkan belum pernah mendengar tentang Chechnya kini merasa paham betul akan pandangan tentang ‘hubungan antara ekstremisme Islam dan Chechnya yang terbukti dengan jelas.’

Bahkan sebelum kita tahu para tersangka berdarah Chechnya, media terlalu cepat berasumsi bahwa pelakunya adalah muslim. Segerombolan peserta maraton menangkap seorang pria Saudi karena, yah, ia berwajah Arab. Sebuah pesawat yang hendak meninggalkan Boston kembali ke landasannya karena dua penumpang—yang bahkan tidak duduk berdampingan—terdengar berbicara dalam bahasa Arab (yang tentu saja merupakan bahasa terorisme, menurut apa pun program TV yang tak sengaja Anda tonton malam-malam.) Berita-berita merilis gambar orang-orang berkulit cokelat sebagai ‘tersangka’ karena figur-figur tersebut sesuai dengan citra teroris, yang terbentuk dari satu dekade liputan media-media besar. Dengan tindakan itu mereka menghancurkan kehidupan orang-orang yang tidak bersalah—dan kehidupan orang-orang yang tampangnya mirip teroris.

Dan yang mengejutkan, beberapa hari setelah pengeboman itu seorang wanita Boston yang berkerudung diserang hanya karena dia adalah seorang muslim.

Ketika saya pertama kali mulai bekerja sebagai satu-satunya wanita muslim berkerudung di kantor saya, saya berpikir bahwa saya akhirnya akan membuat semacam terobosan ke media yang akan membantu saya mengubah cara Islam dipersepsi dan dicitrakan. Itulah mengapa pagi ini saya memaksakan diri untuk berjuang melawan ketakutan saya akan kekerasan rasisme Amerika dan berangkat ke kantor—dengan naik kereta bawah tanah, penjagaan ketat polisi New York dan semuanya. Kemudian saya tiba di meja saya, dan, tak lama setelah saya mulai membaca berita-berita islamofobia tentang pengeboman Boston yang terlewat selama perjalanan ke kantor, saya ‘diserbu’ pertanyaan.

‘Hei, bisakah kau periksa ayat-ayat Al-Qur’an ini dan jelaskan padaku apakah ayat-ayat ini mengungkapkan alasan mengapa pengebom Boston melakukan perbuatan mereka?’

Tentu, tapi saya mungkin tidak perlu ayat-ayat Al-Qur’an. Jika Anda ingin tahu mengapa pengebom Boston melakukannya, maka saya, seorang wanita muslim yang taat, akan mengungkapkan rahasia pelik yang disembunyikan rapat-rapat tentang alasan mereka melakukannya.

Itu karena mereka sakit jiwa.

Jika seseorang sakit jiwa maka ia akan menemukan sesuatu dalam semua hal untuk mendasari tindakannya. Dia mungkin yakin bahwa ia tengah melakukan ‘jihad’ yang sinting dan khayali melawan Barat. Atau dia sedang melindungi demokrasi Amerika dengan membunuh penduduk sipil di negara-negara lain.

Perbedaan utama antara terorisme dan penyakit jiwa adalah jenis perhatian yang mereka dapat dari media.

Tentu saja, ketika pelaku pembunuhan massal berkulit putih dan kemungkinan beragama Kristen, media segera mulai menyelidiki latar belakang si pelaku, pola asuhnya, kepribadiannya, kondisi mentalnya, dan setiap peristiwa trauma hidup lainnya yang mungkin telah memengaruhi jiwanya. Liputan sering mengarah pada kesimpulan akhir bahwa ‘mentalnya tidak stabil’.

Tapi tidak bakal sama ceritanya kalau pelakunya muslim. Hampir selalu penyebabnya karena Islam. Bahkan, agama si pelaku tampaknya menjadi relevan hanya jika dia muslim. Pengalaman menunjukkan bahwa ketika seorang muslim melakukan kejahatan, berapa pun berat atau ringannya kejahatan itu, faktor agamanya jauh lebih mungkin diungkit dan disalahkan atas perbuatannya. Tapi penjelasan yang lebih masuk akal adalah bahwa dia hanya penderita sakit jiwa yang kebetulan beragama Islam.

Jika kejahatan hanya disebut sebagai terorisme ketika dilakukan oleh muslim, dan jika kita hanya akan mendengar tentang agama pelaku ketika mereka ternyata muslim, maka jelas kita akan menganggap semua teroris adalah muslim dan, lebih buruk lagi, bahwa semua muslim adalah teroris.

Kita tak kunjung memahami betapa luas terorisme sebenarnya, dan seberapa sering hal ini dilakukan di seluruh dunia. Kata kuncinya: terorisme terjadi lebih sering dari yang kita pikirkan.

Tak banyak pers yang melaporkan bahwa dua hari setelah serangan Boston terjadi serangan pesawat tak berawak milik Amerika di Pakistan yang menewaskan lima orang. Atau bahwa sedikitnya 11 anak tewas akibat serangan pesawat tak berawak milik Amerika di Afghanistan bulan lalu. Atau bahwa program serangan pesawat tak berawak kita sedang dipertimbangkan untuk diluncurkan ke Suriah. Media kita melakukan pekerjaan yang sangat hebat dalam menidakmanusiawikan Arab dan muslim—dan memutuskan apa yang disebut sebagai ‘terorisme’—sehingga banyak masyarakat tampaknya tidak peduli.

Untuk para muslim Amerika—atau siapa saja yang oleh orang bodoh keliru disangka sebagai muslim, seperti saudara kita penganut Sikh atau Hindu—pesawat tak berawak sosial telah jatuh di jalanan Amerika sejak 9/11, dan mereka ditargetkan menyerang umat Islam. Entah kita dikucilkan karena pakaian kita, diserang secara verbal atau fisik, atau langsung dibunuh, liputan media, propaganda ketakutan dan rasisme membidik kita satu demi satu.

Yang saya inginkan hanyalah tiba di kantor dengan selamat.

Leave a Reply
<Modest Style