Modest Style

Makna Kata ‘Muslim’

,

Alayna Ahmad mengeksplorasi akar dari istilah tersebut, bagaimana perubahannya selama berabad-abad waktu, dan mengapa sangat penting untuk memahami maknanya yang mendalam dalam kehidupan saat ini.

ina makana Muslim

 

Dunia dihuni oleh 1,6 miliar umat Muslim, sebuah angka yang terus bertumbuh setiap hari. Kebanyakan orang akan mengakui bahwa makna kata ‘Muslim’, yang muncul dalam Al Quran sebanyak 90 kali*, berarti seseorang yang ‘tunduk’ atau ‘berikrar’ kepada Tuhan. Hal ini mengindikasikan makna kata tersebut dapat mencakup siapa pun mereka yang percaya pada Tuhan. Jika ini yang dimaksud oleh Allah, lalu mengapa kata ‘Muslim’ menjadi begitu khusus sehingga saat ini secara luas ditujukan hanya bagi penganut Islam?

Jika ada satu hal yang saya pahami selama menjadi mahasiswa di bidang agama, adalah jangan ikut-ikutan menjadi penganut buta (taklid) kepada imam, ustaz atau syekh mana pun. Ada banyak perdebatan di kalangan cendekiawan atas makna dari kata ‘Muslim’ dalam periode kenabian dan kata ‘Muslim’ saat ini. Sehingga, sangat penting bahwa sebelum membentuk sebuah opini, kita kembali kepada hal fundemental (Al Quran dan Hadis) dan mengevaluasi ulang bukti-bukti dengan menempatkan sumber-sumbernya pada konteks historisnya.

Kebanyakan cendekiawan Islam sependapat bahwa ‘Muslim’ adalah seseorang yang mengucapkan kalimat Syahadat, (bagian pertama) lā ilāha ‘illā l-Lāh, (bagian kedua) Muhammadun rasūlu l-Lāh. Terjemahannya, ‘Tidak ada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.’ Atas kalimat Syahadat ini, kaum Syiah menambahkan, wa ’Aliyyun waliyyu l-Lāh, ‘dan Ali Amirul Mu’minin adalah wali Allah’.

Akan tetapi, sepanjang masa hidup Nabi Muhammad, kalimat Syahadat hanya terdiri dari satu kalimat, lā ’ilāha ’illā l-Lāh. Bagian kedua dari Syahadat diperkenalkan setelah wafatnya Muhammad untuk membedakan umat Muslim dari para penganut keyakinan lain yang ber-Tuhan satu, seperti Yahudi dan Nasrani, yang disebut dalam Al Quran sebagai mu’min.

Yang cukup menarik, bagian kedua dari Syahadat tidak menyebutkan, Muhammad adalah utusan ‘terakhir’ Allah, tapi hanya menyebutkan bahwa dia adalah seorang utusan. Oleh karenanya, saya bisa saja mengatakan ‘Tidak ada Tuhan selain Allah dan Yesus adalah utusan-Nya’ dan tetap dianggap sebagai seorang Muslim. Hal ini mungkin provokatif dan tidak benar secara politik, tapi sudah pasti ini tidak salah secara Islam. Saya bukan sedang mempersekutukan Tuhan dan Islam memang menyatakan bahwa Yesus (Isa) adalah salah satu dari para Nabi.

Salah satu contoh umat Muslim yang telah memakai Syahadat versi terakhir ini adalah para Sufi. Mereka sangat menghormati Isa dan kehidupannya yang zahid. Lebih dari itu, mereka memandangnya sebagai seorang Nabi untuk kaum di zamannya. Dalam bukunya A History of God: The 4,000-Year Quest of Judaism, Christianity and Islam, penulis Karen Armstrong menulis, ‘Para sufi pada umumnya berpegang teguh pada visi Al Quran tentang kesatuan dari seluruh agama yang dipandu kebenaran.’

Dalam Hadis yang diambil dari Sahih Al-Bukhari, Nabi Muhammad menyebutkan:

Jika seseorang bersaksi bahwa tidak ada yang patut disembah kecuali Allah saja tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya, dan bahwa Isa adalah hamba-Allah dan rasul-Nya serta kalimat-Nya yang Dia berikan atas Maryam dan Ruh-Nya, dan bahwa surga itu ada, dan neraka itu ada, Allah akan memasukkannya ke dalam surga atas amal baik yang telah dia lakukan meskipun amal baik itu hanya sedikit.

Ubada menambahkan, ‘seseorang seperti itu dapat memasuki surga lewat salah satu dari delapan pintu yang dia sukai.’

Hadis ini dengan demikian menunjukkan bahwa Syahadat haruslah terdiri dari: ‘Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan Allah, Isa adalah hamba, kalimat, dan ruh-Nya, serta anak dari hamba Maryam. Dan saya bersaksi bahwa surga dan neraka adalah benar adanya.’

