Modest Style

McDonald’s: Cepat Saji, Tetapi…

,

Artikel berikut merupakan pandangan pribadi penulis.

Sya Taha menelaah sejumlah ayat yang relevan dalam Al-Quran demi mengkaji seberapa halal sebenarnya produk dari raksasa restoran cepat saji tersebut.

AFP Photo / Fred Tanneau
AFP Photo / Fred Tanneau

Saya dibesarkan di Singapura, di mana komunitas minoritas muslimnya menikmati sejumlah manfaat dari Islamic Religious Authority of Singapore (lebih dikenal sebagai Majlis Ugama Islam Singapura atau MUIS). Institusi semi-negeri ini mengatur pengumpulan dan penyaluran zakat (pajak sosial), serta menentukan waktu salat dan tanggal-tanggal penting, semisal awal dan akhir bulan Ramadan. Salah satu tugas mereka adalah memastikan restoran-restoran yang menyediakan makanan halal telah menaati ketentuan sebelum mendapat sertifikasi. Mereka juga mengesahkan pemasangan stiker hijau-bundar bercap ‘halal’ pada produk makanan yang sudah mematuhi standarisasi halal (sesuai dengan pedoman halal MUIS terhadap makanan pada umumnya, dan daging pada khususnya).

Stiker hijau ini berperan penting dalam membantu umat muslim memilih makanan sehari-hari. Beberapa pemeluk Islam yang saya kenal merasa waswas untuk makan di restoran vegetarian Cina. Bukan karena sebagian bumbu vegetarian mungkin tidak halal, tapi karena pemiliknya tidak mengajukan permohonan sertifikasi resmi sehingga restorannya tidak memasang stiker halal.

Sertifikasi ini membuat pemilihan makanan menjadi jauh lebih mudah saat di Singapura. Namun, di banyak negara lain yang tidak menerapkan mekanisme sertifikasi, kaum muslim harus mengambil pilihan dan keputusan sendiri berdasarkan pengetahuan dan kata hatinya. Mungkin karena perusahaan makanan cepat saji terkesan akrab dan mudah didapat, ditambah dengan kekhawatiran terhadap makanan lain yang belum jelas halal/tidaknya, saya tahu banyak yang akan mencari logo keemasan nan familier McDonald’s ketika berada di luar negeri. Dalam usaha menghindari daging yang tidak halal, muslim yang bersantap di sana barangkali hanya akan memilih kentang goreng dan Filet-o-fish. Sementara itu, mereka lupa terhadap jenis makanan alami yang dimasak dalam cara-cara yang baik: pasta, nasi, kentang, ikan, sayur, buah, dan sebagainya.

Akan tetapi, stiker hijau pada restoran ternyata tidak selalu menjamin kehalalan hidangan yang disajikan. McDonald’s adalah contoh utama.

Dalam Al-Quran, makanan dan minuman menjadi bagian dari berkah Allah kepada umat manusia. Pilihan terhadap apa pun di bumi yang baik untuk dikonsumsi telah Allah tunjukkan pada kita. Ada tiga tema yang sering diulang tentang makanan dan minuman yang baik versi Quran: a) kuantitas, b) kualitas, dan c) pilihan etis. Umumnya, banyak aspek dari hidangan cepat saji—dengan McDonald’s sebagai contoh—tidak mengikuti panduan perihal makanan dan minuman yang dianjurkan Al-Quran.

Kuantitas

Quran telah memberikan contoh makanan tulen seperti buah ‘beragam rasa’ (misalnya zaitun, delima) dan daging (6:141). Bersama ayat lain yang juga menyinggung makanan dan minuman (7:31), sikap berlebihan (tus’rifu) dalam urusan makanan diibaratkan dengan pelanggaran terhadap hukum-hukum Allah.

Hal ini disebabkan tubuh kita memiliki sistem alami yang khas: kecuali penyakit genetik, kesehatan diperoleh dari mengatur pola makan dan berolahraga; penyakit dihasilkan dari pola makan buruk dan bermalas-malasan sepanjang hari. Oleh karena itu, makan berlebihan atau tidak terkontrol menyalahi hukum Allah terhadap kesejahteraan fisik.

Sekarang semakin banyak negara mengeluarkan undang-undang yang memaksa McDonald’s mencantumkan keterangan gizi pada produk mereka. Kini tidak ada lagi alasan untuk tidak mengetahui kandungan lemak jenuh, garam dan gula yang tinggi pada menu McDonald’s. Satu porsi kentang goreng ukuran medium saja sudah hampir memenuhi sepertiga dari rata-rata kebutuhan lemak harian setiap orang. Satu cup Milo dingin isi 500 ml memiliki kandungan gula murni yang sangat besar: 600 kalori.

Meski masih banyak orang yang mau menyantap seluruh menu McDonald’s, efek buruknya bisa diperkecil  dengan cara membatasi konsumsi menjadi 1-2 menu sekali makan, dan satu kali kunjungan untuk beberapa minggu/bulan. Saya sendiri sudah lebih dari tiga tahun tidak makan di sana.

