Modest Style

Masa Lalu Hantui Area Kumuh Casablanca

,
Maroc-attentats-mohammed VI
Kawasan Sidi Moumen di Casablanca, Maroko. AFP PHOTO / Abdelhak Senna

SIDI Moumen, Maroko, 15 Mei 2013. Oleh Simon Martelli (AFP) – ‘Tidak ada air, tidak ada pekerjaan, dan tidak ada masa depan. Tidak ada apa-apa di sini,’ kata Hamid dengan getir sambil berjalan melalui daerah kumuh luas Sidi Moumen di Casablanca yang menjadi terkenal 10 tahun yang lalu.

Prospek suram bukan hal yang baru bagi penduduk kota Maroko yang terkenal kumuh itu.

Tapi kesuraman itu menggayut berat di sini karena Sidi Moumen-lah tempat asal pengebom bunuh diri yang menyerang pada malam hari tanggal 16 Mei 2003 dan menghancurkan citra stabilitas Maroko yang selama ini dipuji.

Marginalisasi dipandang oleh banyak orang sebagai alasan utama radikalisasi 12 pemuda dari lingkungan kotor dan miskin ini yang meledakkan diri mereka di lokasi yang berbeda di berbagai penjuru kota, menewaskan 33 orang.

Target mereka termasuk sebuah hotel, sebuah restoran Italia, sebuah pusat komunitas dan pemakaman Yahudi, dan konsulat Belgia.

‘Perubahan yang kami inginkan adalah proyek yang menciptakan lapangan kerja bagi pemuda-pemuda di sini… sehingga mereka tidak mengambil jalan yang keliru,’ papar Hamid, 42, ayah penganggur dari anak kembar, yang berbagi rumah daruratnya yang sempit dengan delapan anggota keluarga.

Daerah Rahamna tempat tinggalnya adalah kawasan padat berupa jalan-jalan sempit yang silang-menyilang dengan tali jemuran serta rumah-rumah reyot terbuat dari batako dan beratap seng. Sapi dan ayam mencari makanan di tumpukan sampah bau di dekatnya.

Boubker Mazoz, pimpinan sebuah pusat kebudayaan yang didirikan pada 2007, berbicara dengan penuh semangat tentang kebutuhan untuk mengintegrasikan pemuda dalam masyarakat, untuk meredakan rasa frustrasi dan kemarahan yang masih dirasakan oleh banyak dari mereka.

‘Dalam setiap lingkungan ada orang baik dan orang jahat. Hanya kebetulan saja daerah ini benar-benar terkucilkan, dan masyarakatnya diabaikan sehingga mudah terjebak oleh ekstremis,’ katanya.

‘Kita harus melakukan sesuatu tentang hal itu.’

Hingga sekarang telah terjadi beberapa kali aksi pengeboman, yang terkenal dilakukan oleh pemuda Islam lain dari Sidi Moumen yang meledakkan dirinya di sebuah warung Internet pada tahun 2007, dan dua tahun yang lalu ketika sebuah bom mengoyak restoran yang ramai di Marrakesh menewaskan 17 orang.

Namun serangan 2003 adalah yang terburuk hingga kini dan menyebabkan penduduk Maroko trauma, memicu kesedihan di negara yang tergantung pada pariwisata dan membanggakan citra tolerannya ini.

Dan teror itu masih menghantui pikiran semua orang di seluruh negeri.

Tahun lalu, film Maroko yang berjudul God’s Horses menjadi sensasi karena menuturkan kisah dua bersaudara yang tumbuh di lingkungan kumuh ini, tanpa memiliki tujuan hidup, yang bergabung dengan pengebom.

Masalah yang membusuk

Untuk mencegah lebih banyak pemuda jatuh ke dalam perangkap ‘jihad’, pemerintah meluncurkan serangkaian gerakan inisiatif yang bertujuan mengubah Sidi Moumen, serta tindakan keras keamanan yang menangkap ribuan orang, dan memperketat pengawasannya terhadap masjid di seluruh negeri.

‘Antara tahun 2003 sampai 2009, banyak perkumpulan dibentuk untuk mempromosikan pengembangan lingkungan,’ kata Hassan, 36, seorang aktivis komunitas yang tak punya pekerjaan.

‘Tampaknya semua berjalan ke arah yang benar. Tapi ternyata sebagian besar perkumpulan itu seperti pencitraan. Tidak ada yang nyata. Mereka hanya mengambil uangnya dan tidak melakukan apa pun.

‘Tahun 2011, (Raja) Mohammed VI mengatakan ‘Saya tidak ingin melihat rakyat tinggal di daerah kumuh.’ Tapi sekarang sudah tahun 2013 dan daerah kumuh masih bertumbuh… Janji  perumahan hanya kata-kata.’

Dewasa ini, Rahamna dikelilingi oleh crane dan blok-blok apartemen setengah selesai, pertanda bahwa pemerintah sedang mencoba menepati kebijakan perumahan kembali dari sekitar 400.000 penduduk Sidi Moumen.

Tetapi bahkan setelah 10 tahun, mereka masih berjuang untuk melepaskan diri dari stigma sebuah daerah yang oleh sebagian orang di Casablanca masih menyebutnya sebagai ‘surga teroris.’

Mohamed Darif, seorang pakar gerakan Islam di Maroko, meyakini bahwa peran kemiskinan yang mendorong pengebom Sidi Moumen mengambil jalan ‘jihad’ seringkali dilebih-lebihkan.

‘Sangat mudah bagi jaringan-jaringan asing untuk merekrut dan memanipulasi pemuda-pemuda yang telah menganut indoktrinasi yang mendorong mereka untuk melaksanakan serangan macam itu. Tapi saya pikir kasus mereka tidak saling berhubungan,’ katanya kepada AFP.

Meski begitu, ia memperingatkan bahwa selain kesediaan nyata dari pihak berwenang untuk memperbaiki kondisi hidup di daerah kumuh, ini adalah tugas besar bagi sebuah negara yang, menurutnya, sama sekali tidak punya sarana untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya.

‘Makin lama diabaikan, makin tinggi tingkat kebutuhan mereka’

Sementara itu, meskipun terisolasi dan tidak aktif seperti di negara tetangga Aljazair, militan Islam masih menjadi ancaman nyata bagi Maroko, menurut pihak berwenang, yang mengatakan 123 sel-sel teroris telah dibongkar sejak tahun 2003.

Kementerian dalam negeri mengatakan dua kelompok yang tertangkap awal bulan ini di provinsi utara Nador merencanakan untuk melakukan serangan di kerajaan itu.

Leave a Reply
<Modest Style