Poin lain yang layak diungkapkan adalah bahwa konsep dari ‘Muslim’ dan ‘Islam’ sebagaimana yang kita pahami saat ini bisa jadi asing bagi Nabi Muhammad. Terminologi ini di dalam Al Quran tidak diasosiasikan dengan suatu agama tertentu. Professor Ali Asani dari Universitas Harvard berargumen, ‘Al Quran menegaskan inti pengajaran yang ditunjukkan dalam Syahadat (keesaan Tuhan dan kenabian Muhammad), tidak secara spesifik menyatakan Syahadat sebagai formula keimanan dari sebuah agama tertentu bernama “Islam”.’

Al Quran merujuk banyak Nabi utusan Tuhan yang hidup sebelum Muhammad dan juga mengungkapkan pengajaran mereka, yang utamanya memandu kaumnya untuk menyembah Tuhan. Para Nabi ini, seperti Musa dan Isa, juga diasosiasikan dengan agama-agama yang berbeda. Bagaimanapun,  Al Quran menyebutkan bahwa Muhammad tidak mendakwahkan sebuah pesan baru, namun menegaskan pesan yang sebelumnya dibawa oleh para Nabi terdahulu.

Katakanlah (Muhammad): ‘Kami beriman kepada Allah, dan kepada apa yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepada Ibrahim, Ismail, Ishak dan Ya’kub dan anak cucunya, dan apa yang diberikan kepada Musa dan Isa, dan para nabi, dari Tuhan mereka. Kami juga tidak membeda-bedakan seorang pun dari mereka dan hanya kepada-Nya kami berserah diri. (Al Quran 3:84)

 

Ayat ini menegaskan bahwa para Nabi sebagai orang-orang yang berserah diri kepada kehendak Tuhan (Muslim). Lebih jauh, kisah para Nabi ini dalam Al Quran memperlihatkan kehidupan yang patut menjadi teladan bagi umat Muslim. Beberapa cendekiawan berpendapat ada 124.000 Nabi yang tersebar ke bangsa-bangsa berbeda di dunia, yang mengabarkan pesan yang sama tentang Tuhan yang esa. Hal ini bisa menandakan bahwa pengikut agama mana pun yang menyembah Tuhan yang esa (Yahudi, Kristiani, Hindu, dan Baha’i) dapat disebut sebagai Muslim. Oleh karenanya, terminologi Muslim dapat digunakan secara inklusif untuk menyertakan mereka yang bukan pengikut Muhammad.

Beberapa ilmuwan akan mendebat bahwa ada perbedaan antara Mu’min dan Muslim dalam Al Quran. Kata Mu’min dalam bahasa Arab secara harfiah bermakna ‘orang yang percaya’ – seseorang yang percaya bahwa Tuhan itu esa. Surat Al-Azhab (33:35) memberikan referensi untuk mendukung pendapat ini: ‘Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim, laki-laki dan perempuan mu’min, […] dan laki-laki dan perempuan yang banyak mengingat Allah – bagi mereka Allah telah menyediakan ampunan dan pahala yang besar.’ Hal ini menyiratkan bahwa semua Muslim adalah Mu’min namun tidak semua Mu’min adalah Muslim. Perhatikan bahwa kata ‘muslim’ dengan huruf ‘m’ kecil diterjemahkan dari bahasa Arab mengacu kepada seorang ‘penyembah’ Tuhan, sementara kata ‘Muslim’ dengan huruf ‘M’ besar kini mengacu kepada penganut Islam.

Kata ‘Muslim’ saat ini lantas diasosiasikan dengan identitas sosio-religius dan mungkin identitas politik. Terdapat banyak Hadis dan ayat dalam Al Quran yang mendukung keberagaman agama dan ‘larangan membeda-bedakan’ antarpara penganutnya. Seorang ilmuwan Muslim zaman dahulu, al-Tabiri (wafat 923) menafsirkan kata ‘Islam’ sebagai ‘penyerahan diri kepada Tuhan’, sebuah gagasan yang dapat diaplikasikan secara luas.

Interpretasi dari sejumlah ilmuwan era belakangan seperti Abdul Wahab dan Mawdudi jauh lebih rumit dan eksklusif. Ini disebabkan karena mereka memandang Al Quran lewat kacamata budaya mereka dengan tujuan untuk membangkitkan kembali dan mereformasi Islam, sebagaimana yang mereka pahami di masanya.

Jadi, Islam secara tradisional selalu merupakan agama yang inklusif, agama yang menghormati semua agama dan budaya lain. Sungguh memalukan ketika konsep Islami ini kemudian memudar bahkan hilang seiring zaman. Hanya lewat pengajaran atas pemahaman lama tentang keyakinan yang dapat menyadarkan kita dari ketidakpedulian dan menerima orang-orang sekitar sebagai bagian dari ‘kita’.

 

* Al Quran terjemahan Inggris versi Mohsin Khan

Leave a Reply
<Modest Style