Kualitas

Dalam Al-Quran, halal berarti sesuatu yang diizinkan atau sah. Jika berhubungan dengan makanan dan minuman, istilah toyyib, yang bermakna baik, bersih, atau suci, digunakan untuk menjelaskan jenis makanan yang dianggap sah (2:172, 20:81). Surat Al-Maidah (artinya ‘Jamuan (Hidangan)’) menganjurkan apa pun yang toyyib itu diizinkan dan tidak boleh dilarang (5:5, 5:87). Oleh sebab itu, makanan yang tidak bersih, tidak suci atau buruk dalam cara apa pun bagi tubuh dan pikiran tidak boleh termasuk dalam daftar makanan kita.

Secara khusus saya ingin menyoroti daging yang disajikan McDonald’s: daging sapi bundar, nugget ayam, dan fillet ikan goreng. Walaupun label ‘100% daging sapi’ terdengar sehat, sebenarnya artinya mencakup bagian mana pun dari sapi—termasuk tendon dan serabut otot, yang direndam lebih dulu dalam amonium hidroksida sebelum diolah dan dibentuk.

Sekalipun daging sapi itu disembelih secara ‘halal’ (dibuktikan dengan sertifikasi), kriteria yang diwajibkan sering kali hanya bersifat ritualistik, sekadar memastikan proses penyembelihannya tanpa mempertimbangkan proses pemeliharaan—yang anehnya, kadang-kadang mirip dengan produksi daging non-halal.

Nugget ayam mengandung lebih dari 20 bahan, termasuk beragam zat kimia dan aditif yang bahkan tidak kita yakini keamanannya. Mungkin fillet ikan terlihat seperti ikan asli, padahal dibuat dari kombinasi ikan putih (whitefish) hasil eksploitasi alam yang murah dan hambar rasanya. Supaya terasa lebih enak, sejumlah unsur kimia pun ditambahkan.

Lega juga rasanya melihat konsumen McDonald’s diberi opsi untuk menambahkan selada, tomat, jagung dan makanan asli lain ke dalam menu yang mereka pilih. Akan tetapi, menu dagingnya telah melalui berbagai macam proses pengolahan dan rasanya tidak sebanding dengan daging sapi atau ikan segar yang dijual di pasar.

Pilihan Etis

Semua tindakan kita memiliki konsekuensi. Saat makan atau minum, Al-Quran menyuruh kita melakukan kebaikan (23:51) daripada perusakan (2:60) atau penindasan (20:81). Hal ini menandakan betapa pentingnya sumber makanan dan minuman—tidak boleh menyebabkan polusi atau musnahnya habitat alami, dan tidak boleh dibuat oleh pekerja yang dieksploitasi atau digaji di bawah standar.

Aspek yang tersembunyi dari bisnis McDonald’s adalah rantai suplainya. Ketika Anda membeli produk sebuah perusahaan, Anda mendukung tindakan mereka, karena Anda berkontribusi terhadap keuntungan mereka. Selama sepuluh tahun terakhir telah bermunculan kelompok-kelompok aktivis yang menyoroti masalah pada rantai suplai McDonald’s: daging dari sapi yang diternakkan di bekas daerah hutan hujan di Brazil, serta gula, bahan pengisi daging dan minyak yang dibuat dari jagung hasil industri dan monokultur bersubsidi dari Amerika Serikat.

Gaji karyawan McDonald’s terbilang yang paling rendah dari semua restoran cepat saji di Singapura, sekitar $3.50 (Rp 28 ribu) hingga $4.00 (Rp 31 ribu) per jam. Prioritas terhadap karyawan berusia muda merupakan diskriminasi bagi karyawan berumur lanjut, padahal anak-anak muda ini dijebak dalam pekerjaan bergaji di bawah standar tanpa jaminan kesehatan. Masyarakat dengan bergairah menyambut produk ‘lokal’ semacam ‘Prosperity Burger’ yang dirilis untuk menyambut Tahun Baru Cina. Jangan-jangan mereka lupa produk itu menjauhkan mereka dari makanan tradisional yang lebih sehat.

Sekarang Bagaimana?

Stiker halal berwarna hijau di hampir semua produk, termasuk sayuran dan susu kedelai, dikeluarkan dengan maksud baik, yaitu memudahkan muslim dalam mengambil keputusan. Tetapi, stiker yang sama juga menghambat kita dalam menentukan pilihan pribadi berdasarkan pengetahuan, bimbingan suara hati dan prinsip Al-Quran yang mudah dipahami.

Halal bukan sekadar tidak mengandung daging babi atau memenuhi ritual penyembelihan. Kecuali dalam keadaan darurat, halal mesti meliputi konsep toyyib, keadilan serta perlakuan yang beradab terhadap para pekerja dan bumi kita.

Bagi yang terbiasa membaca label pada produk makanan, informasi ‘organik’, ‘fair trade (perdagangan yang adil)’, atau ‘sustainable (lestari)’ rasanya lebih berguna daripada stiker ‘halal’. Kita bisa memulainya dengan memilih makanan sejati dari kebudayaan tradisional sendiri yang dikenal kakek-nenek kita, dimasak manusia, dan dinikmati dengan perasaan bersyukur.

Artikel ini ditulis berdasarkan dua tulisan di blog karya penulis

Leave a Reply
<Modest Style