Modest Style

Malala: “Kirimi Kami Buku, Bukan Senjata”

,
Malala Yousafzai menyapa hadirin pada 17 September 2013. AFP Photo/Peter Muhly
Malala Yousafzai menyapa hadirin pada 17 September 2013. AFP Photo/Peter Muhly

PBB, 26 September 2013. Oleh Brigitte Dusseau (AFP) – Dengan kematangan dan ketenangan yang melampaui usianya yang belia, Malala Yousafzai, remaja Pakistan yang ditembak oleh Taliban karena memperjuangkan pendidikan anak-anak perempuan, berdiri di hadapan para pemimpin dunia pada hari Rabu dan meminta buku, bukan senjata.

‘Daripada mengirim senjata, daripada mengirim tank ke Afghanistan dan semua negara yang dilanda terorisme, kirimlah buku,’ pintanya.

‘Daripada mengirim tank, kirimlah pena,’ desaknya dalam penampilan yang sederhana dengan kerudung menutupi rambut saat ia mengambil bagian dalam ulang tahun pertama Global Education First Initiative di PBB di New York.

Pada Oktober tahun lalu, Malala ditembak di kepala oleh seorang pria Taliban bersenjata saat ia sedang dalam perjalanan ke sekolah menumpang busnya yang biasa dalam serangan yang mengundang kecaman dari seluruh dunia.

Terluka parah dan nyaris mati, gadis sekolah Pakistan ini diterbangkan ke Inggris untuk menjalani operasi. Dia kembali ke sekolah di Inggris Maret lalu, setelah pulih dari luka-lukanya.

Sekarang Malala menjadi penyokong global hak semua anak, terutama anak perempuan, untuk mendapat pendidikan yang layak.

‘Daripada mengirim tentara, kirimlah guru,’ Malala memohon pada acara yang dihadiri oleh pemenang hadiah Nobel Perdamaian Desmond Tutu, Perdana Menteri Bangladesh Sheikh Hasina, dan Presiden Kroasia Ivo Josipovic.

Menurut PBB, sekitar 57 juta anak usia sekolah dasar di seluruh dunia tidak bisa menikmati pendidikan — dan 52 persen dari mereka adalah perempuan.

‘Impian saya adalah untuk melihat setiap anak terdidik,’ kata Malala pada pertemuan itu, meniru tema salah satu pahlawannya, Martin Luther King. ‘Impian saya adalah untuk melihat kesetaraan bagi setiap manusia.’

‘Impian saya adalah untuk melihat perdamaian di berbagai pelosok dunia, di Nigeria, di Suriah, di Pakistan, di Afghanistan.’

Ini bukanlah kunjungan pertama Malala ke gedung PBB di New York. Pada bulan Juli tahun ini, ia menerima tepuk tangan sambil berdiri untuk pidato sidang umum di mana dia bersumpah dia tidak akan bisa dibungkam.

‘Kita ingin perempuan mandiri… dan memiliki hak yang sama seperti laki-laki,’ kata Malala pada hari Rabu lalu.

‘Kita percaya pada kesetaraan dan memberikan kesetaraan bagi perempuan adalah keadilan,’ tambahnya, yang disusul tepuk tangan membahana. ‘Kita di sini untuk menemukan solusi untuk semua masalah yang kita hadapi.’

Sekjen PBB Ban Ki-moon memuji remaja ini atas ‘keberanian dan kemenangan’-nya yang katanya ‘telah menginspirasi jutaan orang di seluruh dunia.’

Keberanian Malala telah memberinya berbagai penghargaan termasuk penghargaan tertinggi dari Amnesty International, yang mengumumkan ia akan digelari Ambassador of Conscience (Duta Nurani).

Majalah Time juga mencantumkannya sebagai salah satu dari 100 orang paling berpengaruh di dunia, dan dia baru saja dinominasikan untuk Sakharov Prize yang bergengsi dari Parlemen Eropa.

Bulan depan, bukunya yang berjudul ‘I am Malala’ dijadwalkan akan terbit dan dia juga telah meluncurkan sebuah organisasi yang disebut ‘Malala Fund.’

Leave a Reply
<Modest Style